www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 04 Oktober 2016

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (2)


Pindah bukan karena Faktor Uang Semata

Sukses beruntun dilakoni di Persebaya. Tapi, dia hanya bertahan semusim.
--
DI era 1977/1978, nama Hadi Ismanto cukup disegani. Dia dianggap sebagai salah satu penyerang terbaik Indonesia. Belum ada lagi nama Abdul Kadir yang terkenal punya akselerasi tinggi dari sisi lapangan.

Awalnya, Djoko Malis Mustafa dipandang sebelah mata. Apalagi, dia baru saja promosi dari kelompok junior.

Namun, saat diberi kepercayaan, lelaki yang suka memanjangkan jambangnya tersebut menjawabnya dengan tuntas. Dia selalu tampil gemilang.

Bahkan, saat final perserikatan melawan Persija Jakarta di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, pada 28 Januari 1978, Djoko menjadi penentu kemenangan Green Force, julukan Persija, dengan skor 4-3. Gol terakhir atau keempat kesebelasan asal Kota Pahlawan, julukan Persija, lahir dari kecerdikannya.
Djoko Malis mengawali karir di Persebaya

''Saya merebut bola dari pemain belakang Persija dan melepaskan tembakan dari jarak jauh. Kiper Persija Sudarno kaget dan tak menyangka saya melepaskan tembakan itu,'' kenang Djoko saat ditemui di rumahnya di pertengahan September.

Pemain Persebaya yang menjebol gawang Macan Kemayoran, julukan Persija, selain dia adalah Johy Fahamsyah (2 gol) dan Rudy Ketljes. Ini merupakan akhir penantian gelar Persebaya setelah 25 tahun.

Kali terakhir,  mereka menjadi juara pada 1952. Ketika itu, tim pujaan Bonek tersebut memakai nama Persibaya.

Penampilan gemilangnya ini membuat Djoko mulai dilirik banyak klub. Tapi, yang paling serius adalah Niac Mitra.

Klub tersebut baru saja berdiri di Surabaya setelah sebelumnya bernama Mitra dan mengikuti kompetisi internal Persebaya (sekarang Askot PSSI Surabaya). Mereka juga memproklamirkan diri mengikuti kompetisi semiprofesional, Galatama (Liga Sepak Bola Utama).

''Ada utusan Wenas (bos Niac Mitra) yang disuruh untuk mendekati saya. Dia pun melakukan pembicaraan,''.lanjut Djoko.

Hingga akhirnya, dia setuju dengan nilai yang ditawarkan kubu Niac. Hanya, Djoko menganggap  kepindahannya tersebut bukan karena faktor uang sebagai hal utama.

''Saya ingin merasakan kompetisi semi profesional. Banyaknya pemain perserikatan yang pindah Galatama juga menjad tantangan,'' jelas lelaki yang kini dikaruniai 3 anak tersebut. (*)

Kesuksesan Djoko Malis tak berhenti. Niac Mitra dibawa menjadi juara Galatama. Bukan hanya sekali. Baca selanjutnya di seri 3.(*) 






0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com