www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 31 Mei 2017

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (3)

Parlin pernah jadi rebutan banyak klub
Namanya menjulang bersama Kramayudha Tiga Berlian (KTB). Sayang, kebersamaan itu harus diakhiri.
--
KTB kembali menjadi juara Piala Liga. Ini terjadi pada 1990 atau kali ketiga secara beruntun setelah 1987 dan 1988.

Apresiasinya, klub asal Palembang, Sumatera Selatan, tersebut menjadi wakil Indonesia di Piala Winners Asia. Dengan materi pemain mumpuni, KTB tak membuat malu negara dan bangsa.

Seperti dikutip dari wikipedia, pada pertandingan babak I, Parlin Siagian dkk  berjumpa dengan Geylang International dari Singapura.  Sistem yang dipakai adalah home and away.

Di Indonesia yang dilaksanakan 23 Desember 1990, kedua tim bermain imbang 1-1. Tapi, di Negeri Singa, julukan Singapura, enam hari kemudian, kedua tim bermain imbang lagi.

Hanya skornya 2-2. Meskipun secara agregat gol berimbang (3-3), KTB unggul gol tandang dan sekaligus lolos ke babak II yang akan menghadapi Dalian (Tiongkok).

Pertandingan babak II yang dilakukan secara home and away pun telah ditetapkan. Namun, karena cuaca di Negeri Panda, julukan Tiongkok, sedang kurang baik, AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) menetapkan tempat pertandingan di Singapura (29 dan 31 Januari 1991).

Tapi, pertandingan KTB vs Dalian batal. AFC pun menetapkan jadwal baru. Di Palembang (28 Februari 1991) dan di Dalian (6 Maret 1991). Hanya, pertandingan KTB versus Dalian batal lagi. Jadwal pun menjadi tidak menentu. Lalu, KTB menuntut ganti rugi dan sekaligus meminta AFC agar bersikap tegas.

PSSI melalui Sekretaris Umum Nugraha Besoes menyatakan bahwa kemenangan bagi KTB 2-0 secara WO     Apa pun hasilnya, KTB tetap mempersiapkan diri kembali. PSSI mempertanyakan kasus KTB vs Dalian. AFC pun memutuskan pertandingan diulang. Faktanya, pertandingan tersebut tidak pernah terjadi.

KTB dinyatakan menang atas Dalian. Sjarnoebi Said pun memuji usaha Kardono (Ketua Umum PSSI) dan Nugraha Besoes (Sekretaris Umum PSSI). Namun, Nugraha Besoes mengaku tidak pernah memberikan pernyataan soal KTB tersebut.

Putaran I Galatama XI/1990-1992 berakhir pada 30 Mei 1991 dengan menampilkan pertandingan Pelita Jaya (Jakarta) dengan KTB. Duel dua raksasan ini berakhir imbang  1-1 di Stadion Sanggraha Pelita Jaya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Isi Nominal Sendiri di Cek

Hasil pertandingan ini membuat Pupuk Kaltim menempati peringkat pertama dengan mengatasi Pelita Jaya (runner-up). Pada masa ini, putaran II direncanakan bergulir pada akhir Juni atau awal Juli 1991.

Eddy Harto, penjaga gawang KTB dan timnas Indonesia, diizinkan ke President’s Cup 1991 di Seoul, Korea Selatan. Indonesia gagal total dan Eddy Harto sempat kemasukan 12 gol.

KTB mengundurkan diri dari Piala Winners Asia I/1990-1991. Selain kecewa di Piala Winners Asia I/1990-1991, rumors-nya, Sjarnoebi Said, pemilik KTB, menganggap mental Eddy Harto terganggu karena telah kemasukan 12 gol.   Abdul Kadir, pelatih KTB, mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

Pada Juni 1991, KTB sudah dilaporkan mundur. Dalam perkembangannya pula, KTB didiskualifikasi dari Piala Winners Asia I/1990-1991.AFC menjatuhi denda USD 3.000.     KTB pun akhirnya bubar dan tentu saja tidak ikut serta dalam (putaran II) Galatama XI/1990-1992.

''Semua pemain bingung dengan kondisi ini,'' ujar Parli saat ditemui di rumah menantunya, Ade Dharma, di kawasan Ketintang, Surabaya, pada Senin malam (30/5/2017).

Tapi, dengan kualitas yang dimiliki, tak susah baginya untuj mendapatkan klub baru. Bahkan, seorang tokoh bola memberikan cek kosong yang bebas diisi nominalnya oleh dia.

Dia akhirnya dibanderol Rp 200 juta. Transfer itu menjadi yang tertinggi pada musim 1991/1992.

 ''Saya bergabung dengan Mitra Surabaya. Saya bisa deket dengan rumah,'' ucap Parlin. (*/bersambung)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com