www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Koko Sunaryo, Mantan Kiper Persebaya Surabaya yang Jadi Guru Spiritual (1)

Koko Sunaryo saat ditemui di rumahnya di Tanggulangin
Dapat Pengalaman Jadi Cadangan Kiper Nasional

Klub-klub besar di Indonesia pernah dibela. Tapi, kini dia lebih menekuni dunia yang jauh dari hingar bingar sepak bola.
---
SEORANG lelaki baru saja mengeluarkan sepeda motor jenis sekuter dari rumahnya di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Oktober lalu. Badannya cukup besar sesuai dengan posturnya.

Meski penulis belum pernah bertatap muka langsung, tapi si pengendara sekuter tersebut adalah Koko Sunaryo. Posturnya layak jika di masa mudanya dia adalah seorang penjaga gawang atau kiper.

''Mari masuk. Kita berbincang-bincang di dalam rumah saja,'' kata Koko.

Rautan wajahnya sudah berbeda dengan semasa dia masih aktif di lapangan. Rambut Koko mulai memutih karena usianya sudah mendekati 50 tahun. Selain itu, jenggot putih yang panjang membuat lelaki asal Madiun, Jawa Timur, tersebut agamis.

''Saya sudah nggak terlalu aktif di lapangan. Kalau pun hadir paling hanya bantu-bantu,'' ucap Koko.

Padahal, dari segi pengalaman, kemampuan dia menularkan ilmu sebagai kiper cukup mumpuni. Klub besar baik amatir, galatama, maupun perserikatan pernah dibela.

''Saya memulai karir sebagai kiper di Madiun. Saya membela PSM Madiun Junior pada 1882. Saya masih SMA ketik itu,'' ucap Koko.

Hanya, dia tak berlama-lama di Kota Brem, julukan Madiun. Tawaran seniornya tak kuasa ditolak saat mengajaknya ke ibu kota.

''Dia bermain di Bina Taruna, Jakarta Timur. Saya langsung ikut dia ke sana pada 1986,'' ujarnya sambil menyuguhkan segelas kopi.

Saat itu, terang dia, dia bersaing dengan kiper nasional, Ponirin Meka. Koko mengaku memperoleh banyak pengalaman.

Bekal itulah yang membawa dia masuk ke klub besar Niac Mitra. Koko masuk di Niac Mitra pada 1987.

''Saat itu, Niac Mitra melakukan regenerasi. Saya sangat beruntung bisa masuk Niac,'' ungkap dia.

Di Niac Mitra, Koko bertahan hingga tiga tahun. Dia pindah bukan karena tak diperpanjang.

''Saya tak lagi membela  Niac Mitra karena klub itu bubar,'' kenangnya. (*-bersambung)

Usai dari Niac Mitra, Koko sempat bergabung ke klub besar juga. Namun, daya tarik Surabaya membuat dia kembali.





Read More

Isdianto, Mantan Pemain Nasional yang Tekuni Bisnis Warkop (3-Habis)

Warkop milik Isdianto yang baru dirintis
Ingin Kembangkan Jadi Pujasera

Usia yang terus bertambah membuat kemampuan Isdianto ikut menurun. Meski, semangatnya untuk bermain masih tetap menyala.
--
USIANYA sudah 35 tahun di 2013. Bagi pesepak bola, usia tersebut sudah mengisyaratkan harus segera lengser keprabon.

Isdianto pun mulai menyadari itu. Apalagi, cedera masih sering membekap.

Sebenarnya, dia sempat ingin kembali ke klub perdananya di profesional, Deltras. Klub berjuluk The Lobster tersebut, merupakan evolusi dari Gelora Dewata. Sayang, kondisinya dianggap sudah tak seperti dulu. Ini membuat asanya kandas.

Bisa dikatakan, Isdianto dipaksa gantung sepatu. Tapi, beda dengan rekan-rekannya sesama pesepak bola. usai pensiun dia malah menjauh dari sepak bola.

Dia mulai menyeriusi hobinya di sela-sela bermain bola. Apa itu? Isdianto terjun ke bidang fotografi.

Dia sering mengadakan kegiatan fotografi. Apalagi, bapak dua anak tersebut sudah mempunyai komunitas di Sidoarjo.

Namun, bidang jepret kamera tersebut belum bisa membuat kepulan dapur Isdianto besar. Dia pun mulai memeras otak.

Akhirnya, buka warung kopi menjadi pilihan utama. Sebenarnya, ini tak jauh beda dengan rekan-rekannya seperti Agung Prasetyo dan Uston Nawawi.

Bedanya, Agung yang berposisi sebagai kiper tersebut memilih berjualan rawon dan pecel. Sedang Uston membesarkan Rumah Makan Sri Raras.

''Modalnya dari uang yang saya tabung saat masih bermain bola. Meski kelihatan sederhana,  uang yang kepakai lumayan juga,'' ujar Isdianto.

Dia mengaku beruntung bisa mendapatkan lahan yang lumayan luas di Beciro, Sukodono, Sidoarjo. Warung kopinya bisa menampung banyak orang.

''Sebenarnya,sempat berpikir mau membuat konsep pujasera juga. Namun kelihatannya tak bisa dalam waktu dekat,'' lanjut lelaki yang dikenal punya takling keras tersebut.

Kini, warung kopinya yang belum genap tiga bulan tersebut mulai dikenal warga sekitar. Selain itu, para pelintas juga mulai menepi.

