www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (2)

Kashartadi diapit Polosin dan asistennya, Iurin
Bertahan di Tengah Program Latihan Superkeras

Penampilannya menonjol dibandingkan rekan-rekannya di Diklat Ragunan, Jakarta. Kashartadi punya kelebihan dalam kecepatan.
--
CELANA pendek dikenakannya. Kulitnya terlihat lebih gelap dibandingkan biasanya.
 Namun, fisiknya tak banyak berubah. Ini menunjukkan bahwa Kashartadi masih sering latihan.
 Mungkin hanya kecepatannya yang mengalami penurunan. Maklum, kini usianya sudah 47 tahun.

Padahal, dengan kecepatan itu, dia mampu menembus kerasnya persaingan Timnas Junior. Bahkan, lelaki asal Solo, Jawa Tengah, tersebut sempat disebut-sebut sebagai salah satu bintang masa depan sepak bola Indonesia.

Buktinya, usai lulus dari SMA Ragunan, Jakarta,  Kashartadi langsung direkrut klub raksasa, Krama Yudha Tiga Berlian. Meski masih berusia belasan, namun lelaki yang lahir dari keluarga sepak bola tersebut tak susah menembus skuad inti tim yang berhome base di Palembang itu.

 ''Saya masuknya tetap memakai seleksi. Saya diterima di musim 1989,'' ujar Kashartadi.

Dari foto yang terpajang di rumahnya di kawasan Kwarasan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kashartadi paling muda. Di posisi kiper ada Edy Harto, di belakang ada Herry Kiswanto yang juga kapten tim.

Ada juga Parlian Siagian di tengah, yang kelak menjadi duetnya sebagai pelatih di Putra Kalteng. Ada juga Bujang Nasril dan Arif Hidayat, dua pemain senior yang terkenal keras di lapangan. Dari KTB pula, Kashartadi bisa menembus Timnas Senior yang tengah dipersiapkan ke SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

Kashartadi termasuk pemain termuda. Namun, oleh pelatih asal Uni Sovyet (kini Rusia) Anatoly Polisin, dia dipercaya masuk line up di posisi bek kanan.

 ''Polosin memakai polanya 3-5-2. Saya di kanan dan Hanafing di kiri,'' ungkap Kashartadi.

Di bawah Polosin, Kashartadi tak pernah terpental.Padahal,  banyak pemain yang out karena tak kuat dengan metode latihannya. Salah satunya adalah dua pemain senior, Jaya Hartono dan Fachri Husaini.

 Namun, hasil latihan itu tak sia-sia. Kashartadi dkk mampu menjadi juara usai di final mengalahkan Thailand dengan adu penalti 4-3.

 ''Namun, saya tak ikut menendang saat adu penalti. Medalinya masih saya simpan,'' jelas Kashartadi yang kemudian mengambil sebuah medali dari lemarinya.
 Dari keberhasilan itu, Kashartadi mendapat penghargaan. Setiap bulan, dia memperoleh kiriman Rp 100 ribu.
 ''Tapi sekarang saya nggak pernah ngecek,'' ujarnya sambil tertawa. (*/bersambung)

Read More

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (1)

Kashartadi dengan medali SEA Games 1991
Salatiga, Ragunan, dan Masuk Timnas

Sukses sebagai pemain sudah banyak dilakukan. Begitu juga sebagai pelatih. Namun, seorang Kashartadi mampu melakukannya.
--
JALAN menuju Kwarasan, Grogol, Sukoharjo, cukup berbelok. Apalagi, saat penulis ke sana saat malam hari.

Harus bertanya hingga tiga kali untuk sampai ke daerah yang berada di Kabupaten Sukoharjo bagian utara tersebut. Seorang dengan kaos oranye menunggu di depan sebuah pos ronda.

 ''Ayo langsung ke rumah saja. Motornya dimasukan,'' kata lelaki  yang bernama Kashartadi tersebut.

 Ternyata, rumah lelaki yang pernah menjadi bintang di kancah sepak bola Indonesia tersebut tepat di depan pos ronda tersebut. Di halaman rumah bercat kunig-biru tersebut ada sebuah mobil double gardan putih. Saat masuk ke ruang tamu foto-foto dengan nuasan sepak bola terpajang.

 ''Ini foto saat saya masih di PSSI Junior ketika TC di Frankurt, Jerman, pada 1988. Di atasnya foto-foto ketika menjadi pemain Timnas SEA Games 1991,'' terang Kashartadi sambil menunjuk foto-foto yang dipajangnya dengan rapi.

