www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (3)

Parlin pernah jadi rebutan banyak klub
Namanya menjulang bersama Kramayudha Tiga Berlian (KTB). Sayang, kebersamaan itu harus diakhiri.
--
KTB kembali menjadi juara Piala Liga. Ini terjadi pada 1990 atau kali ketiga secara beruntun setelah 1987 dan 1988.

Apresiasinya, klub asal Palembang, Sumatera Selatan, tersebut menjadi wakil Indonesia di Piala Winners Asia. Dengan materi pemain mumpuni, KTB tak membuat malu negara dan bangsa.

Seperti dikutip dari wikipedia, pada pertandingan babak I, Parlin Siagian dkk  berjumpa dengan Geylang International dari Singapura.  Sistem yang dipakai adalah home and away.

Di Indonesia yang dilaksanakan 23 Desember 1990, kedua tim bermain imbang 1-1. Tapi, di Negeri Singa, julukan Singapura, enam hari kemudian, kedua tim bermain imbang lagi.

Hanya skornya 2-2. Meskipun secara agregat gol berimbang (3-3), KTB unggul gol tandang dan sekaligus lolos ke babak II yang akan menghadapi Dalian (Tiongkok).

Pertandingan babak II yang dilakukan secara home and away pun telah ditetapkan. Namun, karena cuaca di Negeri Panda, julukan Tiongkok, sedang kurang baik, AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) menetapkan tempat pertandingan di Singapura (29 dan 31 Januari 1991).

Tapi, pertandingan KTB vs Dalian batal. AFC pun menetapkan jadwal baru. Di Palembang (28 Februari 1991) dan di Dalian (6 Maret 1991). Hanya, pertandingan KTB versus Dalian batal lagi. Jadwal pun menjadi tidak menentu. Lalu, KTB menuntut ganti rugi dan sekaligus meminta AFC agar bersikap tegas.

PSSI melalui Sekretaris Umum Nugraha Besoes menyatakan bahwa kemenangan bagi KTB 2-0 secara WO     Apa pun hasilnya, KTB tetap mempersiapkan diri kembali. PSSI mempertanyakan kasus KTB vs Dalian. AFC pun memutuskan pertandingan diulang. Faktanya, pertandingan tersebut tidak pernah terjadi.

KTB dinyatakan menang atas Dalian. Sjarnoebi Said pun memuji usaha Kardono (Ketua Umum PSSI) dan Nugraha Besoes (Sekretaris Umum PSSI). Namun, Nugraha Besoes mengaku tidak pernah memberikan pernyataan soal KTB tersebut.

Putaran I Galatama XI/1990-1992 berakhir pada 30 Mei 1991 dengan menampilkan pertandingan Pelita Jaya (Jakarta) dengan KTB. Duel dua raksasan ini berakhir imbang  1-1 di Stadion Sanggraha Pelita Jaya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Isi Nominal Sendiri di Cek

Hasil pertandingan ini membuat Pupuk Kaltim menempati peringkat pertama dengan mengatasi Pelita Jaya (runner-up). Pada masa ini, putaran II direncanakan bergulir pada akhir Juni atau awal Juli 1991.

Eddy Harto, penjaga gawang KTB dan timnas Indonesia, diizinkan ke President’s Cup 1991 di Seoul, Korea Selatan. Indonesia gagal total dan Eddy Harto sempat kemasukan 12 gol.

KTB mengundurkan diri dari Piala Winners Asia I/1990-1991. Selain kecewa di Piala Winners Asia I/1990-1991, rumors-nya, Sjarnoebi Said, pemilik KTB, menganggap mental Eddy Harto terganggu karena telah kemasukan 12 gol.   Abdul Kadir, pelatih KTB, mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

Pada Juni 1991, KTB sudah dilaporkan mundur. Dalam perkembangannya pula, KTB didiskualifikasi dari Piala Winners Asia I/1990-1991.AFC menjatuhi denda USD 3.000.     KTB pun akhirnya bubar dan tentu saja tidak ikut serta dalam (putaran II) Galatama XI/1990-1992.

''Semua pemain bingung dengan kondisi ini,'' ujar Parli saat ditemui di rumah menantunya, Ade Dharma, di kawasan Ketintang, Surabaya, pada Senin malam (30/5/2017).

