www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Khairil ''Pace'' Anwar, Anak Tulehu yang Sukses di Persebaya (2)

Pace bersama pemain PWI, Kiki Juanda.
Persebaya ternyata bukan klub Surabaya yang kali pertama dibela. Kedekatan dengan pelatih membuat dia bisa ke Green Force.
--
UMPAN-umpannya masih terukur. Hanya, dalam latihan di Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, Pace lebih banyak bermain menyerang. Sebuah hal yang jarang dilakukannya saat masih aktif sebagai pemain.

''Posisi saya lebih banyak di belakang. Di Barito, saya bek kanan dan di Assyabaab (Salim Group Surabaya) bermain gelandang bertahan,'' kenang lelaki bernama lengkap Khairil Anwar Ohorella tersebut.

Bakatnya mulai dilirik saat bermain di Assyaab. Sebagai gelandang bertahan, dia mampu menjadi tembok kukuh dan sulit dilewati pemain lawan.

''Di Assyabaab, saya ditangani Pak Rusdy (Bahalwan). Di sana banyak pemain bintang,'' ucap lelaki kelahiran 1974 tersebut.

Pada musim 1995/1996, Rusdy mendapat kepercayaan menangani Persebaya. Ternyata, Pace pun dapat ajakan untuk membela Green Force.

''Itulah kenapa saya ke Persebaya. Pak Rusdy yang mengajak,'' lanjut lelaki yang kini banyak menghabiskan waktunya di Maluku tersebut.

Bersama tim pujaan Bonek tersebut, Pace tiga kali merasakan manisnya menjadi juara. Pada 1996/1997 dan 2004, dia mengangkat trofi juara Divisi Utama. Sementara pada 2003, Pace menjadi bagian dari Persebaya saat menjadi juara Divisi I.

''Saya tiga kali menjadi juara bersama Persebaya. Yang juara Divisi I pada 2003 dan Divisi Utama 2004, saya menjadi kapten,'' ungkap Pace.

Baginya, Persebaya merupakan tim yang tak akan pernah dilupakan. Banyak kenangan pahit dan manis yang dialami.

''Saya juga banyak hutang budi dengan Cak Narto (mantan Wali Kota Surabaya Soenarto). Dia banyak berjasa bagi saya,'' tambah Pace.

Soenarto, ungkapnya, juga tahu bagaimana dedikasinya membela Persebaya. Sehingga, dia sempat emosi saat dikabarkan menerima suap.

''Saya ini main dan habis-habisan membela Persebaya. Kok ada yang nuduh suap. Tentu saya emosi dan saya tantang,'' lanjut Pace.

Baginya, dia siap dibunuh jika terbukti suap. Namun, sebaliknya.

''Saya akan melakukan hal yang sama kalau saya tak terbukti,'' ujarnya sambil mengenang masa mudanya. Namun, usai juara, Pace harus meninggalkan Persebaya. (*/bersambung

)
Read More

Khairil ''Pace'' Anwar, Anak Tulehu yang Sukses di Persebaya (1)

Persebaya  bukan hanya punya gelandang penuh skill. Tim ini juga pernah diperkuat pemain tengah yang terkenal keras dan bisa bertahan lama.
--
SEORANG dengan kaos putih dan celana hitam tengah melakukan pemanasan di pinggir lapangan Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya,pada Kamis 16 Februari 2017 lalu. Dengan sabar dia menanti pemain yang sudah lelah dalam latihan rutin tim PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Timur tersebut.


 Ternyata tak lama kemudian, seseorang memberinya rompi. Artinya, dia sudah harus menunjukkan aksinya di lapangan di stadion legendaris tersebut.

Ternyata, pemain tersebut pernah menjadi pujaan penonton di stadion yang kali pertama dipakai untuk menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) 1969. Hanya, sekarang badannya mulai gemuk. Lemak di perut membuat badan kekarnya dulu mulai hilang.
''Ayo Pace. Lama kamu gak main di sini,'' teriak salah satu pemain yang pagi itu ikut berlatih bersama PWI Jatim.

