www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Aris Budi Prasetyo, Mantan Palang Pintu Nasional yang Jadi Wakil Rakyat (2)

Habis Juara, Turun, Pindah Klub

FINAL Divisi Utama musim 1999/2000 melambungkan nama Aris Budi Prasetyo. Meski berposisi pemain belakang,
dia mampu menjadi pencetak gol pada menit ke-75.

Sayang, gol Aris gagal membawa PKT juara. Di final yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno,
Jakarta, itu, PKT kalah 2-3 dari PSM Makassar.

Satu gol tim asal Kalimantan Timur tersebut dicetak Fachri Husaini lima menit kemudian.Ketika itu, PKT ditangani pelatih asal Moldova Sergei Dubrovin.

Semusim kemudian, cerita lama seolah terulang. Sergei pindah ke Petrokimia Putra Gresik.

Pelatih yang pernah menangani Timnas Indonesia itu pun mengajak Aris.Arek Pasuruan ini pun tak kuasa menolak.

Kolaborasi Aris dan Sergei terbukti ampuh. Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra Gresik, menjadi juara Liga Indonesia. Kesuksesan ini seolah membayar lunas kegagalan di PKT.

Namun, bersama Petrokimia Putra pula dia merasakan pahitnya degradasi. Aris pun memilih pindah ke Arema Malang, yang sama-sama bermain di Divisi I.

Di Arema, kemampuan Aris semakin terasah. Singo Edan, julukan Arema, dibawanya kembali ke level tertinggi hanya semusim. Bahkan, di ajang Copa Indonesia, dua kali tim asal Kota Pelajar tersebut mengangkat piala. Menariknya, pada edisi 2006, Aris terpilih sebagai pemain terbaik. (*/bersambung)





Read More

Aris Budi Prasetyo, Mantan Palang Pintu Nasional yang Jadi Wakil Rakyat (1)

Besar dari Internal Persebaya, Magang di Arema

Karir Aris Budi Prasetyo sebagai pesepak bola komplet. Dia pernah membawa klub
yang dibela menjadi juara dan juga menjadi pemain nasional.
--
SELAMA pertandingan, sosok lelaki dengan postur tinggi tersebut nyaris tak pernah
duduk di bench. Dia selalu memberikan arahan kepada timnya, Persekap Kota Pasuruan,
yang tengah berlaga di Kompetisi Liga Remaja 2017 Regional Jawa Timur.

Apalagi, saat berhadapan dengan Persikoba Batu Junior, pada Kamis (10/8/2017). Mulutnya
seakan tak pernah berhenti memberikan instruksi.

Apalagi, laga yang dilaksanakan di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, tersebut menentukan bagi
kedua tim. Persekab butuh menang sedangkan Persikoba hanya butuh imbang.

Raut wajah tegang terus memayungi pelatih Persekab bernama Aris Budi Prasetyo itu. Namun,
senyum dan kegembiraan itu berubah di babak II.

Ini karena anak asuhnya bisa mencetak gol dan akhirnya bisa memenangkan pertandingan dengan
skor 2-0. Hasil ini membuat Persekab menembus babak 16 besar Regional Jawa Timur.

Menjadi pelatih menjadi pilihan Aris. Ini setelah dia pada 2010 memutuskan pensiun sebagai
pesepak bola.

Cedera yang tak kenal kompromi membuat lelaki yang kini berusia 42 tahun tersebut gantung
sepatu. Keputusan itu membuat perjalanan manisnya sebagai bintang lapangan hijau ikut berakhir.

''Saya memulai karir sebagai pesepak bola secara serius di Surabaya dengan mengikuti kompetisi
internal Persebaya. Saya sempat masuk Persebaya Junior,'' ungkap Aris.

Bakatnya dengan ditunjang postur ideal sebagai pemain belakang, membuat Aris berani melamar ke
Arema Malang. Hanya, dia masuk dengan status pemain magang.

Namun, di Singo Edan, julukan Arema, membawa berkah. Kedekatannya dengan pelatih Gusnul Yakin membawa berkah baginya.

''Saat Gusnul ke PKT Bontang, saya diajak. Saya mau aja demi mengembangkan karir,'' jelas Aris.

Di klub yang didanai BUMN tersebut, kakak dari mantan pebola voli putri nasioal Dwi Sari itu bertahan lama. Lima musim Aris berkostum hijau-hijau PKT.

Capaian tertingginya bersama PKT adalah menembus final Liga Indonesia. Sayang, di final, PKT menyerah kepada PSM Makassar yang ketika itu bertabur bintang. (*/bersambung)

Read More

Dian Fachrudin, Anak Tuban yang Pernah Berseragam Garuda (2)


Hanya Bertahan Semusim di Klub yang Dibela
Dian dengan trofi Copa Indonesia

Masuk Timnas PSSI Senior membuat namanya jadi perbincangan. Beberapa klub mulai melirik.
--
UNTUK mendapat posisi inti di Persema Malang bukan hal yang mudah. Dian Fachrudin harus bersaing beberapa pemain senior.

Dengan ditempatkan di posisi stopper, lelaki yang kini berusia 34 tahun tersebut adu kemampuan dengan  dua palang pintu tangguh, Bayu Sutha dan FX Yanuar. Namun, pelatih Danurwindo ternyata lebih memilih Dian.

''Coach Danur lebih suka dengan gaya bermain saya. Saya tak tergesa-gesa membuang bola tapi mendorong bola ke pemain tengah,'' ungkapnya.

Dengan bermain reguler, bakatnya tercium oleh PSSI. Di bawah Peter Withe, namanya masuk dalam jajaran pemainyang dipanggil untuk persiapan Piala Asia 2007

''Sebelumnya, saya bermain di Merdeka Games di Malaysia. Saya main dalam beberapa pertandingan,'' ujarnya.

Sayang, dalam Piala Asia sendiri, Dian urung berlaga. Dalam persiapannya, sakit typus menyerang.

''Saya dicoret di detik-detik akhir. Masa pemulihannya tidak cukup ke Piala Asia,'' kenangnya.

Meski gagal, tapi namanya mulai diburu banyak klub. Kesempatan ini tak mau disia-siakan.

Dian memilih meninggalkan Persema Malang. Sriwjaya FC Palembang, Sumatera Selatan, menjadi tujuan.

''Saya masuk dalam tim Sriwijaya FC yang merasakan juara. Pelatihnya coach RD (Rahmad Darmawan),'' kenang Dian.

Di Laskar Wong Kito, julukan Sriwijaya FC, dia menjadi pemain multiposisi. Pemain yang dibesarkan di Esge Tuban tersebut bisa ditempatkan sebagai bek tengah, gelandang, ataupun bek kiri.

Namun, karena bisa bermain di berbagai posisi itu membuat Dian tak bisa bertahan lama. Adanya kesalahan komunikasi membuat dia memilih hengkang.

''Ada asisten yang menginformasikan ke pelatih RD bahwa saya tak mau bermain di posisi bek kiri,'' ungkap lelaki dengan postur jangkung ini.

Pelita Jaya menjadi pilihan. Baginya, ini seakan menjadi reuni. Alasannya, Dian pernah membela klub milik keluarga Bakrie tersebut saat masih berkandang di Cilegon, Banten. Hanya, namanya ketika itu, Pelita Krakatau Steel.

Di Pelita Jaya, dia hanya semusim. Pengembaraan Dian dilanjutkan ke beberapa klub seperti Persela Lamongan, Persih Tembilahan, dan Persis Solo.

''Setiap klub, saya hanya satu musim. Persida menjadi klub terakhir sebelum akhirnya pensiun,'' pungkas Dian. (*/habis)

Read More

Dian Fachrudin, Anak Tuban yang Pernah Berseragam Garuda (1)

Dian (tiga kanan belakang) berseragam Timnas Piala Asia 2007

Dua Kali Bertemu dengan Pelatih yang Sama 

Menjadi juara dan masuk tim nasional bukan sembarang pemain bisa. Namun, seorang Dian Fachrudin perkecualian.
--
POSTURNYA tingi menjulang. Bisa sekitar 180 sentimeter.   Badannya pun tak berotot. Sekilas, orang akan menyangkanya sebagai pebasket atau pemain bola.

Padahal, kedua cabang olahraga itu bukan bidangnya. Sosok lelaki bernama Dian Fachrudin tersebut adalah seorang pesepak bola. Prestasinya pun tak boleh dipandang sebelah mata.

''Saya pernah membawa klub juara dan juga pernah masuk Timnas PSSI,'' kata Dian saat ditemui di Stadion Jenggolo pada Jumat (28/7/2017).

Kedua capaian tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjang karirnya di lapangan hijau. Sejak usia belasan, Dian sudah bertekad menjadikan sepak bola bagian dari hidupnya.

 ''Sejak kecil saya bergabung di Esge Tuban. Lulus SMA, baru saya merantau dan langsung jauh,'' ungkap Dian.

Jauh? Ya, karena sejak usia 19 tahun, dia pergi ke Cilegon. Tujuannya menimba ilmu di Krakatau Steel. Cilegon merupakan kabupaten ujung barat Pulau Jawa.

 ''Saya ke sana karena ajakan Joko Driyono (mantan Sekjen PSSI) yang ketika itu masih menjadi manajer PS Krakatau Steel,'' tambah Dian.

 Dia terkoneksi dengan Joko karena istri lelaki yang sering disapa Jokdri tersebut tetangganya di Tuban. Begitu ada tawaran itu, pada 2003, Dian tak menampik.

 ''Bahkan, saat namanya jadi Pelita Krakatau Steel, saya menjadi pemain magang. Pelatihnya Danurwindo,'' kenang Dian.

 Sayang, setelah tak di Pelita KS, dia harus balik ke Tuban. Selama di rumah, Dian mendapat tawaran dari rekannya untuk bergabung dengan klub di Kota Malang.

 ''Bukannya Persema tapi klub internal kompetisi Persema. Dari situ, kemampuan saya terpantau dan bisa masuk ke Persema,'' ujar Dian.

 Ternyata, di Petir Biru, julukan Persema, dia kembali bertemu dengan Danurwindo. Ditangannya, Dian mendapat posisi inti.

 ''Danur (sapaan Danurwindo) cocok dengan cara main saya sebagai pemain belakang. Ini membuat saya jadi starter di Persema,'' ungkap Dian. (*/bersambung)

Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (5)


Pilih Memulai Karir Pelatih dari Bawah

Usia  yang merambat tua membuat Jefri Dwi Hadi memilih pensiun sebagai pesepak bola. Hanya, dia belum bisa lepas dari olahraga yang telah melambungkan namanya itu.
--
Untuk ukuran pesepak bola, Jefri Dwi Hadi termasuk sukses. Gelar juara kasta tertinggi pernah diraih saat membela Persik Kediri.

Sebagai pemain nasional pun pernah diraskana di era pelatih Peter Withe dari Inggris. Ini membuat Jefri pun punya caps.

Hanya, semua itu belum jaminan di dunia yang kini ditekuni, pelatih. Lelaki 36 tahun tersebut masih dianggap hijau.

''Saya menangani klub internal Persida Sidoarjo. Ada tawaran yang akhirnya saya terima,'' kata Jefri.

 Meski masih minim pengalaman menjadi pelatih tapi sentuhannya cukup mumpuni. Banyak pesepak bola muda yang terasah bakatnya di tangan Jefri.

''Beberapa anak asuh saya main di Liga 2 dan banyak di Liga 3,'' ungkap Jefri.

Modal itulah yang membuat Uston Nawawi, salah satu legenda Persebaya Surabaya, mengajaknya menjadi asisten di klub Liga 3, Putra Jombang. Jefri tak menolak karena baginya Uston bukan orang asing. Keduanya sering bermain bersama dalam satu tim lokal Sidoarjo, 81.

Jefri berharap karirnya sebagai pelatih tidak terlalu jauh dengan ketika masih aktif sebagai pesepak bola. Untuk itu, dia memilih memulai dari bawah.