Tapi, dengan kualitas yang dimiliki, tak susah baginya untuj mendapatkan klub baru. Bahkan, seorang tokoh bola memberikan cek kosong yang bebas diisi nominalnya oleh dia.

Dia akhirnya dibanderol Rp 200 juta. Transfer itu menjadi yang tertinggi pada musim 1991/1992.

 ''Saya bergabung dengan Mitra Surabaya. Saya bisa deket dengan rumah,'' ucap Parlin. (*/bersambung)
Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (2)

Parlin (kiri) dan menantunya, Ade Dharma.



Pemain Senior KTB pun Cocok


Skill tinggi bukan jaminan menembus Persebaya Surabaya. Untung, kegagalan itu malah memberikan banyak hikmah bagi Parlin Siagian.
--
BAKAT besar Parlin Siagian tercampakan dari kampung halamannya. Dia dianggap kalah bersaing oleh pemain-pemain lain yang bisa jadi kualitasnya di bawah lelaki yang kini berusia 50 tahun tersebut.

 Namun, siapa sangka, dicoretnya Parlin dicium tim lain. Oleh temannya, dia diajak mengikuti seleksi di Jakarta.

 ''Saya diajak ke Kramayudha Tiga Berlian. Bukan hal yang mudah bisa masuk dalam seleksi itu,'' kenang Parlin saat ditemui di rumah menantunya, Ade Dharma, di Sakura Regency, Ketintang, Surabaya, pada Senin malam (29/5/2017).

Saat itu, ungkap Parlin, KTB, kependekan Kramayudha Tiga Berlin, dihuni para pesepak bola dengan nama besar. Di tengah, dia harus bersaing dengan Rully Nerre dan Zulkarnain Lubis.

''Untung dalam seleksi, pemain-pemain senior yang ada cocok dengan saya. Saya akhirnya diterima di KTB,''

Kedatangan Parlin langsung memberikan magis. Kemampuannya dipadu dengan pengalaman senior-senior membuat KTB keluar sebagai juara Galatama. Saat itu, kompetisi sepak bola Indonesia masih terbagi dua yakni Galatama dan Perserikatan.

Klub yang berhome base di Palembang, Sumatera Selatan, tersebut mengungguli rival berat, Pelita Jaya.KTB unggul satu poin dari klub milik keluarga Bakrie tersebut.

Sebagai gelandang muda, namanya mulai jadi buah bibir.Dia dianggap sebagai titisan gelandang legenda Indonesia di era 1970-an, Junaedi Abdillah.

''Padahal, idola saya adalah pesepak bola Eropa.. ha ha ha..,'' ujar Parlin.

 Bersamanya,KTB mampu tiga kali menjadi juara Piala Liga. Hebatnya, itu dilakukan secara beruntun.

''Saya dan KTB menjadi juara Piala Liga pada 1988, 1989, dan 1990,'' lanjut Parlin.

Tapi, sebenarnya, capaian terhebat Parlin dengan kostum putih-merah KTB adalah menembus babak semifinal Liga Champions Asia. Klub milik Sjarnoebi Said tersebut di babak grup bergabung bersama salah satu klub kuat asal Mesir, Al Ahly, dan satu klub India, East Bengal.

Pada babak grup , KTB menempati peringkat kedua dan lolos ke babak semifinal melawan wakil Korea Selatan, Daewoo Royals. Sayang, mereka gagal menembus babak final karena kalah telak 0-3.Untung, dalam perebutan posisi III, KTB mengalahkan Al-Ittihad dengan skor tipis 1-0.

''Capaian itu belum ada yang disamai oleh klub Indonesia. Persipura kan hanya di AFC Cup,'' tandas Parlin. (*)
Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (1)

Parlin (kanan) bersama rekannya di Ketintang
Gagal Tembus Skuad Persebaya Senior

Skillnya tak perlu diragukan. Wajar kalau dia pernah diburu banyak klub.
--
''DITUNGGU sampai malam.'' Sebuah pesan singkat dikirim Parlin Siagian kepada penulis. Dia tak mempermasalahkan jam pertemuannya.

