www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Minggu, 09 Oktober 2016

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (5)

Djoko Malis mengakhiri karir di Suryanaga


Bukan Lagi sebagai Pelatih, tapi Direktur Teknik

Dengan usia yang bertambah, Djoko Malis mulai mempersiapkan diri pensiun. Dunia yang masih berhubungan dengan sepak bola menjadi pilihan.
--
USIA Djoko Malis sudah di atas kepala tiga. Dia menyadari bahwa karir sepak bolanya sebagai pemain bakal habis.

Lelaki yang suka memanjangkan cambangnya ini pun memilih pulang ke Surabaya. Itu terjadi saat rekan-rekannya di Yanita Utama memilih hengkang ke Kramayudha Tiga Berlian ke Palembang, Sumatera Selatan.

Djoko berlabuh ke klun amatir di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, Suryanaga. Dengan klub yang sempat bernama Naga Kuning tersebut, dia tetap bisa memberikan prestasi.

Dia mengantarkan Suryanaga menjadi juara nasional pada 1985. Lawan yang dikalahkan adalah klub tangguh asal Jakarta Timur, Bina Taruna.

''Saya juga kuliah lagi di Universitas Putra Bangsa atau UPB. Saya mengamil jurusan manajemen,'' ungkap Djoko.

Dia  ingin agar ilmu sepak bola yang dimiliki bisa dipadukan dengan ilmu umum. Sebab, baginya, keduanya bisa berjalan linier.

Keinginan menjadi pelatih pun tak bertepuk sebelah tangan. Sebuah klub di Jawa Tengah, Bank Pembangunan Daerah (BPD), meminangnya.

Ini menjadi awal karirnya sebagai pelatih. Hanya, kiprah perdana Djoko tak berjalan mulus. Klub asal Semarang tersebut finish di posisi ke-14 dari 18 klub.

Setahun kemudian,1989,  tugas yang sama diberikan H. Mislan. Penguasa asal Surabaya tersebut memberikan amanah bagi Djoko untuk mendirikan Gelora Putra Delta (GPD) di Denpasar, Bali. Karena baru berdiri, tim yang dibangunnya tersebut berlaga lebih dulu di Divisi I.

''Setelah itu, saya menangani Mitra Surabaya,'' ujar Djoko.

Dengan ilmu sepak bola yang dimiliki, dia bukan lagi sekadar pelatih. Suami dari Sufie Ethika tersebut diberi porsi sebagai Direktur Teknik. Itu dilakoni di klub yang pernah membesarkan namanya, Persebaya Surabaya.

''Pada saat itu musim 1993/1994 atau musim terakhir di era perserikatan. Persebaya mampu menembus posisi III,'' ujar Djoko.

Meski tak juara, tangan dinginnya mulai diperhitungkan. Dua musim berikut, dia dikontrak tim sekota Persebaya, Mitra.

Di tangannya, klub tersebut menjadi disegani di era Liga Indonesia. Pada musim 1995-1996 dan 1996-1997, Mitra menempati posisi III.

Di 1995-1996, mereka dihentikan Bandung Raya di babak semifinal dengan adu tendangan penalti. Setahun kemudian, lagi-lagi, klub asal Kota Kembang, julukan Bandung, mengentikan Mitra dengan 1-0 untuk gagal melaju ke final.

''Pada 1996, saya ke Italia. Itu untuk melakukan tinjuakan ke Timnas U-19 yang mempersiapkan diri menghadapi Pra Piala Asia,'' kenang Djoko.(*)

Sempat lama vakum, Djoko Malis mendapat mandat menangani Timnas U-19. Hanya, posisinya sebagai asisten. Selanjutnya baca seri 6.











0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com