''Sekalian mau cari lisensi AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia). Mumpung masih muda,'' pungkasnya. (*/habis)
Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (4)

Di Timnas Indonesia, posisinya nyaris tak tergoyahkan. Sayang, pergantian pelatih memberikan dampak besar baginya.
--
PERSIAPAN Indonesia menuju Piala Asia 2007 termasuk serius. Mereka ditangani oleh pelatih asal Inggris Peter Withe.

 ''Selain itu, kami juga menggelar pemusatan latihan di luar negeri. Tiongkok menjadi negara yang kami datangi,''kata Jefri Dwi Hadi

 Tujuannya untuk meraih hasil bagus dalam ajang pesta sepak bola negara-negara Asia tersebut. Apalagi, Indonesia menyandang status tuan rumah.

 Sayang, semuanya menjadi berantakan. Kegagalan Withe membuat Indonesia bersinar di Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) memberikan dampak besar.

 Lelaki yang pernah menjadi pemain klub Premier League Aston Villa tersebut terdepak. Sebagai gantinya masuk Ivan Venkov Kolev asal Bulgaria.

 ''Masuknya Kolev berpengaruh di tim. Dia memasukan pemain-pemain yang sesuai dengannya,'' terang Jefri.

 Ini membuat Jefri terdepak. Alasannya, stamina dan daya tahan lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut kurang dari kriteria yang ditetapkan Kolev.

 ''Saya kembali ke Persik Kediri lagi. Saat itu, Persik tengah membangun kekuatan,'' ujarnya.

 Beberapa pemain nasional seperti Mahyadi Panggabean, Saktiawan Sinaga, dan kiper Marcus Horison didatangkan dari PSMS Medan. Ada juga pemain asing Danilo Fernando dan Christian Gonzales.

 Sayang, di tengah jalan, tim bertabur bintang tersebut kesulitan dana. Hanya, Jefri tetap bertahan bersama Macan Putih.

 Usai dari Persik, Jefri sempat kembali ke Deltras. Petualangannya sempat merambah Persema Malang.

 ''Klub Kalimantan yang satu-satunya saya bela adalah Persiba. Namun, itu hanya setengah musim,'' jelas Jefri.

 Itu terjadi ketika kompetisi sepak bola Indonesia terpecah menjadi dua (dualisme). Persema yang berlaga di LPI membuat dia ke Beruang Madu, julukan Persiba.

 Sayang, dia tak mau memperpanjang kontraknya di sana. Dengan nilai kontrak yang turun, Jefri memilih balik ke Jawa.

 ''Semusim di Persik Kediri dan semusim di Deltras lagi,'' kenang Jefri.

Kompetisi yang vakum karena PSSI dibekukan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) membuat Jefri akhirnya memilih pensiun sebagai pemain. (*/bersambung)











Juara PON Jadi Pintu Keluar Pindah


Mendapat panggilan dari PSSI Jatim dijawab dengan prestasi oleh Jefri Dwi Hadi. Selain itu, medali emas menjadi pintu pembuka baginya keluar dari Deltras.

--

PENAMPILAN gemilang di kompetisi membuat Jefri Dwi Hadi dapat panggilan. Bukan timnas tapi oleh PSSI Jawa Timur.


Dia direkrut masuk tim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON). Tujuannya, Jatim bisa mempertahankan tradisi dalam ajang empat tahunan tersebut.


 ''Namun, dalam persiapan, saya sempat mengalami cedera. Saya pasrah kalau dicoret nantinya,'' ungkap Jefri.


Tapi, pelatih PON Jatim Mustaqim lebih memilih menunggu untuk sembuh. Dia yakin Jefri menjadi bagian dari ketangguhan lini tengahnya.


 ''Saya akhirnya sembuh dan bisa tampil di PON Palembang. Emas bisa diraih Jatim bersama Papua,'' kenang lelaki asal Blitar tersebut.


Hasil PON semakin melambungkan namanya. Apalagi, di tim tersebut ada nama Iwan Budiyanto, yang menjadi manajer Persik Kediri.


Jefri mendapat tawaran Iwan untuk bergabung dengan Macan Putih, julukan Persik. Sebenarnya, bukan hanya dia, beberapa penggawa PON Jatim mendapat tawaran serupa.


 ''Jadinya, saya pindah usai PON. Persik menjadi klub pertama yang saya bela selain Deltras,'' jelas Jefri.


 Di musim pertamanya, Jefri belum bisa memberikan banyak konstribusi bagi Persik. Nah, baru di musim 2006, dia mampu membuktikan bahwa Macan Putih tak salah merekrutnya.


 ''Pelatihnya Daniel Roekito. Saat itu, Persik menjadi tim bertabur bintang,'' jelas lelaki yang kini menjadi asisten Uston Nawawi, mantan bintang timnas Indonesia, di Putra Jombang, tim Liga 3.


Ketika itu, tim asal Kota Tahu itu diperkuat pemain asing dengan kualitas jempolan seperti Danilo Fernando asal Brasil dan Cristian Gonzalez asal Uruguay.


Dalam final yang dilaksanakan di Stadion Manahan, Solo, pada 30 Juli, Persik mengalahkan PSIS Semarang dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang disumbangkan Cristian Gonzales pada masa perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-109.


Dalam partai pemungkas ini, Jefri tampil hingga menit ke-55. Setelah itu, posisinya digantikan Suswanto.


Hanya, beda dengan ketika Persik juara tiga tahun sebelumnya, Jefri tak memperoleh tawaran sebagai PNS. Dia hanya mendapat uang serta pegawai honorer.


 Namun, sukses membawa Persik juara memberikan berkah baginya. Jefri mendapat kepercayaan masuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia proyeksi Piala Asia 2007.


 ''Selain saya, ada juga Harianto Sapari dan Budi Sudarsono. Pelatihnya Peter Withe,'' jelas Jefri. (*/bersambung)




Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (3)

Juara PON Jadi Pintu Keluar Pindah

Mendapat panggilan dari PSSI Jatim dijawab dengan prestasi oleh Jefri Dwi Hadi. Selain itu, medali emas menjadi pintu pembuka baginya keluar dari Deltras.
--
PENAMPILAN gemilang di kompetisi membuat Jefri Dwi Hadi dapat panggilan. Bukan timnas tapi oleh PSSI Jawa Timur.

Dia direkrut masuk tim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON). Tujuannya, Jatim bisa mempertahankan tradisi dalam ajang empat tahunan tersebut.

 ''Namun, dalam persiapan, saya sempat mengalami cedera. Saya pasrah kalau dicoret nantinya,'' ungkap Jefri.

Tapi, pelatih PON Jatim Mustaqim lebih memilih menunggu untuk sembuh. Dia yakin Jefri menjadi bagian dari ketangguhan lini tengahnya.

 ''Saya akhirnya sembuh dan bisa tampil di PON Palembang. Emas bisa diraih Jatim bersama Papua,'' kenang lelaki asal Blitar tersebut.

Hasil PON semakin melambungkan namanya. Apalagi, di tim tersebut ada nama Iwan Budiyanto, yang menjadi manajer Persik Kediri.

Jefri mendapat tawaran Iwan untuk bergabung dengan Macan Putih, julukan Persik. Sebenarnya, bukan hanya dia, beberapa penggawa PON Jatim mendapat tawaran serupa.

 ''Jadinya, saya pindah usai PON. Persik menjadi klub pertama yang saya bela selain Deltras,'' jelas Jefri.

 Di musim pertamanya, Jefri belum bisa memberikan banyak konstribusi bagi Persik. Nah, baru di musim 2006, dia mampu membuktikan bahwa Macan Putih tak salah merekrutnya.

 ''Pelatihnya Daniel Roekito. Saat itu, Persik menjadi tim bertabur bintang,'' jelas lelaki yang kini menjadi asisten Uston Nawawi, mantan bintang timnas Indonesia, di Putra Jombang, tim Liga 3.

Ketika itu, tim asal Kota Tahu itu diperkuat pemain asing dengan kualitas jempolan seperti Danilo Fernando asal Brasil dan Cristian Gonzalez asal Uruguay.

Dalam final yang dilaksanakan di Stadion Manahan, Solo, pada 30 Juli, Persik mengalahkan PSIS Semarang dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang disumbangkan Cristian Gonzales pada masa perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-109.

Dalam partai pemungkas ini, Jefri tampil hingga menit ke-55. Setelah itu, posisinya digantikan Suswanto.

Hanya, beda dengan ketika Persik juara tiga tahun sebelumnya, Jefri tak memperoleh tawaran sebagai PNS. Dia hanya mendapat uang serta pegawai honorer.

 Namun, sukses membawa Persik juara memberikan berkah baginya. Jefri mendapat kepercayaan masuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia proyeksi Piala Asia 2007.

 ''Selain saya, ada juga Harianto Sapari dan Budi Sudarsono. Pelatihnya Peter Withe,'' jelas Jefri. (*/bersambung)



Read More

-- Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (2)



Mampu Tembus Persaingan dengan Para Senior

Bakatnya yang menjanjikan membuat Jefri Dwi Hadi jadi buruan. Namun, klub seatap, Gelora Dewata, yang beruntung meminang.
--
NYALI Jefri Dwi Hadi diuji. Di usia masih belasan, dia harus pergi ke Bali.
 Namun, kepergiannya itu bukan berwisata. Dia harus ke Pulau Dewata, julukan Bali, karena direkrut tim Divisi Utama, Gelora Dewata.

 ''Ada beberapa pemain muda yang diambil Gelora Dewata. Jadi saya tetap ada teman di sana,'' kenang Jefri.

Meski berasal dari manajemen yang sama, tapi bukan hal yang mudah baginya untuk menembus skuad Gelora Dewata. Dia harus bersaing dengan para penggawa senior seperti Nus Yadera.

''Pelatih fair, yang bagus yang dipasang. Jadi saya semangat,'' ujar Jefri.

Lambat laun, dia bisa menembus kerasnya persaingan. Bahkan, posisinya sebagai gelandang tak tergantikan.

Ternyata, Gelora Dewata mulai ancang-ancang hengkang. Sidoarjo menjadi tujuan utama. Alasannya, Kota Udang, julukan Sidoarjo, punya stadion yang sangat layak yang baru saja dipakai menggelar pertandingan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Hanya, posisi pelatih masih dipegang Sinyo Hartono. Di tangan dia, bakat dan kemampuan Jefri semakin melesat.

Hanya, nama Gelora Dewata sudah berganti menjadi menjadi Gelora Putra Delta (GPD). Musim berganti, pada 2002, Sinyo Hartono hengkang ke Persebaya Surabaya.

Otomatis jabatannya digantikan. Yudi Suryata menjadi arsitek tim dan setelah itu Suharno masuk.

Namun, itu tak membuat peranan Jefri tergantikan. Dia tetap menjadi nyawa permainan The Lobster, julukan Deltras, nama baru pengganti GPD.

Pada 2003, kemampuannya terpantau PSSI Jatim. Mereka memanggilnya untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON). (*/bersambung)



Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (1)

Ke Surabaya untuk Kembangkan Karir

Namanya lama berkibar di pentas sepak bola. Dia pun tercatat sebagai pemain yang pernah mengenakan kostum dengan logo Garuda di dada.
--
KAOS yang dikenakan hijau bergaris putih. Sekilas mirip dengan kostum Persebaya.

Untung bukan. Si pemakai kaos memang belum pernah bergabung dengan klub yang didukung Bonek tersebut.

Tak lama berselang, sebuah topi ala yang dipakai pelatih senior Sartono Anwar, yang kini menangani tim Liga 2 Madiun Putra, dikenakan. Dia bersama penulis dan mantan bintang timnas Indonesia Uston Nawawi pun bergegas masuk mobil.

Saat ini, Jefri Dwi Hadi, sosok yang memakai kaos hijau dan bertopi, memang tengah dekat dengan Uston. Ini karena keduanya tengah berkolaborasi menukangi tim Liga 3 Putra Jombang.