Benar, saat jam menunjukkan pukul 22.45 WIB, tiga orang tengah bercengkerama di sebuah rumah di Sakura Regency, Ketintang, Surabaya, pada Senin malam (30/5/2017). Salah seorang di antaranya adalah Parlin.

 Bagi penggemar sepak bola di era 1980-an, nama tersebut sangat familiar. Dia selalu  menjadi bintang lapangan dalam setiap pertandingan yang dilakoni.

 Sebenarnya, Sakura bukan tempat tinggalnya. Lelaki yang kini berusia 50 tahun tersebut tinggal di kawasan Trosono, Sidoarjo, sekitar 10 kilometer dari lokasi pertemuan. Sakura merupakan tempat tinggal menantunya, Ade Darman, yang mempersunting putrinya.

 Parlin sekarang pun beda dengan di eras kejayaannya di lapangan hijau. Rambutnya mulai menipis dan kulitnya agak hitam.

 Sedang di era 1980-an, Parlin bak artis di lapangan hijau. Kulitnya putih dengan rambut tersisir rapi. Hanya, sederet kumis yang membuatnya sama dengan saat usianya masih 20-an.

 ''Kulit saya hitam karena Kalteng Putra latihan setiap hari pukul 14.00. Di sana panas sekali,'' terang Parlin.

 Ya, Kalteng Putra merupakan tim yang ditanganinya sekarang. Dia dimintai sahabatnya, Kashartadi, untuk menjadi asisten.

 Parlin dan Kashartadi merupakan sahabat saat sama-sama membela Kramayudha Tiga Berlian (KTB), Palembang, Sumatera Selatan. Di klub milik  Sjarnoebi Said tersebut nama mereka mulai mencuat di sepak bola Indonesia.

 Banyak juga yang mengira Parlin adalah pesepak bola dari Sumatera. Apalagi, di belakangnya ada nama Siagian.

 ''Saya asli Sidoarjo. Saya pun memulai bermain sepak bola di klub Surabaya, PSAD,'' ungkap Parlin.

 Bakatnya tercium klub Putra Gelora. Di klub milik HM Mislan tersebut kemampuannya terus meningkat.

''Saya pun mendapat panggilan seleksi Persebaya pada 1985. Tapi, saya gagal masuk,'' terang Parlin.

Ironisnya, dari 19 pemain yang mengikuti seleksi, dia satu-satunya pemain yang terpental. (*/bersambung)
Read More

Baru Tiga Tahun, Sudah Lahirkan Wonder Kid


Lapangan ASIFA tempat menempa pesepak bola muda


Aji Santoso dikenal sebagai pesepak bola dan pelatih sukses. Tapi, dia juga ingin melahirkan bibit-bibit sepak bola profesional.
--
BEBERAPA mobil berderet di depan sebuah bangunan. Untuk masuk pun hanya ada satu pintu.

Ruang di lobi ASIFA
Sebuah pos penjagaan bisa memantau siapa yang keluar masuk bangunan tersebut. Saat masuk, sebuah hamparan rumput hijau sudah terlihat.

 Namun, sebelum memasukinya, kita akan melewati ruangan yang terdiri dari sofa. Banyak yang memanfaatkannya untuk duduk-duduk.

 Di sebelah kiri dan kanan, ada sebuah tangga. Ternyata, tangga tersebut mengantarkan ke lantai dua dan tiga.

 Ya, bangunan tersebut adalah Asifa atau Aji Santoso International Football Academy. Melihat nama depannya, tentu bangunan tersebut tak jauh urusannya dengan sepak bola.

 Aji merupakan salah satu legenda hidup sepak bola Indonesia. Setumpuk prestasi mampu diukirnya. Arema mampu dibawanya menjadi juara Galatama musim 1992/1993. Persebaya juara Liga Indonesia 1997/1998 dan PSM Makassar 1999/2000.

 Di ajang internasional, Aji, yang kelahiran 1970,  menjadi bagian Timnas Indonesia saat meraih emas dalam SEA Games 1991. Emas tersebut menjadi yang terakhir karena setelah itu lagu Indonesia Raya tak pernah lagi berkumandang dalam pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara itu di cabang olahraga sepak bola.