''Doakan saja ramai terus,'' pungkasnya. (*)
Read More

Isdianto, Mantan Pemain Nasional yang Tekuni Bisnis Warkop (2)

Isdianto lebih suka memakai topi saat di warkop miliknya
Cedera saat Membela Arema

Keputusannya memilih bergabung klub galatama Gelora Dewata menjadi pijkan karir yang tepat. Bakatnya mulai terasah hingga bisa menjelah ke berbagai klub.
--
JARAK Banyuwangi dan Bali tak terlalu jauh. Meski berbeda pulau, keduanya bisa ditempuh dengan kapal selama dua jam.

Sehingga, bagi warga Banyuwangi, Pulau Dewata, julukan Bali, bukan tempat yang asing.  Banyak warga daerah ujung timur Pulau Jawa tersebut merantau ke sana.

Itu pula yang dilakukan oleh Isdianto. Jiwa mudanya yang masih 21 tahun bergolak.

''Saya diajak bermain di kompetisi internal Perseden Denpasar. Dari sana saya kenal Misnadi,'' ungkap Isdianto.

Misnadi adalah penyerang andalan klub galatama asal Bali, Gelora Dewata. Namanya juga sudah dikenal sebagai penyerang lokal paling berbahaya di kancah sepak bola nasional.

''Dari Misnadi, saya diajak bergabung ke Gelora Dewata. Tawaran tersebut tak bisa saya tolak,'' kenang lelaki yang kini berusia 38 tahun tersebut.

Saat pindah ke Sidoarjo pada 2001, Isdianto pun ikut. Dia bertahan hingga musim 2002.

''Setelah itu, saya ke Arema pada 2003-2004,''ujarnya.

Di Singo Edan, julukan Arema, pula dia mendapat petaka.Dalam sebuah pertandingan, kakinya patah yang memaksanya naik ke meja operasi.

'Sebelum cedera, saya ikut seleksi timnas di era (Ivan) Kolev.  Karena cedera, selama satu musim, 2005-2006, saya tak bermain,'' lanjut Isdianto sambil menunjukkan bekas cederanya saat ditemui di warung kopi (warkop) miliknya di Beciro, Sukodono.

Setahun absen di lapangan guna penyembuhan luka, Isdianto pun dinyatakan pulih. Hanya, dia tak kembali ke Arema.

Isdianto memilih membela Persijap Jepara. Di Kota Ukir, julukan Persijap, lelaki yang semasa aktif sebagai pemain dikenal dengan rambut gondrongnya tersebut bergabung selama tiga musim (2007-2010).

Tuah Isdianto kembali moncer saat memutuskan membela Persisam Samarinda, Kalimantan Timur. Dia mengangkat tim tersebut menjadi juara Divisi Utama.

Persisam ternyata juga menjadi pelabuhan terakhir karirnya di lapangan hijau. Usia yang terus merambah tua membuat klub-klub menolak kehadirannya. (*/bersambung)

Isdianto punya hobi yang membuat dia bisa menghilangkan penat. Hanya, dia tetap butuh tambahan pemasukan buat mengepulkan asap dapur.
Read More

Isdianto, Mantan Pemain Nasional yang Tekuni Bisnis Warkop (1)

Persaingan Ketat di Era Kolev

Dia sempat masuk nominasi Timnas di era Ivan Kolev. Tapi, kini, dia malah menekuni dunia yang jauh dari sepak bola.
Isdianto melayani pembeli yang pesan kopi

--

SEBUAH warung kopi berdiri sebuah lahan kosong. Dari bentuknya, bangunan tersebut belum lama berdiri.

''Baru tiga bulan saya dirikan. Saya menyewa tempat yang dulunya kosong,'' kata sang pemilik warkop Isdianto.

Untuk mendapatkannya, dia pun rela berkeliling ke beberapa lokasi. Isdianto langsung kepincut begitu melihat ada lahan yang belum digarap tersebut.

''Saya menemui pemilik lahan ini dan langsung mengontraknya. Ternyata, baru beberapa hari, pembeli sudah lumayan banyak,'' ungkap Isdianto.

Bahkan, melayani pembeli juga dilakukan oleh lelaki 38 tahun tersebut. Para pembeli pun hanya tahunya bahwa Isdianto adalah pemilik warkop di wilayah Beciro, Sukodono, tersebut.

Padahal, dia merupakan salah satu pesepak bola yang pernah mendapat kesempatan mengenakan kaos Tim Nasional Indonesia. Hanya, Isdianto memang tak bisa bertahan lama di Skuad Garuda, julukan Timnas Indonesia.

"Saya dapat panggilan di Timnas Indonesia saat ditangani Ivan Kolev.Hanya, saya sampai tahap seleksi,'' ungkap Isdianto.

Dia mengakui, saat itu,di era pertengahan 2000-an,persaingan di posisinya sebagai wing back sangat ketat.

Menembus seleksi Timnas Indonesia bisa dikatakan menjadi puncak karir di lapangan hijau. Meski, Isdianto pernah merasakan membawa Arema Indonesia menjadi juara Piala Indonesia di 2004.

''Ketika itu, Arema ditangani Benny Dolo. Bukan hal yang mudah bisa masuk inti,'' ucap Isdianto.

Arema sendiri bukan satu-satunya klub yang dibela bapak dua anak tersebut. Isdianto memulai karir sepak bolanya dari klub di kampung halamannya, Banyuwangi.

''Saya membela Persewangi Junior,'' kenangnya.

Di libur kompetisi, Isdianto pergi ke Bali. Tujuannya ke Pulau Dewata, julukan Bali, bukan untuk wisata.

''Saya berlaga di kompetisi internal di sana. Hitung-hitung tambah pengalaman dan cari rezeki,'' ujarnya. (bersambung)

Di Bali, Isdianto semakin meningkat kemampuannya. Dia pun dilirik klub galatama. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com