Baginya, menjadi pelatih juga menjadi pilihan usai memutuskan pensiun sebagai pemain. Klub terakhir yang dibelanya adalah Sidoarjo United di ajang Liga 2.

''Sambil belajar. Jadi pelatih di internal Askab Sidoarjo yang pertama,'' ujar Jefri.

Dia mengakui menjadi pelatih bukan hal yang mudah. Hanya, pengalamannya segudang sebagai pesepak bola ikut membantu.

Di pentas sepak bola nasional, nama Jefri cukup dikenal. Apalagi, dia sudah lama malang melintang.

Karir sepak bola di mulai dari kampung halamannya di Blitar, Jawa Timur. Namun, keinginan untuk maju membuat dia hijrah ke Surabaya.

''Saya bergabung dengan Putra Gelora. Setelah itu, sempat ke Persebaya Junior dan Pelajar Jatim,'' lanjut lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut.

Bakat Jefri di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, terendus klub di ajang kompetisi PSSI. Namun, Putra Gelora tak mau melepaskan begitu saja.
 Kebetulan, Putra Gelora berintuk di klub Divisi Utama, Gelora Dewata, Bali. Keduanya sama-sama milik tokoh sepak bola. H. M. Mislan. (*/bersambung)
Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (3-Habis)

Dedy Sutanto (tengah) menjadi kiper utama Persebaya
Masih Cari Lisensi untuk Jadi Pelatih

Kecelakaan membuatnya harus absen lama. Untung, Persebaya masih mau menunggu dia pulih.
--
KARIR Dedy Sutanto bak roller coster.Usai merasakan manisnya menjadi bagian tim Persebaya juara Liga Indonesia, dia harus absen selama semusim.

Ini akibat kecelakaan yang dialami di dekat rumahnya di Bogangin, Surabaya. Dedy harus naik ke meja operasi.

''Saya harus melakukan penyembuhan. Usai operasi dan mulai membaik, saya lari-lari pelan di sekitar waduk di utara rumah,'' kenang Dedy.

Saat mulai fit, Dedy mengontak manajemen Persebaya. Ternyata, pihak Green Force, julukan Persebaya, masih mau menerimanya.

 ''Namun, saya jarang main. Ada Ngadiono yang selalu turun,'' ungkapnya.

Tapi dengan kembali masuk Persebaya, kepercayaan diri Dedy kembali bangkit. Niatnya sudah bulat untuk mencari pengalaman di klub selain Persebaya.

 ''Saya membela Semen Padang selama semusim. Ini pengalaman pertama bermain di luar Persebaya,'' ucap lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut.

Ternyata, setelah dari Bumi Andalas, julukan Sumatera Barat, Dedy berkelana ke berbagai klub. Barito Putra Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pernah diangkatnya promosi ke Indonesia Super League (ISL).

 ''Saya juga sempat ke Persikad Depok. Ke Deltras di kompetisi ISL juga pernah,'' lanjut Dedy.

 Perjalanannya sempat berlanjut ke PS Bangka, Bangka-Belitung, Perssu Sumenep di Pulau Madura.

Di PS Bangka, dia dilatih tetangganya yang pernah menangani di Persebaya Selection, Lulut Kistono.

Hingga pada 2013, Dedy kembali ke Persebaya. Hanya, ketika itu ada tambahan 1927 di belakangnya. Ini untuk membedakan Persebaya lainnya yang kurang mendapat dukungan dari Bonek.

Saat Persebaya diakui oleh PSSI dan bersiap kompetisi, Dedy sudah pensiun. Dia memutuskan terjun sebagai pelatih.

 ''Saya masih mau cari lisensi. Biar berguna di kemudian hari,'' pungkasnya. (*)

Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (2)

Dedy Sutanto berdiri tengah bersama tim juara 2004
Dapat Tawaran Pindah, Kecelakaan sebelum Kompetisi

Menjadi bagian Persebaya saat juara membuat namanya ikut terangkat. Sebuah tawaran menjadi kiper inti tim Divisi Utama serius menghampiri.
--
SEBUAH ketukan dari dalam membuat Dedy Sutanto beranjak. Sambil membawa sebuah bungkusan kertas cokelat, dia masuk ke sebuah ruangan.

''Bapak, minta makan. Kegiatan sekarang saya lebih banyak di rumah membantu menjaga Bapak,'' ujar Dedy.

Dia kemudian melanjutkan kisahnya. Usai menjadi bagian Persebaya juara Liga Indonesia 2004, Dedy mendapat perintah membela Persebaya Selection yang berlaga di Piala Gubernur.

Selain Dedy ada beberapa pemain Persebaya yang diajak bergabung di Persebaya Selection.Posisi pelatih dipercayakan kepada Lulut Kistono dan Eduard Mangilomi.

Lawan yang dihadapi lumayan berat yakni tim-tim yang selevel dengan Persebaya. Salah satunya Persema Malang.

 ''Saat lawan Persema, main saya lagi enak. Banyak peluag Persema yang saya gagalkan jadi gol,'' ujar lelaki kelahiran 1981 tersebut.

Tapi, siapa sangka, pertandingan lawan Persema itu berlanjut hingga di luar lapangan. Manajemen Persema tertarik memboyong Dedy.

''Mereka mau ke mess Persebaya tapi saya tolak. Ke rumah saja di Bogangin,'' lanjut Dedy.

Persema pun mengirim wakilnya. Hanya, keinginan Dedy pindah tercium pihak manajemen.

 ''Mereka menginginkan saya bertahan,'' ujar Dedy.

Namun, sebelum kembali berkostum Persebaya, petaka menimpa. Dedy mengalami kecelakaan di dekat rumahnya.

 ''Saat hendak keluar gang, ada sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Saya langsung tak sadarkan diri  dan bangun sudah dibopong ke pinggir jalan,'' jelas kiper binaan klub internal, Sakti, itu. (*/bersambung)
Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (1)

Dedy Sutanto di rumahnya di Bogangin
Bela Setengah Musim saat Juara

Namanya memang tak setenar kiper-kiper Persebaya Surabaya yang lain. Namun, dia pernah menjadi bagian sejarah saat tim legendaris itu juara.
--
YANG tak biasa atau belum pernah, mencari rumahnya butuh ketelitian. Sebaiknya, Anda harus bertanya.

Seperti yang dialami oleh penulis. Karena malam hari, rumah yang ditempati Dedy Sutanto tersebut terlewati. Untung, lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut menjemput setelah terlewat hampir 500 meter. Ya, sekarang Dedy lebih banyak tinggal di Bogangin I, Surabaya. Jalan masuk ke tempatnya tinggal tidak terlalu besar.

 ''Saya banyak di Bogangin. Saya menunggui ayah yang sakit,'' kata Dedy.

Dia tak bisa lama-lama meninggalkan ayahnya. Meski untuk itu, dia meninggalkan rumah yang sempat ditinggali bersama istri di kawasan Sidoarjo.

Selain itu, Bogangin punya sejarah bagi perjalanan hidupnya. Di rumah tersebut, dia berangkat ke lapangan untuk berlatih bersama Sakti.

''Saya mulai gabung klub Sakti sejak kelas 1 SMP. Saya juga tidak pindah ke klub-klub lain,'' terang Dedy.

Beruntung baginya, di Sakti, dia punya sosok Machrus Afif. Pelatihnya tersebut punya bekal pelatihan kiper yang mumpuni. Ini karena dia pernah mengawal gawang Persebaya Surabaya di era 1990-an.

Hanya, dia butuh lama untuk mendapat kesempatan emas. Pada 2003, sebuah panggilan telepon dari Machrus sempat mengejutkannya. Persebaya membutuhkan tenaganya.

 ''Saya terpantau pelatih Jacksen (F. Tiago) saat Persebaya menghadapi Sakti. Banyak peluang Persebaya mampu saya gagalkan,'' ungkap Dedy.

Awalnya, dia tak percaya. Alasannya, ujar Dedy, Green Force, julukan Persebaya, sudah mempunyai sosok Hendro Kartiko dan Hendra Prasetya.

''Saya kepanggil karena ada kiper yang mundur. Saya langsung aja siap bergabung,'' terang Dedy.

Meski tak pernah main, tapi namanya tercatat dalam tinta emas Persebaya. Dedy merupakan salah satu punggawa tim asal Kota Pahlawan, julukan Persebaya, saat menjadi juara di musim 2003/2004.

Dalam sebuah foto yang terpajang di rumahnya, Dedy berdiri di tengah. Rambutnya masih terurai sebahu. (*/bersambung)
Read More

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (4)

Kashartadi dengan medali juara Sriwijaya FC
Duet Arseto Bawa Sriwijaya Berprestasi


Menginjak usia yang tak lagi muda, Kashartadi masih diperhitungkan. Dia dipercaya mengembangkan sepak bola di sebuah daerah di Sumatera Selatan
--
SEORANG lelaki baru saja masuk ke rumah Kashartadi. Penulis juga belum pernah melihatnya. Beda dengan saudara-saudara Kashartadi yang aktif di lapangan hijau.

''Dia dari Sumatera Selatan. Dia datang untuk mengunjungi saya,'' terang Kashartadi.

Baginya, Sumatera Selatan bukan provinsi yang asing baginya. Di akhir karirnya sebagai pemain dan memulai karir kepelatihan, daerah Musi Banyuasin menjadi pijakan awalnya.

 ''Saya dipasrahi untuk mengembangkan sepak bola di sana. Saya sempat mempunyai diklat,'' ungkap Kashartadi.

Hubungannya dengan sang kepala daerah cukup dekat. Ketika orang nomor satu di Banyuasin menjadi pimpinan Sulawesi Selatan, Kashartadi kecipratan.

Namanya masuk  di jajaran pelatih Sriwijaya FC yang dibeli dari Persijatim. Hanya, Kashartadi tidak langsung sebagai pelatih kepala.

''Saya menjadi asisten pelatih. Saya di bawah (Ivan) Kolev,'' terangnya.
 Namun, kesempatan menjadi pelatih kepala akhirnya datang. Kashartadi menjadi nakhoda di musim 2011-2012.

Dia dibantu oleh seniornya di Arseto, Hartono Ruslan. Duet ini terbukti manjur.

''Sriwijaya mampu menjadi juara. Sebuah prestasi yang diluar dugaan saya,'' terang Kashartadi yang kemudian mengambali medali juara.

 Sayang, di tahun kedua, Kashartadi dan Hartono harus meninggalkan Sriwijaya FC. Masalah finansial menjadi pertimbangan utama.

 Dengan status pelatih juara, tak susah baginya mendapatkan tim. Persikabo Kabupaten Bogor, Cilegon United, dan kini Kalteng Putra ditanganinya.

 ''Saya belum bisa kembali ke level atas karena saya masih Lisence B. Semoga segara dapat A,'' pungkasnya. (*/tamat)






Read More

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (3)

Kashartadi (kanan) dan Parlin Siagian
Akhirnya Bisa Membela Persis Solo

Lama berkelana membuat Kashartadi rindu pulang. Dengan kemampuan yang dimiliki tak susah baginya bergabung.
--
MASUK skuad juara SEA Games 1991 membuat nama Kashartadi semakin melambung. Banyak klub yang mengincar.

Namun, dari semua klub, Arseto menjadi prioritas. Kok bisa? Ternyata markas klub milik keluaga Cendana itu ada di Solo, kota kelahiran dan kampung halaman Kashartadi.

Masuknya Kashartadi menambah daya gedor Elang Biru, julukan Arseto, semakin tajam. Sebelumnya, Arseto sudah mempunyai senior Ricky Yacob, yang kelak berganti nama menjadi Ricky Yacobi.

 ''Musim 1991/1992,Arseto menjadi juara dan saya bergabung di dalamnya. Akhirnya, saya bisa membawa klub menjadi juara juga,'' jelas Kashartadi.