Di lapangan, skillnya sangat terlihat. Umpan-umpannya nyaris selalu tepat.

Sebenarnya, kalau sudah ada yang tahu masa lalunya, pasti akan paham akan permainan dirinya. Pace? Ya dia adalah Pace, salah satu bintang yang pernah membela Persebaya Surabaya. Bahkan, ada yang menyebut nyong Tulehu, Maluku, ini sebagai salah satu legenda Green Force, julukan Persebaya.

Pace hanya sebuah panggilan bagi lelaki yang kini sudah berusia 43 tahun tersebut.Nama lengkapnya adalah Khairil Anwar Ohorella. Nama belakang adalah marga darinya.

 ''Saya memulai karir bermain di Tulehu, Maluku. Setelah itu, saya merantau ke Jakarta dan membela BNI 46,'' kata Pace dengan keringat masih membahasi kaosnya usai latihan.

 Di tim ibu kota tersebut, kemampuannya semakin terasah. Ini membuat Pace bisa bergabung dengan klub Barito Putra, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

 ''Dari sana, saya hanya semusim dan pindah ke Assyabaab Salim Group Surabaya. Saat itu, Assyabaab dilatih Rusdy (Bahalwan),'' terangnya. (bersambung)
Read More

Abdul Khamid, Si Tendangan Geledeg Alumnus PSSI Garuda I (3-Habis)

Abdul Khamid kini hanya menangani SSB

Jaya di masa muda bukan jaminan kehidupan Abdul Khamid bergelimang harta. Dia harus melalui hari-harinya dengan tertatih-tatih.
--
SEBUAH sepeda motor terparkir di depan Stadion R. Soedrasono, Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan, pada Jumat (10/2/2017). Moda roda dua itu pun bukan barang baru.
 Kondisinya juga kurang terawat. Tak berspion dan bunyi di sana-sini ketika dipakai. Sepeda keluaran pabrikan Jepang tersebut punya Abdul Khamid.
 Dengan pemain dengan nama besar, tentu cukup mengejutkan dengan kondisi tersebut. Dia pernah menjadi tulang punggung Timnas Indonesia di ajang internasional.
 ''Sekarang, saya hanya melatih anak-anak di SSB,'' ujar Khamid yang rambutnya memutih semua tersebut.
 Tentu melatih SSB pemasukannya tak sebesar jika dia menangani klub senior. Padahal, saat dipercaya memoles, Khamid mampu menorehkan prestasi.
 ''Saya yang ikut mengangkat Persebaya ke ISL. Hanya, posisi saya asisten pelatih,'' ungkap Khamid.
 Persebaya yang dimaksud Khamid di sini adalah Persebaya yang banyak disebut sebagai Persebaya DU. Setelah promosi, tim ini sempat berganti beberapa nama dan kini menjadi Bhayangkara FC.
 Khamid bergabung usai diajak Tony Ho. Keduanya akrab karena sama-sama pernah dibesarkan di Garuda I.
 Sayang, saat berada di ISL, Khamid tak berada di dalamnya. Dia pun akhirnya memilih balik ke daerah asalnya di Kabupaten Pasuruan.
  Bakat sepak bola Khamid menurun kepadua dua anak lelakinya, Abdurahman Effendi dan Feri Liga Saputra. Keduanya pernah membela Persekabpas.
 Sayang, Abdurahman dan Feri tak bisa mengikuti jejak kebesaran sang ayah. Keduanya hanya berkutat dari satu klub ke klub lain tanpa pernah mengenakan kostum Timnas Indonesia.
 Dengan kembali ke kampung halaman dan menangani SSB, Khamid pernah dikabarkan menjadi tukang antarjemput anak sekolah. Hanya, kini, pekerjaan tersebut sudah tak lagi dijalani.
 ''Saya hanya menjadi pelatih SSB,'' tandasnya. (*/habis)
Read More

