www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Ya Melatih, Ya Atur Keuangan

Jefri (kanan) dan Uston (tengah)
Keduanya pernah menjadi bintang lapangan tengah di klubnya yang berbeda. Namun, kini keduanya bekerja sama di sebuah tim kecil.
--
DUA pria dewasa berada di tengah lapangan Jati, Sidoarjo, pada Rabu pagi (19/4/2017). Mereka kompak memakai kostum yang sama dan juga bertopi.

Sesekali keduanya memberikan pengarahan. Ternyata, keduanya adalah nama yang tak asing dalam pentas sepak bola Indonesia. Satunya Uston Nawawi dan satunya Jefri Dwi Hadi.

 Mereka merupakan gelandang top di eranya. Uston di pertengahan 1990-hingga pertengahan 2000-an. Sedangkan Jefri di era yang tak jauh beda.

 Hanya, keduanya berada di Lapangan Jati bukan untuk adu ketangguhan di lapangan sebagai pemain. Malah sebaliknya, Uston, 41, dan Jefri, 38, tengah bekerja sama menangani para pesepak bola muda.

 ''Kami dipercaya menjadi pelatih di Putra Jombang. Levelnya masih di Liga Nusantara,'' kata Uston yang diiyani Jefri.

 Mantan bintang lini tengan PSSI tersebut tak mempermasalhkan status klub barunya. Meski, musim lalu, Uston merupakan pelatih di level Divisi Utama ,sekarang Liga 1, yakni Laga FC.

 ''Saya ingin mengaplikasikan ilmu yang saya terima di B AFC. Kebetulan, sekitar satu bulan saya baru menerimanya,'' ungkapnya.

 Selain itu, dia mengaku tantangan di Putra Jombang lebih besar. Materi yang ditanganinya adalah para pesepak bola muda usia yang masih minim pengalaman.

 ''Usia mereka masih 20-an tahun. Mereka juga tak dipakai oleh klub lain saat ini,'' lanjut Uston.

 Selain itu, di Putra Jombang, ujarnya, dia juga belajar banyak manajemen. Alasannya, oleh bos klub tersebut, mantan bintang Persebaya Surabaya tersebut dipasrahi juga masalah keuangan.

 ''Termasuk membayar gaji pemain dan ofisial lain. Ini jadi tantangan bagi saya,'' ungkap Uston.

 Sementara, bagi Jefri, ini adalah pengalaman pertama menangani tim berlaga di kompetisi Liga Nusantara atau Liga 3. Setahun terakhir, dia hanya menangani klub internal Persida Sidoarjo.

 Dia juga ingin serius terjadi sebagai pelatih. Untuk itu, pada 2017, Jefri ingin mendapat lisensi C AFC. (*) 
Read More

Tak Bisa seperti Franco Baresi

Mat Halil pernah hengkang ke klub lain
Mat Halil harus berat hati gagal membela Persebaya di Liga 2. Karirnya di Persebaya termasuk gemilang. Berikut petikan wawancara dengan Halil usai berlatih di Lapangan Pandansari, Bungurasih, Sidoarjo, Selasa pagi (4/4/2017).

Anda tak berlatih dengan Persebaya?
-Sudah tidak karena saya terkena regulasi PSSI. Usia saya kan sudah di atas 35. (sekarang Halil berusia 38 tahun)

Saat ini Persebaya latihan?
-Iya latihan.Setelah regulasi keluar, saya menyadari tak ikut latihan.

Pensiun kalau begini?
-Ya pensiun karena sudah tak bisa main lagi. Meski sebenarnya saya masih mampu untuk tampil di Liga 2.

Anda memulai karir dan mengakhirinya juga di Persebaya?
-Iya.

Hanya, Anda tak bisa berkarir di satu klub seperti Franco Baresi di AC Milan (Italia)
-Saya pernah membela klub lain di Sidarjo. Deltras dan Persida.

Kenapa tidak memilih terus di Persebaya?
-Persebaya saat itu tak boleh ikut kompetisi. Saya tetap harus cari uang untuk menghidupi keluarga. Kebetulan ada tawaran di Deltras dan Persida. Meski bermain di klub lain, saya tetap ada waktu berlatih di Persebaya.

Anda mau jadi pelatih?
-Tentu mau. Saya sudah punya lisensi juga, B Nasional. Moga mengikuti yang AFC. (*)
Read More

Mat Halil, Usai Dipaksa Pensiun oleh Regulasi PSSI

KUMPUL: Mat Halil sudah tak berlatih bersama Persebaya
Kembali Dampingi Anak Asuh di Klub

Dia masih dibutuhkan oleh Persebaya yang berjuang mengarungi Liga 2. Sayang, regulasi membuat Mat Halil gagal mewujudkan ambisi kembali di kompetisi bersama Green Force.
--
SEORANG lelaki membawa tas kecil. Selangkah kemudian, dia masuk ke Lapangan Pandansari, Bungurasih, Sidoarjo, pada Selasa pagi (4/4/2017).

 Kehadirannya langsung disambut teriakan para pemain yang tengah berlatih. Rasanya sudah lama lelaki yang dikenal dengan nama Mat Halil tersebut tak ikut latihan.

 "Ya setelah Persebaya kembali diakui PSSI pada Januari lalu, saya juga jarang latihan di sini,'' katanya usai latihan.

 Ya, sebagai pesepak bola Green Force, julukan Persebaya, sudah menjadi kewajibannya bergabung dengan tim legendaris tersebut. Apalagi, Mat Halil merupakan kapten.

 Dia juga menjadi bagian dari Persebaya saat menjadi juara di Dirgantara Cup di Jogjakarta. Posisinya sebagai bek kiri masih susah digeser.

 Saat uji coba melawan PSIS di Stadion Gelora Bung Tomo,Surabaya, pada 19 Maret lalu, Halil tetap jadi starter. Ban kapten pun melilit di lengan.

 Sayang, sebulan mendekati kompetisi PSSI mengeluarkan regulasi. Awalnya, Liga 2 diperuntukkan bagi pesepak bola yang usianya di bawah 30 dengan lima pemain di atasnya. Artinya,  Halil masih bisa turun ke lapangan.

 Namun, bim salabim, aturan tersebut berganti. Liga 2 diperbolehkan untuk pesepak bola yang usianya di bawah 35.

 ''Saya sudah gak bisa main lagi. Pertandingan melawan PSIS ternyata menjadi pertandingan terakhir saya,'' ujar Halil sambil melakukan peregangan.

 Dia tak berontak. Halil menyadari itu dan sudah tak berlatih bersama rekan-rekannya lagi. Lelaki yang kini berusia 38 tahun tersebut juga tak masuk dalam daftar pelatih.

 Posisi ahli racik strategi dikomandoi oleh Iwan Setiawan. Dia dibantu oleh Lulut Kistono dan Ahmad serta Dedy Sutanto.

 ''Saya kembali mengelola klub saja. Mereka lebih butuh kehadiran saya,'' ujar pesepak bola yang sukses mengantarkan Jawa Timur meraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut. (*) 


Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com