 KTB memang pernah menjadi juara Galatama. Hanya, itu dilakukan sebelum Kashartadi bergabung.
 Namun, di Arseto pula, karir si Kijang asal Solo tersebut mulai redup. Dia mengalami cedera lutut.
Dia salah tumpuan saat berebut bola dalam pertandingan liga.

''Saya harus istirahat lama. Setelah itu, saya juga pindah klub,'' ungkap Kashartadi saat ditemui penulis di rumahnya di Kwarasan, Grogol, Sukoharjo.

 Gelora Dewata Bali menjadi pelabuhan karir. Ini sekaligus tempatnya mengembalikan kepercayaan diri usai mengalami cedera.

 ''Usai dari Gelora Dewata, saya ke BPD Jateng. Penampilan saya sudah mulai kembali,'' ujar lelaki kelahiran 1970 tersebut.

Ini membuat Arseto kepincut memakai tenaganya lagi. Namun, lagi-lagi klub yang bermarkas di Kadipolo tersebut tak berjodoh dengannya.

 ''Kali kedua saya kembali, Arseto membubarkan diri dan kompetisi juga tak berjalan sampai tuntas di 1997/1998,'' terang Kashartadi.

Nama besarnya tetap tak luntur. Dia berlabuh di Persikabo Kabupaten Bogor dan menjelang akhir karirnya Kashartadi berseragam Persis Solo.

 ''Itu di musim 2002/2003. Kali pertama saya bisa membela Persis. Sejak junior, saya memang belum pernah membelanya,'' ujar bapak dua anak itu.

 Nama Kashartadi selalu terjaga. Oleh daerah Musi Banyuasin, dia didatangkan ke daerah yang masuk provinsi Sumatera Selatan tersebut. (*/bersambung)



Read More

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (2)

Kashartadi diapit Polosin dan asistennya, Iurin
Bertahan di Tengah Program Latihan Superkeras

Penampilannya menonjol dibandingkan rekan-rekannya di Diklat Ragunan, Jakarta. Kashartadi punya kelebihan dalam kecepatan.
--
CELANA pendek dikenakannya. Kulitnya terlihat lebih gelap dibandingkan biasanya.
 Namun, fisiknya tak banyak berubah. Ini menunjukkan bahwa Kashartadi masih sering latihan.
 Mungkin hanya kecepatannya yang mengalami penurunan. Maklum, kini usianya sudah 47 tahun.

Padahal, dengan kecepatan itu, dia mampu menembus kerasnya persaingan Timnas Junior. Bahkan, lelaki asal Solo, Jawa Tengah, tersebut sempat disebut-sebut sebagai salah satu bintang masa depan sepak bola Indonesia.

Buktinya, usai lulus dari SMA Ragunan, Jakarta,  Kashartadi langsung direkrut klub raksasa, Krama Yudha Tiga Berlian. Meski masih berusia belasan, namun lelaki yang lahir dari keluarga sepak bola tersebut tak susah menembus skuad inti tim yang berhome base di Palembang itu.

 ''Saya masuknya tetap memakai seleksi. Saya diterima di musim 1989,'' ujar Kashartadi.

Dari foto yang terpajang di rumahnya di kawasan Kwarasan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kashartadi paling muda. Di posisi kiper ada Edy Harto, di belakang ada Herry Kiswanto yang juga kapten tim.

Ada juga Parlian Siagian di tengah, yang kelak menjadi duetnya sebagai pelatih di Putra Kalteng. Ada juga Bujang Nasril dan Arif Hidayat, dua pemain senior yang terkenal keras di lapangan. Dari KTB pula, Kashartadi bisa menembus Timnas Senior yang tengah dipersiapkan ke SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

Kashartadi termasuk pemain termuda. Namun, oleh pelatih asal Uni Sovyet (kini Rusia) Anatoly Polisin, dia dipercaya masuk line up di posisi bek kanan.

 ''Polosin memakai polanya 3-5-2. Saya di kanan dan Hanafing di kiri,'' ungkap Kashartadi.

Di bawah Polosin, Kashartadi tak pernah terpental.Padahal,  banyak pemain yang out karena tak kuat dengan metode latihannya. Salah satunya adalah dua pemain senior, Jaya Hartono dan Fachri Husaini.

 Namun, hasil latihan itu tak sia-sia. Kashartadi dkk mampu menjadi juara usai di final mengalahkan Thailand dengan adu penalti 4-3.

 ''Namun, saya tak ikut menendang saat adu penalti. Medalinya masih saya simpan,'' jelas Kashartadi yang kemudian mengambil sebuah medali dari lemarinya.
 Dari keberhasilan itu, Kashartadi mendapat penghargaan. Setiap bulan, dia memperoleh kiriman Rp 100 ribu.
 ''Tapi sekarang saya nggak pernah ngecek,'' ujarnya sambil tertawa. (*/bersambung)

Read More

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (1)

Kashartadi dengan medali SEA Games 1991
Salatiga, Ragunan, dan Masuk Timnas

Sukses sebagai pemain sudah banyak dilakukan. Begitu juga sebagai pelatih. Namun, seorang Kashartadi mampu melakukannya.
--
JALAN menuju Kwarasan, Grogol, Sukoharjo, cukup berbelok. Apalagi, saat penulis ke sana saat malam hari.

Harus bertanya hingga tiga kali untuk sampai ke daerah yang berada di Kabupaten Sukoharjo bagian utara tersebut. Seorang dengan kaos oranye menunggu di depan sebuah pos ronda.

 ''Ayo langsung ke rumah saja. Motornya dimasukan,'' kata lelaki  yang bernama Kashartadi tersebut.

 Ternyata, rumah lelaki yang pernah menjadi bintang di kancah sepak bola Indonesia tersebut tepat di depan pos ronda tersebut. Di halaman rumah bercat kunig-biru tersebut ada sebuah mobil double gardan putih. Saat masuk ke ruang tamu foto-foto dengan nuasan sepak bola terpajang.

 ''Ini foto saat saya masih di PSSI Junior ketika TC di Frankurt, Jerman, pada 1988. Di atasnya foto-foto ketika menjadi pemain Timnas SEA Games 1991,'' terang Kashartadi sambil menunjuk foto-foto yang dipajangnya dengan rapi.

 Tak lupa, di antara foto itu ada Kashartadi bersama rekan-rekannya di klub Kramayudha Tiga Berlian (KTB), Palembang. Di awal karirnya, KTB dan Timnas Junior punya ikatan.

 ''Awal karir saya dari Adidas Solo, kemudian masuk Diklat Salatiga (sekarang pindah ke Semarang dengan nama PPLP). Setelah dari Salatiga, saya direkrut Diklat Ragunan,'' ujar Kashartadi.

 Di Ragunan, dia menambahkan, banyak talenta-talenta yang kelak dikemudian hari. Kashartadi menyebut ada nama Listianto Raharjo di posisi penjaga gawang, Toyo Haryono di belakang, dan Peri Sandria di depan.

 ''Pelatih kami Burkard Pape.Karena dari Jerman, kami bisa TC di sana,'' lanjut Kashartadi yang kini berusia 47 tahun . (*/bersambung)


Read More

Nino Sutrisno, Pelatih Persebaya saat Juara Perserikatan 1987/1988 (3-Habis)

Sudah Tak Terlibat dalam Organisasi Sepak Bola



Sukses membawa Persebaya juara Divisi Utama mengangkat namanya. Nino Sutrisno pun banjir tawaran.
--
MENANGANI tim sebesar Persebaya Surabaya sudah menjadi idaman banyak pelatih. Namun, tak banyak yang bisa mendapatkan kesempatan tersebut.

Tapi, Nino Sutrisno mampu meraihnya. Memang, itu diraih dengan dukungan rekan lamanya, Misbach.

Kepercayaan itu pun mampu dibalasnya dengan prestasi. Green Force, julukan Persebaya, mampu meaih juara perserikatan.

Bermain di Stadion Senayan, sekarang Gelora Bung Karno, Persija Jakarta mampu dikalahkan dengan skor 3-2. Dahaga prestasi selama 10 tahun bisa berakhir.

Namun, tahun berikutnya, Nino tak lagi bersama Persebaya. Namun, bukan hal yang susah baginya mendapatkan klub.

''Saya mendapatkan tawaran menangani Gelora Dewata, Denpasar (Bali). Mislan (pemilik klub tersebut) menginginkan saya menjadi pelatih,'' ujar Nino.

Di klub yang kini bermetamorfosis menjadi Deltras tersebut tak dinginnya  tak hilang. Gelora Dewata dibawanya menjadi juara Liga pada 1991. Saat itu, dia dibantu oleh asistennya, Suharno. Kelak dikemudian hari, lelaki asal Klaten tersebut menjadi pelatih terkenal. Sayang, pada 2016, Suharno mendahului menghadapi Sang Khalik.

''Saya mengajaknya menjadi asisten,'' ujar Nino yang kini sudah berusia 80 tahun.

Baginya, Suharno seperti anak. Beberapa hari sebelum meninggal, Suharno datang ke rumah Nino yang berada di kawasan Blimbing, Kota Malang.

''Saya sempat mengingatkan dia soal perutnya yang besar. Saya bilang dijaga makannya,'' kenang bapak tiga anak tersebut.

Usai dari Gelora Dewata, Nino kembali ke kota asalnya, Malang. Dia dipercaya menangani Persema Malang.

Setelah itu, Nino sempat berkelana di beberapa klub. PSID Jombang merupakan salah satu klub yang pernah dilatih.

''Saya sempat juga berkecimpung di organisasi Askot PSSI Malang. Namun, mulai tahun ini (2017), saya memutuskan istirahat,'' ungkap Nino. (*/tamat)









Read More

Nino Sutrisno, Pelatih Persebaya saat Juara Perserikatan 1987/1988 (2)


Dapat Pinangan dari Kawan Lama

Hidupnya tak bisa lepas dari Surabaya meski asli dan tinggal di Malang. Tawaran menangani Persebaya pun tak kuasa ditolak.
--
TAK ada minuman atau makanan di meja rumah Nino Sutrisno saat penulis mendatangi rumahnya. Wajar karena saat itu Ramadan.

''Maaf pas ke sini kok ya pas puasa,'' kata Nino, lelaki yang pernah menjadi pemain dan pelatih Persebaya.

Baginya, Kota Pahlawan, julukan Surabaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidupnya. Bahkan, bagi masyarakat Surabaya yang usianya di atas 50 dan penggemar sepak bola, khususnya Persebaya, dia masih dikenang.

Kok bisa? Nino pernah menjadi bagian dari orang yang mengharumkan nama kota kedua terbesar di Indonesia tersebut. Dia masuk dalam jajaran pelatih ketika Persebaya menjadi juara pada musim 1987/1988.

''Setelah pensiun sebagai pemain, sebenarnya saya balik ke Malang. Saya mulai menjadi pelatih di sana mulai 1970-an,'' kenang Nino.

Dia pun sudah jarang atau malah tidak pernah bersentuhan dengan sepak bola Surabaya. Sehingga, lelaki yang kini berusia 80 tahun tersebut tak menyangka saat Misbach, kini sudah almarhum, datang ke rumahnya di kawasan Blimbing, Malang.

''Dia mengajak saya menangani Persebaya. Katanya, dia butuh sosok senior untuk mendampingi,'' ujar Nino.

Dia tak kuasa menolak. Misbach, ujarna, juga kawan lama.

Apalagi, semusim sebelumnya, Persebaya gagal menjadi juara karena kalah oleh PSIS Semarang di final di Senayan, sekarang Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan skor 1-0. Gol lawan dicetak Syaiful Amri di menit ke-77.

Ini membuat Nino tertantang dengan tawaran tersebut. Selain keduanya, Misbach dan Nino, pelatih Green Force, julukan Persebaya, adalah Koesmanhadi.

Dengan materi yang semakin matang, ketiganya mampu meracik komposisi dengan baik. Nino menjelaskan para pemain Persebaya yang ditanganinya saat itu antara lain I Putu Yasa di bawah mistar, Nuryono Haryadi di belakang, Muharom Rusdiana di bek kanan.