Abdul Khamid, Si Tendangan Geledeg Alumnus PSSI Garuda (2)

Abdul Khamid membela Niac Mitra hingga bubar

Di Niac Mitra kesetiaan Abdul Khamid layak diacungi jempol. Dia baru pindah setelah klub tersebut bubar
--
SEBUAH botol mineral di tangan Abdul Khamid. Sesekali dia memukulkannya ke lantai di sela-sela perbincangan.
 Semua orang di sekitar Stadion R. Soedrasono, Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan, sudah paham. Khamid, sapaan karib Abdul Khamid, merupakan salah satu bintang sepak bola yang pernah lahir di Bumi Sakera.
 Dia akan selalu bersemangat jika menceritakan kehebatan di masa lalunya. Klub yang mengangkat karirnya adalah Niac Mitra.
 Lelaki yang kini berusia 59 tahun tersebut bergabung dengan usai berada di PSSI Garuda I, proyek ambisius milik PSSI. Penampilan Khamid mampu memikat pemilik Niac Mitra, A. Wenas.
 Permainan taktisnya di lini tengah dianggap mampu membawa kembali prestasi Niac Mitra. Apalagi, kebetulan, klub asal Surabaya tersebut tengah melakukan regenerasi.
 Para pemain yang sudah dianggap uzur digantikan oleh tenaga-tenaga muda. Khamid menjadi bagian tim saat Niac Mitra menjadi juara Galatama, kompetisi sepak bola semi profesional yang pernah ada di Indonesia, pada musim 1987/1988.
 Sayang, setahun kemudian, Khamid dkk gagal mempertahankan gelar. Mereka harus puas di posisi kedua di bawah Pelita Jaya. Ironisnya, Niac Mitra gagal karena kalah selisih gol.
  Poin yang dikumpulkan kedua klub sama, yakni 46. Hanya, Pelita, yang dimiliki keluarga Bakrie, mengemas 51 gol dan kemasukan 21 gol. Sedang Niac ''hanya' menjebol gawang lawan 46 kali dan kemasukannya sama dengan Pelita.
 Kebersamaan Khamid dengan Niac Mitra akhirnya berakhir pada 1990. Bukan karena dia sudah tak dipakai, tapi karena Wenas membubarkan klub tersebut.
 Setelah itu, Khamid mulai berpetualang dari satu klub ke klub yang lain. Petrokimia Gresik hingga Persiba Balikpapan.
 ''Saya pensiun di saat usia yang sudah tak muda. Hampir 40 tahun,'' kenang Khamid. (*-bersambung)
Read More

Abdul Khamid, Si Tendangan Geledek Alumnus PSSI Garuda I (1)

Abdul Khamid saat di Stadion R. Soedrasono
Indonesia pernah punya pemain dengan tendangan kerasnya yang terkenal. Namun, di hari tuanya, dia hanya memegang SSB.
--
SEORANG lelaki memakai topi putih dan kaos putih duduk di pinggir lapangan Stadion Pogar,Bangil, Kabupaten Pasuruan, pada Jumat (10/2/2016). Dia tengah asyik berbincang dengan mantan pemain Arema Sunardi.

Tak lama kemudian, lelaki tersebut beranjak keluar. Dia kemudian duduk di atas sepeda motornya yang terparkir di depan stadion tersebut.

Beberapa orang silih berganti mengajaknya berbincang. Bagi masyarakat Kabupaten Pasuruan, khususnya insan sepak bola ternyata sosok tersebut sudah sangat familiar.

Dia adalah Abdul Khamid. Di era 1980-an, dia menjadi sosok yang mengharumkan nama daerahnya asalnya tersebut.