 Ya, sejak 2013, Aji mendirikan akademi tersebut. Lokasinya di Kelurahan Mojolangu, Kota Malang.

 ''ASIFA merupakan sumbagsih dan kepedulian saya bersama partners terhadap pimbinaan usia muda di indonesia. ASIFA ingin mencetak bintang-bintang  sepak bola, '' kata Aji.

 Hasilnya pun sudah terlihat.Meski baru tiga tahun, ASIFA, jelas Aji,  sudah memunculkan wonder kid.

 ''Sadil Ramdani usianya masih 18 tahun.  Namun, dia sudah menjadi andalan Timnas Indonesia proyeksi SEA Games 2017,''

Ini, ungkap Aji, menjadi salah satu bukti bahwa cita citanya sangat serius dan sudah bisa memunculkan talenta-talenta muda. Visi dan misi ASIFA, ungkapnya, adalah  mencetak pemain-pemain berkualitas.

 Selain itu, adanya seleksi, kurikulum, dan pelatih yang menangani ikut mempercepat keinginan tersebut.

Di deretan pelatih ada nama Danur Dara yang pernah menangani Persema Malang dan PON Jatim. Ada juga mantan gelandang tangguh I Putu Gede, dan juga pelatih tim Liga 2 Redy Supriyanto.

 Pengalaman mereka membuat anak asuh ASIFA mempunyai ilmu yang sama dengan pemain-pemain di luar akademi tersebut. (*)
Read More

Dulu Main di GBK, Sekarang...

Deltras pernah menjadi tim yang disegani di sepak bola Indonesia. Dengan status sebagai tim di kasta tertinggi, mereka bertanding di stadion-stadion megah. Namun, kini, semuanya berbalik 180 derajat.
--
LAPANGAN Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, tak seperti biasanya. Lapangan yang biasanya sepi tersebut mendadak menjadi ramai.

Sejak dari pertigaan Tulangan, terlihat kelompok-kelompok orang dengan kaos merah. Jumlahnya semakin banyak saat saat mendekati lapangan yang jaraknya hanya 100 meter dari pertigaan.

 Ternyata, mereka yang memakai kaos merah tersebut adalah Deltamania, suporter klub Deltras Sidoarjo. Lalu mengapa mereka ke Lapangan Kenongo?

 Deltamania datang ke sana untuk memberikan dukungan kepada tim pujaannya, Deltras. The Lobster, julukan Deltras, bertanding di Lapangan Kenongo untuk menantang tuan rumah, PS Sinar Harapan (SH).

 Pertandingan yang dilaksanakan Minggu (21/5/2017) itu akhirnya dimenangkan oleh Deltras dengan skor 5-1. Mantan penyerang Persebaya Surabaya Wimba Sutan Fenosa menjadi bintang dengan sumbangan tiga gol (hat-trick).

 Sejak turun ke level terbawah, Deltras memang harus rela bermain di lapangan kampung. Meski bukan berarti meremehkan, tapi banyak tim Liga 3 atau level terbawah yang kualitasnya memang kurang bagus.

 Partai melawan Sinar Harapan juga menjadi laga away kedua Deltras. Sebelumnya, Wimba dkk bermain di Stadion Letjen Soedirman untuk menantang tuan rumah Bojonegoro FC. Saat itu, mereka menang 3-0.

 ''Lapangan Kenongo yang terjelek,'' kata Sekretaris Deltras Agustina Purwanto.
 Ini jauh beda dengan beberapa tahun lalu. Deltras selalu bertanding di stadion-stadion terbaik di negeri ini.

 Sebab, posisinya ketika itu merupakan anggota kasta tertinggi di ajang sepak bola nasional. Bahkan, bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno pun pernah dirasakan.

 Namun, seiring turunnya kasta, Deltras pun mengalami degradasi stadion yang dikunjungi. Tentu, kualitasnya masih di bawah kandang tim-tim Divisi Utama maupun Indonesia Super League (ISL).

 Kondisi terparah harus dilakoni ketika The Lobster turun ke Liga Nusantara, yang kini berganti nama menjadi Liga 3. Mereka harus rela bermain dari kampung ke kampung. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com