Di tengah, ujarnya, ada Yongki Kastanya, Maura Helly, dan Budi Juhanis. Di depan, Syamsul Arifin dan Mustaqim jadi tukang gedor.

Sejak penyisihan, laju Persebaya susah dibendung. Begitu juga di babak enam besar.

Budi Juhanis dkk tak terkalahkan. Ini membuat mereka menjadi pimpinan klasemen dan akan bertemu dengan Persija Jakarta yang berada di posisi kedua.

Final pun dilaksanakan di Stadion Senayan pada 27 Maret 1988. Dalam laga mahapenting ini, Persebaya mampu menang 3-2. Gol anak asuh Misbach, Nino, dan Koesmanhadi disumbangkan Budi, Yongki, dan Mustaqim. Sedang pemain Persija yang menjebol gawang Putu Yasa adalah Tiastono Taufik dan Kamarudin Betay.

Keberhasilan itu membuat nama Nino terangkat. Banyak klub yang tertarik meminangnya. (*/bersambung)







Read More

Nino Sutrisno, Pelatih Persebaya saat Juara Perserikatan 1987/1988 (1)

Nino Sutrisno yang masih gagah
Masih Sehat di Usia 80 Tahun

Persebaya pernah dahaga gelar hampir selama 10 tahun. Tapi, di tanganya, Green Force menjadi tim yang disegani.
---
SEBUAH rumah di Blimbang, Malang, pagi itu pagarnya tak terkunci. Di depannya tertulis nomor rumah yang berada tepat di sebuah tikungan kecil itu.

Hanya ada sepeda motor dan sepeda angin di teras rumah bercat coklat tersebut. Beberapa kali penulis mengetuk tak ada sahutan dari dalam.

Bahkan, suara kereta api yang melintas di dekat rumah semakin membuat suara ketukan di pintu tak terdengar. Tapi, setelah hampir 15 menit, sebuah mobil sedan keluaran 1990-an berjalan pelan dan parkir di samping rumah.

''Ayo duduk di dalam saja,'' kata lelaki berkumis yang ternyata adalah Nino Sutrisno, sang pemilik rumah.

Perawakannya masih gagal. Padahal, Nino mengaku, saat ini usianya sudah 80 tahun.

''Saya kelahiran 1937. Jadi tahun ini pas 80,'' ujarnya saat ditemui memakai kaos polo warna biru dengan tulisan Singapura di bagian depan.

Hanya, usia uzur tak membuat daya ingatnya berkurang. Nino masih dengan detail mengingat perjalanan hidupnya. Termasuk, saat membawa Persebaya Surabaya menjadi juara perserikatan pada musim 1987/1988.

''Saya juga saat menjadi pelatih bersama Misbach dan Kusmanhadi,'' ujar Nino.

Dia tak kuasa menolak menjadi pelatih, baginya, tim asal Kota Pahlawan,tak bisa lepas dari perjalanan hidupnya. Nino pernah berkostum Persebaya saat masih aktif sebagai pemain.

''Hampir sepuluh tahun lebih saya menjadi pemain Persebaya. Saya mulai bergabung sejak 1961,'' ungkap bapak tiga anak tersebut.

Demi tim berkostum hijau-hijau tersebut, dia rela menempuh perjalanan Malang-Surabaya. Sayang, selama menjadi pemain, Nino tak sempat memberikan gelar kepada Persebaya. (*/bersambung)



Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (5)

DUET: Parlin (kiri) bersama Kashartadi
Cedera Lutut, Pensiun di Persema

Dia pernah terbuang di Persebaya Surabaya.Namun, di klub berjuluk Green Force itu dia akhirnya kembali.
--
PENGGABUNGAN Galatama dan Perserikatan menjadi model kompetisi terbaru di Indonesia. Tentu, klub-klub memperkuat dirinya sebelum terjun di tahun pertama, 94/95.

Salah satunya, Persebaya Surabaya. Sebagai legendaris di Perserikatan, tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, tak mau jadi bulan-bulanan oleh sesama klub perserikatan ataupun Galatama.

Salah satunya dengan merekrut pemain-pemain bagus. Ternyata, salah satu pemain bidikan adalah Parlin Siagian.

Ini seakan kenangan lama kembali dibuka. Sepuluh tahun lalu, Parlin merupakan pemain yang dibuang oleh Persebaya.

Kondisi itu memaksa lelaki yang kini menjadi asisten pelatih di Putra Kalteng tersebut harus mencari klub lain. Di Kramayudha Tiga Berlian (KTB) akhirnya dia bergabung dan namanya ikut melambung.

''Alasannya, saya dijadikan sebagai senior di Persebaya,'' ungkap Parlin.

Di tim yang punya penggemar fanatik itu, dia hanya semusim. Cedera yang mulai membekap membuat Parlin kesulitan menembus pemain utama.

''Di Liga Indonesia musim 1995/1996, saya dapat tawaran ke Persema Malang. Pelatihna, Nino Sutrisno, mengajak ke sana,'' ujar Parlin.

Ternyata, tim asal Kota Apel itu menjadi pelabuhan terakhir dalam karirnya. Dalam sebuah latihan, cedera lututnya kambuh.

''Saya akhirnya memilih pensiun. Cedera lutut sudah tak bisa diajak kompromi,'' ungkap lelaki kelahiran 1967 tersebut.

Usai gantung sepatu, Parlin tetap tak bisa pisah dari sepak bola. Hanya, sekarang, terjun sebagai pelatih menjadi pilihan.

Memulai karir kepelatihan dari klub di tempat tinggalnya, dia pernah memoles beberapa klub seperti Persida Sidoarjo dan Persenga Nganjuk.

Musim 2017 ini, Parlin diajak oleh mantan rekannya di Kramayudha Tiga Berlian (KTB) Kashartadi. Dia dipilih selain pernah satu tim saat menjadi pemain, ternyata menjadi teman diskusi Kashartadi.

''Ini duet pertama kami sebagai pelatih,'' pungkas Parlin. (*/tamat)
Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (4)

Bermain di Posisi yang Tak Sesuai 
Parlin yang jadi asisten di Kalteng Putra

Setelah lama berpetualang, Parlin Siagian akhirnya pulang ke kota asalnya. Surabaya. Mitra menjadi pelabuhan karirnya dan datang dengan banderol yang bikin geleng-geleng kepala.
--
KRAMAYUDHA Tiga Berlain (KTB) menjadi klub yang dibela Parlin Siagian di karir profesional. Di klub asal Palembang, Sumatera Selatan, tersebut, kemampuannya bermain bola bisa dihargai.

Tapi, sayang, kebersamaan selama enam tahun tersebut harus berakhir. Kekecewaan pemilik klub, Sjarnoebi Said, membuat dia membubarkan diri.

Parlin diburu banyak klub. Namun, lelaki yang kini berusia 50 tahun tersebut memilih mereka yang serius dan mau menghargainya dengan harga yang layak.

Lelaki asal Trosobo, Sidoarjo, itu berlabuh di Mitra Surabaya. Hanya, tak lama dia berseragam klub dengan kostum warna hijau-hijau itu.

''Saya hanya semusim di Mitra. Ada klub yang memakai saya lagi,'' ujar Parlin.

Hanya, dia tak perlu pergi jauh. Sebuah klub lain dari Surabaya, Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) meminangnya.

''Saya seperti reuni di ASGS. Banyak pemain KTB yang bergabung di sana,'' kenang lelaki yang juga menantu pemilik manajemen olahraga, Sakura, Ade Dharma, tersebut.

Menurutnya, pemain-pemain itu merupakan pilar KTB yakni Rehmalem Perangin-angin dan Toyo Haryono di belakang, Makmum Adnan di tengah, serta Peri Sandria di depan.

''Pelatihnya Sartono Anwar. Saya dipasangkan di posisi yang bukan biasanya,'' lanjut Parlin.

Oleh ayah mantan pemain nasional, Nova Arianto, itu, dia ditempatkan sebagai gelandang sayap. Padahal, ungkap Parlin, dia biasanya bermain di gelandang tengah.

''Akibatnya, saya jarang jadi starter. Saya kalau main di sayap suruh lari, saya nggak cocok,'' ujar Parlin.

Hanya, oleh manajemen, dia tetap dipertahankan. Pertimbanganna, dalam setiap pertandingan, permainan Parlin tetap di level atas.

Hanya, sebuah tawaran dari klub Surabaya lainnya membuat dia tak kuasa menolak. (*/bersambung)



Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (3)

Parlin pernah jadi rebutan banyak klub
Namanya menjulang bersama Kramayudha Tiga Berlian (KTB). Sayang, kebersamaan itu harus diakhiri.
--
KTB kembali menjadi juara Piala Liga. Ini terjadi pada 1990 atau kali ketiga secara beruntun setelah 1987 dan 1988.

Apresiasinya, klub asal Palembang, Sumatera Selatan, tersebut menjadi wakil Indonesia di Piala Winners Asia. Dengan materi pemain mumpuni, KTB tak membuat malu negara dan bangsa.

Seperti dikutip dari wikipedia, pada pertandingan babak I, Parlin Siagian dkk  berjumpa dengan Geylang International dari Singapura.  Sistem yang dipakai adalah home and away.

Di Indonesia yang dilaksanakan 23 Desember 1990, kedua tim bermain imbang 1-1. Tapi, di Negeri Singa, julukan Singapura, enam hari kemudian, kedua tim bermain imbang lagi.

Hanya skornya 2-2. Meskipun secara agregat gol berimbang (3-3), KTB unggul gol tandang dan sekaligus lolos ke babak II yang akan menghadapi Dalian (Tiongkok).

Pertandingan babak II yang dilakukan secara home and away pun telah ditetapkan. Namun, karena cuaca di Negeri Panda, julukan Tiongkok, sedang kurang baik, AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) menetapkan tempat pertandingan di Singapura (29 dan 31 Januari 1991).

Tapi, pertandingan KTB vs Dalian batal. AFC pun menetapkan jadwal baru. Di Palembang (28 Februari 1991) dan di Dalian (6 Maret 1991). Hanya, pertandingan KTB versus Dalian batal lagi. Jadwal pun menjadi tidak menentu. Lalu, KTB menuntut ganti rugi dan sekaligus meminta AFC agar bersikap tegas.

PSSI melalui Sekretaris Umum Nugraha Besoes menyatakan bahwa kemenangan bagi KTB 2-0 secara WO     Apa pun hasilnya, KTB tetap mempersiapkan diri kembali. PSSI mempertanyakan kasus KTB vs Dalian. AFC pun memutuskan pertandingan diulang. Faktanya, pertandingan tersebut tidak pernah terjadi.

KTB dinyatakan menang atas Dalian. Sjarnoebi Said pun memuji usaha Kardono (Ketua Umum PSSI) dan Nugraha Besoes (Sekretaris Umum PSSI). Namun, Nugraha Besoes mengaku tidak pernah memberikan pernyataan soal KTB tersebut.

Putaran I Galatama XI/1990-1992 berakhir pada 30 Mei 1991 dengan menampilkan pertandingan Pelita Jaya (Jakarta) dengan KTB. Duel dua raksasan ini berakhir imbang  1-1 di Stadion Sanggraha Pelita Jaya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Isi Nominal Sendiri di Cek

Hasil pertandingan ini membuat Pupuk Kaltim menempati peringkat pertama dengan mengatasi Pelita Jaya (runner-up). Pada masa ini, putaran II direncanakan bergulir pada akhir Juni atau awal Juli 1991.

Eddy Harto, penjaga gawang KTB dan timnas Indonesia, diizinkan ke President’s Cup 1991 di Seoul, Korea Selatan. Indonesia gagal total dan Eddy Harto sempat kemasukan 12 gol.