''Sejak 1981, saya dapat panggilan masuk Garuda I. Sejak itu, saya membela Timnas Indonesia,'' kata Khamid, sapaan karibnya.

Selama hampir empat tahun,lelaki yang kini berusia 59 tahun tersebut digembleng di proyek ambisius pertama PSSI tersebut.

''Pelatih yang menangani awal antara Edy Sofyan. Setelah itu ada beberapa pelatih termasuk Barbatana dari Brasil,'' kenang Khamid sambil duduk di pintu masuk stadion.

Selama berada di PSSI Garuda I, dia pun melanglang buana. Salah satunya, Khamid pernah berlaga di Piala Raja di Thailand.

Usai dari PSSI Garuda, Khamid tak pulang kampung. Bakat besarnya tercium oleh pemilin Niac Mitra, A. Wenas.

Khamid ditarik klub legendaris dari Surabaya tersebut. Kebetulan, Niac juga tengah melakukan regenerasi pemain.

''Saya membela Niac Mitra hingga klub tersebut bubar.'' (*-bersambung)
Read More

Tinggal Kombinasikan dengan Senior

Tim pelatih yang memantau seleksi Persida di Pagerwojo
SELEKSI pemain Persida Sidoarjo memasuki tahap akhir. Kini, Laskar Jenggolo, julukan Persida, sudah mengantongi 25 nama.

''Mereka merupakan hasil seleksi yang dilakukan selama tiga hari. Pemain ini hasil dari pantauan kompetisi internal Askab PSSI Sidoarjo,'' kata Gatot M., anggota tim seleksi pemain Persida musim 2017.

Sebelumnya, ada 84 pemain yang mendapat panggilan seleksi. Namun, di hari kedua, jumlah tersebut, jelas Gatot, menyusut menjadi 40 pemain di hari kedua.

''Tapi, 25 pemain ini belum pasti semua diambil untuk kompetisi. Kami masih akan menyeleksi pemain-pemain senior yang usianya di atas 25 tahun,'' jelas Gatot yang sukses membawa Blitar United menembus babak semifinal Liga Nusantara 2016 tersebut.

Para pemain senior itu, ungkapnya, di antaranya adalah Fachrudin. Musim lalu, dia membela Persik Kediri di pentas Divisi Utama.

Persida sendiri juga sudah berada di kasta Divisi Utama atau Liga 2. Namun, persiapan yang mepet bisa membuat mereka terancam turun kelas. (*)
Read More

Persida Mulai Gelar Seleksi

Lapangan Pagerwojo yang jadi tempat seleksi
LAPANGAN Pagerwojo, Buduran, Sidoarjo, beda dengan biasanya. Di pinggir lapangan juga penuh dengan sepeda motor yang diparkir.

Ada apa? Ternyata, di tengah lapangan para pesepak bola tengah mengikuti seleksi pembentukan tim Persida Sidoarjo. Rencananya, mereka akan dipersiapkan menghadapi Kompetisi Divisi Utama atau yang sekarang dinamakan Indonesia 2 oleh PSSI di era Edy Rahmayadi.

''Ini sudah seleksi hari kedua.Kami tinggal menyisakan 40 pemain dari 80-an pemain di seleksi hari pertama,'' ujar Gatot M, salah satu anggota tim seleksi Persida, saat ditemui di Lapangan Pagerwojo pada Senin sore (6/2/2017).

Seleksi sehari sebelumnya, ujarnya, digelar di Lapangan Sepande,Candi. Para pemain tersebut, ungkap Gatot, merupakan hasil pantauan dari Kompetisi Internal Askab PSSI Sidoarjo.

Namun, pemain hasil seleksi yang lolos hingga tahap akhir, belum jaminan masuk tim inti. Mereka masih akan diadu dengan para pesepak bola luar serta senior yang usianya di atas 25 tahun. Sesuai dengan regulasi yang ada, Liga 2 hanya memperbolehkan lima pemain yang usianya di atas 25. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com