www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Koko Sunaryo, Mantan Kiper Persebaya Surabaya yang Jadi Guru Spiritual (3-Habis)

Koko memulai karir sepak bola di Madiun
Keputusan bulat sudah diambil Koko Sunaryo. Dia memilih meninggalkan statusnya sebagai kiper. Meski, tawaran masih datang menghampiri.
--
USIA 29 tahun belum termasuk uzur sebagai pesepak bola. Apalagi, itu untuk ukuran seorang penjaga gawang.

''Saya pilih mengabdikan diri di jalan Allah. Hidayah tersebut saya terima pada 1990. Hanya, saya benar-benar hijrah ke jalan Allah selesai dari Persebaya pada 1993,'' kenang Koko saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo.

Meski sudah meninggalkan sepak bola, tapi dia tetap tinggal tak jauh dari Gelora 10 Nopember, Surabaya. Tepatnya, ungkapnya, di Jalan Jambu.

''Di sana, saya tinggal dari 1992 hingga 1996. Saya mengasah ilmu yang saya dapat,'' ungkap lelaki asal Madiun tersebut.

Ternyata, lambat laun, banyak orang yang juga belajar kepada Koko. Rezeki pun ikut mengalir kepadanya.

''Setelah dari Jalan Jambu, saya sempat tinggal di Sepanjang, sebelum pindah ke Tanggulangin ini,'' lanjutnya.

Awalnya, orang yang belajar kepadanya hanya mereka yang tak jauh dari lingkungan Koko sebelumnya, yakni sepak bola. Menariknya, beberapa pesepak bola seangkatannya yang kini sudah jadi pelatih tetap rutin datang ke rumahnya.

Sayang, Koko tak ingin nama-nama tersebut dipublikasikan. Alasannya, lelaki 51 tahun tersebut menjaga privasi mereka.

Kegiatan yang dilakukannya, ucap Koko, setiap Kamis malam atau biasa disebut malam Jumat adalah istiqosah. Sedangkan pengajian rutin dilaksanakan pada tanggal 15 kalender Islam.

''Kami menyebutnya pengajian Padang Bulan karena saat itu bulan tengah bulat atau bulan purnama. Banyak juga teman-teman dulu dan para pesepak bola yang hadir,'' ujar Koko.

Namun, dia mengakui tak bisa meninggalkan sepak bola terlalu lama atau 100 persen. Buktinya, pada 2002, Koko kembali ke lapangan hanya.

''Ada rekan yang menawari saya menjadi pelatih kiper. Hanya, syaratnya saya tak bisa selalu di lapangan,'' lanjut dia.

Tercatat pada 2002, Koko memoles PSM Madiun, 2004 ke PSSS Situbondo, dan 2009-2014 ke Persepam Pamekasan.

''Di Pamekesan, saya membawa tim tersebut dari bawah hingga lolos ke ISL (Indonesian Super League),'' jelas Koko.

Sebenarnya, dia sempat dipertahankan di kesebelasan asal Pulau Madura tersebut. Hanya, masalah prinsip yang membuat Koko memilih keluar.

''Saya begini saja. Yang penting barokah rezekinya,'' pungkas dia. (*)


Karir Koko Sunaryo
Pemain
1982-1986: PSM Madiun
1986: Bina Taruna Jakarta
1987-1990: NIAC Mitra
1991-1992: Mitra Surabaya
1992-1993: Persebaya Surabaya

Pelatih
2002: PSM Madiun
2004: PSSS Situbondo
2009-2012: Persepam Pamekasan



Read More

Koko Sunaryo, Mantan Kiper Persebaya Surabaya yang Jadi Guru Spiritual (2)

Koko Sunaryo gantung sepatu di usia muda
Pensiun, Tolak Tawaran Tiga Klub 

Niac Mitra menjadi salah satu klub besar di kancah Galatama. Gelar juara mampu diraih. Sayang, perjalanannya harus terhenti. Koko Sunaryo pun merasakan akibat.
--
KABAR duka menghampiri Koko Sunaryo. Dia dipaksa meninggalkan klub yang selama ini dikawalnya di bawah mistar.

''Saya pindah ke Kramayudha Tiga Berlian. Di sana, saya hanya bertahan selama semusim,'' kenang Koko.

Salah satu faktor yang membuatnya pindah karena klub yang disingkat KTB tersebut pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Dia kurang sreg jika harus menyeberang ke pulau lain.

Selain itu, hidupnya lagi Mitra membuat Koko ingin kembali ke Surabaya. Meski, klub yang dulunya milik A. Wenas tersebut berganti nama Mitra Surabaya.

Di awal musim saat ditangani Andi Slamet dan Djoko Malis, Koko menjadi kiper inti. Sayang, di tengah jalan, terjadi pergantian pelatih.

''Saat pelatih baru M Basri, saya jadi kiper pengganti. Ini membuat saya ingin meninggalkan Mitra Surabaya,'' jelas lelaki yang kini tinggal di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, tersebut.

Bahkan, dia ingin gantung sepatu dan memilih bekerja. Koko pun meminta izin kepada bos Mitra saat itu.

''Tapi yang mengejutkannya, saya malah disuruh ke Persebaya Surabaya. Saya disuruh ikut latihan dulu di sana,'' kenang Koko.

Ternyata, dia diterima di Green Force, julukan Persebaya. Dia mengakui di klub kebanggan Bonek itu tekanan begitu tinggi.

''Saya masih ingat dengan cacian dan makian. Tapi, itu bisa jadi bukti kecintaan penonton kepada Persebaya,'' lanjut Koko yang membela Persebaya di musim 1992-1993 tersebut.

Ternyata kiprahnya di klub yang berkandang di Stadion Gelora 10 Nopember tersebut menjadi pelabuhan terakhir karirnya. Meski secara usia, Koko masih sangat muda.

''Sekitar 29 tahun. Dengan berat hati saya memilih jalan di luar sepak bola khususnya sebagai kiper,'' ucap lelaki yang kini memanjangkan jenggotnya itu.

Padahal, terang Koko, banyak klub yang berminat meminang. Paling tidak, tambah Koko, ada tiga klub yang serius mendekati.

''Arseto Solo, Persedikab Kabupaten Kediri, dan Persiba Balikpapan mau saya ke sana. Namun, saya sudah yakin dengan keputusan yang saya ambil.''

Koko Sunaryo punya jalan sendiri. Dia pun yakin keputusannya sudah bulat. (*-bersambung)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com