KTB mengundurkan diri dari Piala Winners Asia I/1990-1991. Selain kecewa di Piala Winners Asia I/1990-1991, rumors-nya, Sjarnoebi Said, pemilik KTB, menganggap mental Eddy Harto terganggu karena telah kemasukan 12 gol.   Abdul Kadir, pelatih KTB, mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

Pada Juni 1991, KTB sudah dilaporkan mundur. Dalam perkembangannya pula, KTB didiskualifikasi dari Piala Winners Asia I/1990-1991.AFC menjatuhi denda USD 3.000.     KTB pun akhirnya bubar dan tentu saja tidak ikut serta dalam (putaran II) Galatama XI/1990-1992.

''Semua pemain bingung dengan kondisi ini,'' ujar Parli saat ditemui di rumah menantunya, Ade Dharma, di kawasan Ketintang, Surabaya, pada Senin malam (30/5/2017).

Tapi, dengan kualitas yang dimiliki, tak susah baginya untuj mendapatkan klub baru. Bahkan, seorang tokoh bola memberikan cek kosong yang bebas diisi nominalnya oleh dia.

Dia akhirnya dibanderol Rp 200 juta. Transfer itu menjadi yang tertinggi pada musim 1991/1992.

 ''Saya bergabung dengan Mitra Surabaya. Saya bisa deket dengan rumah,'' ucap Parlin. (*/bersambung)
Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (2)

Parlin (kiri) dan menantunya, Ade Dharma.



Pemain Senior KTB pun Cocok


Skill tinggi bukan jaminan menembus Persebaya Surabaya. Untung, kegagalan itu malah memberikan banyak hikmah bagi Parlin Siagian.
--
BAKAT besar Parlin Siagian tercampakan dari kampung halamannya. Dia dianggap kalah bersaing oleh pemain-pemain lain yang bisa jadi kualitasnya di bawah lelaki yang kini berusia 50 tahun tersebut.

 Namun, siapa sangka, dicoretnya Parlin dicium tim lain. Oleh temannya, dia diajak mengikuti seleksi di Jakarta.

 ''Saya diajak ke Kramayudha Tiga Berlian. Bukan hal yang mudah bisa masuk dalam seleksi itu,'' kenang Parlin saat ditemui di rumah menantunya, Ade Dharma, di Sakura Regency, Ketintang, Surabaya, pada Senin malam (29/5/2017).

Saat itu, ungkap Parlin, KTB, kependekan Kramayudha Tiga Berlin, dihuni para pesepak bola dengan nama besar. Di tengah, dia harus bersaing dengan Rully Nerre dan Zulkarnain Lubis.

''Untung dalam seleksi, pemain-pemain senior yang ada cocok dengan saya. Saya akhirnya diterima di KTB,''

Kedatangan Parlin langsung memberikan magis. Kemampuannya dipadu dengan pengalaman senior-senior membuat KTB keluar sebagai juara Galatama. Saat itu, kompetisi sepak bola Indonesia masih terbagi dua yakni Galatama dan Perserikatan.

Klub yang berhome base di Palembang, Sumatera Selatan, tersebut mengungguli rival berat, Pelita Jaya.KTB unggul satu poin dari klub milik keluarga Bakrie tersebut.

Sebagai gelandang muda, namanya mulai jadi buah bibir.Dia dianggap sebagai titisan gelandang legenda Indonesia di era 1970-an, Junaedi Abdillah.

''Padahal, idola saya adalah pesepak bola Eropa.. ha ha ha..,'' ujar Parlin.

 Bersamanya,KTB mampu tiga kali menjadi juara Piala Liga. Hebatnya, itu dilakukan secara beruntun.

''Saya dan KTB menjadi juara Piala Liga pada 1988, 1989, dan 1990,'' lanjut Parlin.

Tapi, sebenarnya, capaian terhebat Parlin dengan kostum putih-merah KTB adalah menembus babak semifinal Liga Champions Asia. Klub milik Sjarnoebi Said tersebut di babak grup bergabung bersama salah satu klub kuat asal Mesir, Al Ahly, dan satu klub India, East Bengal.

Pada babak grup , KTB menempati peringkat kedua dan lolos ke babak semifinal melawan wakil Korea Selatan, Daewoo Royals. Sayang, mereka gagal menembus babak final karena kalah telak 0-3.Untung, dalam perebutan posisi III, KTB mengalahkan Al-Ittihad dengan skor tipis 1-0.

''Capaian itu belum ada yang disamai oleh klub Indonesia. Persipura kan hanya di AFC Cup,'' tandas Parlin. (*)
Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (1)

Parlin (kanan) bersama rekannya di Ketintang
Gagal Tembus Skuad Persebaya Senior

Skillnya tak perlu diragukan. Wajar kalau dia pernah diburu banyak klub.
--
''DITUNGGU sampai malam.'' Sebuah pesan singkat dikirim Parlin Siagian kepada penulis. Dia tak mempermasalahkan jam pertemuannya.

Benar, saat jam menunjukkan pukul 22.45 WIB, tiga orang tengah bercengkerama di sebuah rumah di Sakura Regency, Ketintang, Surabaya, pada Senin malam (30/5/2017). Salah seorang di antaranya adalah Parlin.

 Bagi penggemar sepak bola di era 1980-an, nama tersebut sangat familiar. Dia selalu  menjadi bintang lapangan dalam setiap pertandingan yang dilakoni.

 Sebenarnya, Sakura bukan tempat tinggalnya. Lelaki yang kini berusia 50 tahun tersebut tinggal di kawasan Trosono, Sidoarjo, sekitar 10 kilometer dari lokasi pertemuan. Sakura merupakan tempat tinggal menantunya, Ade Darman, yang mempersunting putrinya.

 Parlin sekarang pun beda dengan di eras kejayaannya di lapangan hijau. Rambutnya mulai menipis dan kulitnya agak hitam.

 Sedang di era 1980-an, Parlin bak artis di lapangan hijau. Kulitnya putih dengan rambut tersisir rapi. Hanya, sederet kumis yang membuatnya sama dengan saat usianya masih 20-an.

 ''Kulit saya hitam karena Kalteng Putra latihan setiap hari pukul 14.00. Di sana panas sekali,'' terang Parlin.

 Ya, Kalteng Putra merupakan tim yang ditanganinya sekarang. Dia dimintai sahabatnya, Kashartadi, untuk menjadi asisten.

 Parlin dan Kashartadi merupakan sahabat saat sama-sama membela Kramayudha Tiga Berlian (KTB), Palembang, Sumatera Selatan. Di klub milik  Sjarnoebi Said tersebut nama mereka mulai mencuat di sepak bola Indonesia.

 Banyak juga yang mengira Parlin adalah pesepak bola dari Sumatera. Apalagi, di belakangnya ada nama Siagian.

 ''Saya asli Sidoarjo. Saya pun memulai bermain sepak bola di klub Surabaya, PSAD,'' ungkap Parlin.

 Bakatnya tercium klub Putra Gelora. Di klub milik HM Mislan tersebut kemampuannya terus meningkat.

''Saya pun mendapat panggilan seleksi Persebaya pada 1985. Tapi, saya gagal masuk,'' terang Parlin.

Ironisnya, dari 19 pemain yang mengikuti seleksi, dia satu-satunya pemain yang terpental. (*/bersambung)
Read More

Baru Tiga Tahun, Sudah Lahirkan Wonder Kid


Lapangan ASIFA tempat menempa pesepak bola muda


Aji Santoso dikenal sebagai pesepak bola dan pelatih sukses. Tapi, dia juga ingin melahirkan bibit-bibit sepak bola profesional.
--
BEBERAPA mobil berderet di depan sebuah bangunan. Untuk masuk pun hanya ada satu pintu.

Ruang di lobi ASIFA
Sebuah pos penjagaan bisa memantau siapa yang keluar masuk bangunan tersebut. Saat masuk, sebuah hamparan rumput hijau sudah terlihat.

 Namun, sebelum memasukinya, kita akan melewati ruangan yang terdiri dari sofa. Banyak yang memanfaatkannya untuk duduk-duduk.

 Di sebelah kiri dan kanan, ada sebuah tangga. Ternyata, tangga tersebut mengantarkan ke lantai dua dan tiga.

 Ya, bangunan tersebut adalah Asifa atau Aji Santoso International Football Academy. Melihat nama depannya, tentu bangunan tersebut tak jauh urusannya dengan sepak bola.

 Aji merupakan salah satu legenda hidup sepak bola Indonesia. Setumpuk prestasi mampu diukirnya. Arema mampu dibawanya menjadi juara Galatama musim 1992/1993. Persebaya juara Liga Indonesia 1997/1998 dan PSM Makassar 1999/2000.

 Di ajang internasional, Aji, yang kelahiran 1970,  menjadi bagian Timnas Indonesia saat meraih emas dalam SEA Games 1991. Emas tersebut menjadi yang terakhir karena setelah itu lagu Indonesia Raya tak pernah lagi berkumandang dalam pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara itu di cabang olahraga sepak bola.

 Ya, sejak 2013, Aji mendirikan akademi tersebut. Lokasinya di Kelurahan Mojolangu, Kota Malang.

 ''ASIFA merupakan sumbagsih dan kepedulian saya bersama partners terhadap pimbinaan usia muda di indonesia. ASIFA ingin mencetak bintang-bintang  sepak bola, '' kata Aji.

 Hasilnya pun sudah terlihat.Meski baru tiga tahun, ASIFA, jelas Aji,  sudah memunculkan wonder kid.

 ''Sadil Ramdani usianya masih 18 tahun.  Namun, dia sudah menjadi andalan Timnas Indonesia proyeksi SEA Games 2017,''

Ini, ungkap Aji, menjadi salah satu bukti bahwa cita citanya sangat serius dan sudah bisa memunculkan talenta-talenta muda. Visi dan misi ASIFA, ungkapnya, adalah  mencetak pemain-pemain berkualitas.

 Selain itu, adanya seleksi, kurikulum, dan pelatih yang menangani ikut mempercepat keinginan tersebut.

Di deretan pelatih ada nama Danur Dara yang pernah menangani Persema Malang dan PON Jatim. Ada juga mantan gelandang tangguh I Putu Gede, dan juga pelatih tim Liga 2 Redy Supriyanto.

 Pengalaman mereka membuat anak asuh ASIFA mempunyai ilmu yang sama dengan pemain-pemain di luar akademi tersebut. (*)
Read More

Dulu Main di GBK, Sekarang...

Deltras pernah menjadi tim yang disegani di sepak bola Indonesia. Dengan status sebagai tim di kasta tertinggi, mereka bertanding di stadion-stadion megah. Namun, kini, semuanya berbalik 180 derajat.
--
LAPANGAN Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, tak seperti biasanya. Lapangan yang biasanya sepi tersebut mendadak menjadi ramai.

Sejak dari pertigaan Tulangan, terlihat kelompok-kelompok orang dengan kaos merah. Jumlahnya semakin banyak saat saat mendekati lapangan yang jaraknya hanya 100 meter dari pertigaan.

 Ternyata, mereka yang memakai kaos merah tersebut adalah Deltamania, suporter klub Deltras Sidoarjo. Lalu mengapa mereka ke Lapangan Kenongo?

 Deltamania datang ke sana untuk memberikan dukungan kepada tim pujaannya, Deltras. The Lobster, julukan Deltras, bertanding di Lapangan Kenongo untuk menantang tuan rumah, PS Sinar Harapan (SH).

 Pertandingan yang dilaksanakan Minggu (21/5/2017) itu akhirnya dimenangkan oleh Deltras dengan skor 5-1. Mantan penyerang Persebaya Surabaya Wimba Sutan Fenosa menjadi bintang dengan sumbangan tiga gol (hat-trick).

 Sejak turun ke level terbawah, Deltras memang harus rela bermain di lapangan kampung. Meski bukan berarti meremehkan, tapi banyak tim Liga 3 atau level terbawah yang kualitasnya memang kurang bagus.

 Partai melawan Sinar Harapan juga menjadi laga away kedua Deltras. Sebelumnya, Wimba dkk bermain di Stadion Letjen Soedirman untuk menantang tuan rumah Bojonegoro FC. Saat itu, mereka menang 3-0.

