www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 30 Mei 2017

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (1)

Parlin (kanan) bersama rekannya di Ketintang
Gagal Tembus Skuad Persebaya Senior

Skillnya tak perlu diragukan. Wajar kalau dia pernah diburu banyak klub.
--
''DITUNGGU sampai malam.'' Sebuah pesan singkat dikirim Parlin Siagian kepada penulis. Dia tak mempermasalahkan jam pertemuannya.

Benar, saat jam menunjukkan pukul 22.45 WIB, tiga orang tengah bercengkerama di sebuah rumah di Sakura Regency, Ketintang, Surabaya, pada Senin malam (30/5/2017). Salah seorang di antaranya adalah Parlin.

 Bagi penggemar sepak bola di era 1980-an, nama tersebut sangat familiar. Dia selalu  menjadi bintang lapangan dalam setiap pertandingan yang dilakoni.

 Sebenarnya, Sakura bukan tempat tinggalnya. Lelaki yang kini berusia 50 tahun tersebut tinggal di kawasan Trosono, Sidoarjo, sekitar 10 kilometer dari lokasi pertemuan. Sakura merupakan tempat tinggal menantunya, Ade Darman, yang mempersunting putrinya.

 Parlin sekarang pun beda dengan di eras kejayaannya di lapangan hijau. Rambutnya mulai menipis dan kulitnya agak hitam.

 Sedang di era 1980-an, Parlin bak artis di lapangan hijau. Kulitnya putih dengan rambut tersisir rapi. Hanya, sederet kumis yang membuatnya sama dengan saat usianya masih 20-an.

 ''Kulit saya hitam karena Kalteng Putra latihan setiap hari pukul 14.00. Di sana panas sekali,'' terang Parlin.

 Ya, Kalteng Putra merupakan tim yang ditanganinya sekarang. Dia dimintai sahabatnya, Kashartadi, untuk menjadi asisten.

 Parlin dan Kashartadi merupakan sahabat saat sama-sama membela Kramayudha Tiga Berlian (KTB), Palembang, Sumatera Selatan. Di klub milik  Sjarnoebi Said tersebut nama mereka mulai mencuat di sepak bola Indonesia.

 Banyak juga yang mengira Parlin adalah pesepak bola dari Sumatera. Apalagi, di belakangnya ada nama Siagian.

 ''Saya asli Sidoarjo. Saya pun memulai bermain sepak bola di klub Surabaya, PSAD,'' ungkap Parlin.

 Bakatnya tercium klub Putra Gelora. Di klub milik HM Mislan tersebut kemampuannya terus meningkat.

''Saya pun mendapat panggilan seleksi Persebaya pada 1985. Tapi, saya gagal masuk,'' terang Parlin.

Ironisnya, dari 19 pemain yang mengikuti seleksi, dia satu-satunya pemain yang terpental. (*/bersambung)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com