 ''Lapangan Kenongo yang terjelek,'' kata Sekretaris Deltras Agustina Purwanto.
 Ini jauh beda dengan beberapa tahun lalu. Deltras selalu bertanding di stadion-stadion terbaik di negeri ini.

 Sebab, posisinya ketika itu merupakan anggota kasta tertinggi di ajang sepak bola nasional. Bahkan, bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno pun pernah dirasakan.

 Namun, seiring turunnya kasta, Deltras pun mengalami degradasi stadion yang dikunjungi. Tentu, kualitasnya masih di bawah kandang tim-tim Divisi Utama maupun Indonesia Super League (ISL).

 Kondisi terparah harus dilakoni ketika The Lobster turun ke Liga Nusantara, yang kini berganti nama menjadi Liga 3. Mereka harus rela bermain dari kampung ke kampung. (*)
Read More

Ya Melatih, Ya Atur Keuangan

Jefri (kanan) dan Uston (tengah)
Keduanya pernah menjadi bintang lapangan tengah di klubnya yang berbeda. Namun, kini keduanya bekerja sama di sebuah tim kecil.
--
DUA pria dewasa berada di tengah lapangan Jati, Sidoarjo, pada Rabu pagi (19/4/2017). Mereka kompak memakai kostum yang sama dan juga bertopi.

Sesekali keduanya memberikan pengarahan. Ternyata, keduanya adalah nama yang tak asing dalam pentas sepak bola Indonesia. Satunya Uston Nawawi dan satunya Jefri Dwi Hadi.

 Mereka merupakan gelandang top di eranya. Uston di pertengahan 1990-hingga pertengahan 2000-an. Sedangkan Jefri di era yang tak jauh beda.

 Hanya, keduanya berada di Lapangan Jati bukan untuk adu ketangguhan di lapangan sebagai pemain. Malah sebaliknya, Uston, 41, dan Jefri, 38, tengah bekerja sama menangani para pesepak bola muda.

 ''Kami dipercaya menjadi pelatih di Putra Jombang. Levelnya masih di Liga Nusantara,'' kata Uston yang diiyani Jefri.

 Mantan bintang lini tengan PSSI tersebut tak mempermasalhkan status klub barunya. Meski, musim lalu, Uston merupakan pelatih di level Divisi Utama ,sekarang Liga 1, yakni Laga FC.

 ''Saya ingin mengaplikasikan ilmu yang saya terima di B AFC. Kebetulan, sekitar satu bulan saya baru menerimanya,'' ungkapnya.

 Selain itu, dia mengaku tantangan di Putra Jombang lebih besar. Materi yang ditanganinya adalah para pesepak bola muda usia yang masih minim pengalaman.

 ''Usia mereka masih 20-an tahun. Mereka juga tak dipakai oleh klub lain saat ini,'' lanjut Uston.

 Selain itu, di Putra Jombang, ujarnya, dia juga belajar banyak manajemen. Alasannya, oleh bos klub tersebut, mantan bintang Persebaya Surabaya tersebut dipasrahi juga masalah keuangan.

 ''Termasuk membayar gaji pemain dan ofisial lain. Ini jadi tantangan bagi saya,'' ungkap Uston.

 Sementara, bagi Jefri, ini adalah pengalaman pertama menangani tim berlaga di kompetisi Liga Nusantara atau Liga 3. Setahun terakhir, dia hanya menangani klub internal Persida Sidoarjo.

 Dia juga ingin serius terjadi sebagai pelatih. Untuk itu, pada 2017, Jefri ingin mendapat lisensi C AFC. (*) 
Read More

Tak Bisa seperti Franco Baresi

Mat Halil pernah hengkang ke klub lain
Mat Halil harus berat hati gagal membela Persebaya di Liga 2. Karirnya di Persebaya termasuk gemilang. Berikut petikan wawancara dengan Halil usai berlatih di Lapangan Pandansari, Bungurasih, Sidoarjo, Selasa pagi (4/4/2017).

Anda tak berlatih dengan Persebaya?
-Sudah tidak karena saya terkena regulasi PSSI. Usia saya kan sudah di atas 35. (sekarang Halil berusia 38 tahun)

Saat ini Persebaya latihan?
-Iya latihan.Setelah regulasi keluar, saya menyadari tak ikut latihan.

Pensiun kalau begini?
-Ya pensiun karena sudah tak bisa main lagi. Meski sebenarnya saya masih mampu untuk tampil di Liga 2.

Anda memulai karir dan mengakhirinya juga di Persebaya?
-Iya.

Hanya, Anda tak bisa berkarir di satu klub seperti Franco Baresi di AC Milan (Italia)
-Saya pernah membela klub lain di Sidarjo. Deltras dan Persida.

Kenapa tidak memilih terus di Persebaya?
-Persebaya saat itu tak boleh ikut kompetisi. Saya tetap harus cari uang untuk menghidupi keluarga. Kebetulan ada tawaran di Deltras dan Persida. Meski bermain di klub lain, saya tetap ada waktu berlatih di Persebaya.

Anda mau jadi pelatih?
-Tentu mau. Saya sudah punya lisensi juga, B Nasional. Moga mengikuti yang AFC. (*)
Read More

Mat Halil, Usai Dipaksa Pensiun oleh Regulasi PSSI

KUMPUL: Mat Halil sudah tak berlatih bersama Persebaya
Kembali Dampingi Anak Asuh di Klub

Dia masih dibutuhkan oleh Persebaya yang berjuang mengarungi Liga 2. Sayang, regulasi membuat Mat Halil gagal mewujudkan ambisi kembali di kompetisi bersama Green Force.
--
SEORANG lelaki membawa tas kecil. Selangkah kemudian, dia masuk ke Lapangan Pandansari, Bungurasih, Sidoarjo, pada Selasa pagi (4/4/2017).

 Kehadirannya langsung disambut teriakan para pemain yang tengah berlatih. Rasanya sudah lama lelaki yang dikenal dengan nama Mat Halil tersebut tak ikut latihan.

 "Ya setelah Persebaya kembali diakui PSSI pada Januari lalu, saya juga jarang latihan di sini,'' katanya usai latihan.

 Ya, sebagai pesepak bola Green Force, julukan Persebaya, sudah menjadi kewajibannya bergabung dengan tim legendaris tersebut. Apalagi, Mat Halil merupakan kapten.

 Dia juga menjadi bagian dari Persebaya saat menjadi juara di Dirgantara Cup di Jogjakarta. Posisinya sebagai bek kiri masih susah digeser.

 Saat uji coba melawan PSIS di Stadion Gelora Bung Tomo,Surabaya, pada 19 Maret lalu, Halil tetap jadi starter. Ban kapten pun melilit di lengan.

 Sayang, sebulan mendekati kompetisi PSSI mengeluarkan regulasi. Awalnya, Liga 2 diperuntukkan bagi pesepak bola yang usianya di bawah 30 dengan lima pemain di atasnya. Artinya,  Halil masih bisa turun ke lapangan.

 Namun, bim salabim, aturan tersebut berganti. Liga 2 diperbolehkan untuk pesepak bola yang usianya di bawah 35.

 ''Saya sudah gak bisa main lagi. Pertandingan melawan PSIS ternyata menjadi pertandingan terakhir saya,'' ujar Halil sambil melakukan peregangan.

 Dia tak berontak. Halil menyadari itu dan sudah tak berlatih bersama rekan-rekannya lagi. Lelaki yang kini berusia 38 tahun tersebut juga tak masuk dalam daftar pelatih.

 Posisi ahli racik strategi dikomandoi oleh Iwan Setiawan. Dia dibantu oleh Lulut Kistono dan Ahmad serta Dedy Sutanto.

 ''Saya kembali mengelola klub saja. Mereka lebih butuh kehadiran saya,'' ujar pesepak bola yang sukses mengantarkan Jawa Timur meraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut. (*) 


Read More

Hanya Beda Satu Huruf

PENAMPILANNYA tak berubah. Baginya, berpakaian rapi dan macho menjadi trade marknya.
 Tapi, itu sesuai dengan kualitas yang dimiliki. Apalagi, musim lalu dia merupakan pelatih tim besar Persija Jakarta di ajang Torabica Soccer Championship.
 Namun, kedekatananya dengan Ketua Persida Ahmad Riyadh, pelatih dengan nama lengkap Muhammad Zein Alhadad tersebut memilih menangani tim dekat dengan tempat tinggalnya, Surabaya, Persida Sidoarjo.
 ''Saya di sini saja. Persija kan sudah ada Teco (Stefano Cugurra),'' kata Mamak.
 Dengan ilmu dan lisensi yang dimiliki, sebenarnya banyak klub yang meminangnya. Status sebagai mantan asisten pelatih Timnas U-23 juga mengangkat namanya.
 ''Cari yang dekat dan serius. Kebetulan Riyadh menawari ke Persida, ya saya terima,'' ujar Mamak, sapaannya.
 Baginya, Sidoarjo juga bukan kota yang asing. Mamak selalu melewati jika ingin ke rumah istrinya yang asli Bangil, Kabupaten Pasuruan.
 Tenaga dan pikiran Mamak juga pernah dipakai oleh Deltras. Klub itu sukses dibawanya menembus babak semifinal Copa Indonesia 2008. Ketika itu, Mamak juga terpilih sebagai pelatih terbaik di ajang tersebut.
 Sebagai pelatih, Mamak memulai karirnya dari Assyabaab Salim Group Surabaya. Setelah itu, lelaki berdarah Timur Tengah tersebut memoles Persijatim dan Persebaya Surabaya.
  Usai dari Persebaya, Mamak lama menghilang dan muncul kembali di Deltras. Bersama tiga rekannya, Aji Santoso, Mustaqim, dan Benny Van
 ''Hanya beda huruf saja, j dan d.  Satunya Persija dan satunya Persida,'' canda Mamak. (*)


   
Read More

Mamak Tangani Persida Sidoarjo

PERSIDA Sidoarjo akhirnya punya pelatih baru. Dia adalah Muhammad Zein Alhadad.
 Lelaki yang akrab disapa Mamak ini malah sudah langsung turun ke lapangan. Dia ingin memantau langsung calon anak buahnya yang akan berlaga di Liga 1 nanti.
 ''Saya melihat banyak pemain potensi di sini. Saya akan membawa Persida berprestasi,'' kata Mamak.
  Di antara pemain yang mengikuti seleksi Persida beberapa sudah kenyang  di pentas Indonesa Super League (ISL) atau yang sekarang disebut sebagai Liga 1. Di antara mereka ada Fachrudin dan Dodok Anang.
 Kedua pemain ini pernah sama-sama membela Sriwijaya FC saat juara di tangan Kashartadi. Musim lalu, Fachrudin dan Dodok juga sama-sama membela Persik Kediri.
 Masuknya nama Mamak cukup mengejutkan. Sebelumnya, tak pernah terdengar namanya dalam bursa pelatih Laskar Jenggolo. Alasannya, musim lalu, dia menukangi tim Liga 1 Persija Jakarta.
  ''Bagi saya nggak masalah menangani Liga 2. Biar ilmu yang saya dapat bermanfaat,'' jelas Mamak.
  Sebelum Mamak masuk, latihan Persida dipimpin Jamrawi. Dengan masuknya Mamak, posisinya jadi asisten pelatih.
 Bagi Jamrawi, Mamak bukan orang asing. Keduanya pernah berkostum Niac Mitra saat sama-sama menjadi pemain.
 Guna menjajal kualitas pemain, rencananya pagi ini, Persida akan melakukan uji coba dengan sesama tim Liga 2, Persebo Bondowo. (*)
Read More

Khairil ''Pace'' Anwar, Anak Tulehu yang Sukses di Persebaya (2)

Pace bersama pemain PWI, Kiki Juanda.
Persebaya ternyata bukan klub Surabaya yang kali pertama dibela. Kedekatan dengan pelatih membuat dia bisa ke Green Force.
--
UMPAN-umpannya masih terukur. Hanya, dalam latihan di Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, Pace lebih banyak bermain menyerang. Sebuah hal yang jarang dilakukannya saat masih aktif sebagai pemain.

''Posisi saya lebih banyak di belakang. Di Barito, saya bek kanan dan di Assyabaab (Salim Group Surabaya) bermain gelandang bertahan,'' kenang lelaki bernama lengkap Khairil Anwar Ohorella tersebut.

Bakatnya mulai dilirik saat bermain di Assyaab. Sebagai gelandang bertahan, dia mampu menjadi tembok kukuh dan sulit dilewati pemain lawan.

''Di Assyabaab, saya ditangani Pak Rusdy (Bahalwan). Di sana banyak pemain bintang,'' ucap lelaki kelahiran 1974 tersebut.

Pada musim 1995/1996, Rusdy mendapat kepercayaan menangani Persebaya. Ternyata, Pace pun dapat ajakan untuk membela Green Force.

''Itulah kenapa saya ke Persebaya. Pak Rusdy yang mengajak,'' lanjut lelaki yang kini banyak menghabiskan waktunya di Maluku tersebut.

Bersama tim pujaan Bonek tersebut, Pace tiga kali merasakan manisnya menjadi juara. Pada 1996/1997 dan 2004, dia mengangkat trofi juara Divisi Utama. Sementara pada 2003, Pace menjadi bagian dari Persebaya saat menjadi juara Divisi I.

''Saya tiga kali menjadi juara bersama Persebaya. Yang juara Divisi I pada 2003 dan Divisi Utama 2004, saya menjadi kapten,'' ungkap Pace.

Baginya, Persebaya merupakan tim yang tak akan pernah dilupakan. Banyak kenangan pahit dan manis yang dialami.

''Saya juga banyak hutang budi dengan Cak Narto (mantan Wali Kota Surabaya Soenarto). Dia banyak berjasa bagi saya,'' tambah Pace.

Soenarto, ungkapnya, juga tahu bagaimana dedikasinya membela Persebaya. Sehingga, dia sempat emosi saat dikabarkan menerima suap.

''Saya ini main dan habis-habisan membela Persebaya. Kok ada yang nuduh suap. Tentu saya emosi dan saya tantang,'' lanjut Pace.

Baginya, dia siap dibunuh jika terbukti suap. Namun, sebaliknya.

''Saya akan melakukan hal yang sama kalau saya tak terbukti,'' ujarnya sambil mengenang masa mudanya. Namun, usai juara, Pace harus meninggalkan Persebaya. (*/bersambung

)
Read More

Khairil ''Pace'' Anwar, Anak Tulehu yang Sukses di Persebaya (1)

Persebaya  bukan hanya punya gelandang penuh skill. Tim ini juga pernah diperkuat pemain tengah yang terkenal keras dan bisa bertahan lama.
--
SEORANG dengan kaos putih dan celana hitam tengah melakukan pemanasan di pinggir lapangan Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya,pada Kamis 16 Februari 2017 lalu. Dengan sabar dia menanti pemain yang sudah lelah dalam latihan rutin tim PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Timur tersebut.


 Ternyata tak lama kemudian, seseorang memberinya rompi. Artinya, dia sudah harus menunjukkan aksinya di lapangan di stadion legendaris tersebut.

Ternyata, pemain tersebut pernah menjadi pujaan penonton di stadion yang kali pertama dipakai untuk menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) 1969. Hanya, sekarang badannya mulai gemuk. Lemak di perut membuat badan kekarnya dulu mulai hilang.
''Ayo Pace. Lama kamu gak main di sini,'' teriak salah satu pemain yang pagi itu ikut berlatih bersama PWI Jatim.

Di lapangan, skillnya sangat terlihat. Umpan-umpannya nyaris selalu tepat.

Sebenarnya, kalau sudah ada yang tahu masa lalunya, pasti akan paham akan permainan dirinya. Pace? Ya dia adalah Pace, salah satu bintang yang pernah membela Persebaya Surabaya. Bahkan, ada yang menyebut nyong Tulehu, Maluku, ini sebagai salah satu legenda Green Force, julukan Persebaya.

Pace hanya sebuah panggilan bagi lelaki yang kini sudah berusia 43 tahun tersebut.Nama lengkapnya adalah Khairil Anwar Ohorella. Nama belakang adalah marga darinya.

 ''Saya memulai karir bermain di Tulehu, Maluku. Setelah itu, saya merantau ke Jakarta dan membela BNI 46,'' kata Pace dengan keringat masih membahasi kaosnya usai latihan.

 Di tim ibu kota tersebut, kemampuannya semakin terasah. Ini membuat Pace bisa bergabung dengan klub Barito Putra, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

 ''Dari sana, saya hanya semusim dan pindah ke Assyabaab Salim Group Surabaya. Saat itu, Assyabaab dilatih Rusdy (Bahalwan),'' terangnya. (bersambung)
Read More

Abdul Khamid, Si Tendangan Geledeg Alumnus PSSI Garuda I (3-Habis)

Abdul Khamid kini hanya menangani SSB

Jaya di masa muda bukan jaminan kehidupan Abdul Khamid bergelimang harta. Dia harus melalui hari-harinya dengan tertatih-tatih.
--
SEBUAH sepeda motor terparkir di depan Stadion R. Soedrasono, Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan, pada Jumat (10/2/2017). Moda roda dua itu pun bukan barang baru.
 Kondisinya juga kurang terawat. Tak berspion dan bunyi di sana-sini ketika dipakai. Sepeda keluaran pabrikan Jepang tersebut punya Abdul Khamid.
 Dengan pemain dengan nama besar, tentu cukup mengejutkan dengan kondisi tersebut. Dia pernah menjadi tulang punggung Timnas Indonesia di ajang internasional.
 ''Sekarang, saya hanya melatih anak-anak di SSB,'' ujar Khamid yang rambutnya memutih semua tersebut.
 Tentu melatih SSB pemasukannya tak sebesar jika dia menangani klub senior. Padahal, saat dipercaya memoles, Khamid mampu menorehkan prestasi.
 ''Saya yang ikut mengangkat Persebaya ke ISL. Hanya, posisi saya asisten pelatih,'' ungkap Khamid.
 Persebaya yang dimaksud Khamid di sini adalah Persebaya yang banyak disebut sebagai Persebaya DU. Setelah promosi, tim ini sempat berganti beberapa nama dan kini menjadi Bhayangkara FC.
 Khamid bergabung usai diajak Tony Ho. Keduanya akrab karena sama-sama pernah dibesarkan di Garuda I.
 Sayang, saat berada di ISL, Khamid tak berada di dalamnya. Dia pun akhirnya memilih balik ke daerah asalnya di Kabupaten Pasuruan.
  Bakat sepak bola Khamid menurun kepadua dua anak lelakinya, Abdurahman Effendi dan Feri Liga Saputra. Keduanya pernah membela Persekabpas.
 Sayang, Abdurahman dan Feri tak bisa mengikuti jejak kebesaran sang ayah. Keduanya hanya berkutat dari satu klub ke klub lain tanpa pernah mengenakan kostum Timnas Indonesia.
 Dengan kembali ke kampung halaman dan menangani SSB, Khamid pernah dikabarkan menjadi tukang antarjemput anak sekolah. Hanya, kini, pekerjaan tersebut sudah tak lagi dijalani.
 ''Saya hanya menjadi pelatih SSB,'' tandasnya. (*/habis)
Read More

Abdul Khamid, Si Tendangan Geledeg Alumnus PSSI Garuda (2)

Abdul Khamid membela Niac Mitra hingga bubar

Di Niac Mitra kesetiaan Abdul Khamid layak diacungi jempol. Dia baru pindah setelah klub tersebut bubar
--
SEBUAH botol mineral di tangan Abdul Khamid. Sesekali dia memukulkannya ke lantai di sela-sela perbincangan.
 Semua orang di sekitar Stadion R. Soedrasono, Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan, sudah paham. Khamid, sapaan karib Abdul Khamid, merupakan salah satu bintang sepak bola yang pernah lahir di Bumi Sakera.
 Dia akan selalu bersemangat jika menceritakan kehebatan di masa lalunya. Klub yang mengangkat karirnya adalah Niac Mitra.
 Lelaki yang kini berusia 59 tahun tersebut bergabung dengan usai berada di PSSI Garuda I, proyek ambisius milik PSSI. Penampilan Khamid mampu memikat pemilik Niac Mitra, A. Wenas.
 Permainan taktisnya di lini tengah dianggap mampu membawa kembali prestasi Niac Mitra. Apalagi, kebetulan, klub asal Surabaya tersebut tengah melakukan regenerasi.
 Para pemain yang sudah dianggap uzur digantikan oleh tenaga-tenaga muda. Khamid menjadi bagian tim saat Niac Mitra menjadi juara Galatama, kompetisi sepak bola semi profesional yang pernah ada di Indonesia, pada musim 1987/1988.
 Sayang, setahun kemudian, Khamid dkk gagal mempertahankan gelar. Mereka harus puas di posisi kedua di bawah Pelita Jaya. Ironisnya, Niac Mitra gagal karena kalah selisih gol.
  Poin yang dikumpulkan kedua klub sama, yakni 46. Hanya, Pelita, yang dimiliki keluarga Bakrie, mengemas 51 gol dan kemasukan 21 gol. Sedang Niac ''hanya' menjebol gawang lawan 46 kali dan kemasukannya sama dengan Pelita.
 Kebersamaan Khamid dengan Niac Mitra akhirnya berakhir pada 1990. Bukan karena dia sudah tak dipakai, tapi karena Wenas membubarkan klub tersebut.
 Setelah itu, Khamid mulai berpetualang dari satu klub ke klub yang lain. Petrokimia Gresik hingga Persiba Balikpapan.
 ''Saya pensiun di saat usia yang sudah tak muda. Hampir 40 tahun,'' kenang Khamid. (*-bersambung)
Read More

Abdul Khamid, Si Tendangan Geledek Alumnus PSSI Garuda I (1)

Abdul Khamid saat di Stadion R. Soedrasono
Indonesia pernah punya pemain dengan tendangan kerasnya yang terkenal. Namun, di hari tuanya, dia hanya memegang SSB.
--
SEORANG lelaki memakai topi putih dan kaos putih duduk di pinggir lapangan Stadion Pogar,Bangil, Kabupaten Pasuruan, pada Jumat (10/2/2016). Dia tengah asyik berbincang dengan mantan pemain Arema Sunardi.

Tak lama kemudian, lelaki tersebut beranjak keluar. Dia kemudian duduk di atas sepeda motornya yang terparkir di depan stadion tersebut.

Beberapa orang silih berganti mengajaknya berbincang. Bagi masyarakat Kabupaten Pasuruan, khususnya insan sepak bola ternyata sosok tersebut sudah sangat familiar.

Dia adalah Abdul Khamid. Di era 1980-an, dia menjadi sosok yang mengharumkan nama daerahnya asalnya tersebut.

''Sejak 1981, saya dapat panggilan masuk Garuda I. Sejak itu, saya membela Timnas Indonesia,'' kata Khamid, sapaan karibnya.

Selama hampir empat tahun,lelaki yang kini berusia 59 tahun tersebut digembleng di proyek ambisius pertama PSSI tersebut.

''Pelatih yang menangani awal antara Edy Sofyan. Setelah itu ada beberapa pelatih termasuk Barbatana dari Brasil,'' kenang Khamid sambil duduk di pintu masuk stadion.

Selama berada di PSSI Garuda I, dia pun melanglang buana. Salah satunya, Khamid pernah berlaga di Piala Raja di Thailand.

Usai dari PSSI Garuda, Khamid tak pulang kampung. Bakat besarnya tercium oleh pemilin Niac Mitra, A. Wenas.

Khamid ditarik klub legendaris dari Surabaya tersebut. Kebetulan, Niac juga tengah melakukan regenerasi pemain.

''Saya membela Niac Mitra hingga klub tersebut bubar.'' (*-bersambung)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com