 Tak lupa, di antara foto itu ada Kashartadi bersama rekan-rekannya di klub Kramayudha Tiga Berlian (KTB), Palembang. Di awal karirnya, KTB dan Timnas Junior punya ikatan.

 ''Awal karir saya dari Adidas Solo, kemudian masuk Diklat Salatiga (sekarang pindah ke Semarang dengan nama PPLP). Setelah dari Salatiga, saya direkrut Diklat Ragunan,'' ujar Kashartadi.

 Di Ragunan, dia menambahkan, banyak talenta-talenta yang kelak dikemudian hari. Kashartadi menyebut ada nama Listianto Raharjo di posisi penjaga gawang, Toyo Haryono di belakang, dan Peri Sandria di depan.

 ''Pelatih kami Burkard Pape.Karena dari Jerman, kami bisa TC di sana,'' lanjut Kashartadi yang kini berusia 47 tahun . (*/bersambung)


Read More

Nino Sutrisno, Pelatih Persebaya saat Juara Perserikatan 1987/1988 (3-Habis)

Sudah Tak Terlibat dalam Organisasi Sepak Bola



Sukses membawa Persebaya juara Divisi Utama mengangkat namanya. Nino Sutrisno pun banjir tawaran.
--
MENANGANI tim sebesar Persebaya Surabaya sudah menjadi idaman banyak pelatih. Namun, tak banyak yang bisa mendapatkan kesempatan tersebut.

Tapi, Nino Sutrisno mampu meraihnya. Memang, itu diraih dengan dukungan rekan lamanya, Misbach.

Kepercayaan itu pun mampu dibalasnya dengan prestasi. Green Force, julukan Persebaya, mampu meaih juara perserikatan.

Bermain di Stadion Senayan, sekarang Gelora Bung Karno, Persija Jakarta mampu dikalahkan dengan skor 3-2. Dahaga prestasi selama 10 tahun bisa berakhir.

Namun, tahun berikutnya, Nino tak lagi bersama Persebaya. Namun, bukan hal yang susah baginya mendapatkan klub.

''Saya mendapatkan tawaran menangani Gelora Dewata, Denpasar (Bali). Mislan (pemilik klub tersebut) menginginkan saya menjadi pelatih,'' ujar Nino.

Di klub yang kini bermetamorfosis menjadi Deltras tersebut tak dinginnya  tak hilang. Gelora Dewata dibawanya menjadi juara Liga pada 1991. Saat itu, dia dibantu oleh asistennya, Suharno. Kelak dikemudian hari, lelaki asal Klaten tersebut menjadi pelatih terkenal. Sayang, pada 2016, Suharno mendahului menghadapi Sang Khalik.

''Saya mengajaknya menjadi asisten,'' ujar Nino yang kini sudah berusia 80 tahun.

Baginya, Suharno seperti anak. Beberapa hari sebelum meninggal, Suharno datang ke rumah Nino yang berada di kawasan Blimbing, Kota Malang.

''Saya sempat mengingatkan dia soal perutnya yang besar. Saya bilang dijaga makannya,'' kenang bapak tiga anak tersebut.

Usai dari Gelora Dewata, Nino kembali ke kota asalnya, Malang. Dia dipercaya menangani Persema Malang.

Setelah itu, Nino sempat berkelana di beberapa klub. PSID Jombang merupakan salah satu klub yang pernah dilatih.

''Saya sempat juga berkecimpung di organisasi Askot PSSI Malang. Namun, mulai tahun ini (2017), saya memutuskan istirahat,'' ungkap Nino. (*/tamat)









Read More

Nino Sutrisno, Pelatih Persebaya saat Juara Perserikatan 1987/1988 (2)


Dapat Pinangan dari Kawan Lama

Hidupnya tak bisa lepas dari Surabaya meski asli dan tinggal di Malang. Tawaran menangani Persebaya pun tak kuasa ditolak.
--
TAK ada minuman atau makanan di meja rumah Nino Sutrisno saat penulis mendatangi rumahnya. Wajar karena saat itu Ramadan.

''Maaf pas ke sini kok ya pas puasa,'' kata Nino, lelaki yang pernah menjadi pemain dan pelatih Persebaya.

Baginya, Kota Pahlawan, julukan Surabaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidupnya. Bahkan, bagi masyarakat Surabaya yang usianya di atas 50 dan penggemar sepak bola, khususnya Persebaya, dia masih dikenang.

Kok bisa? Nino pernah menjadi bagian dari orang yang mengharumkan nama kota kedua terbesar di Indonesia tersebut. Dia masuk dalam jajaran pelatih ketika Persebaya menjadi juara pada musim 1987/1988.

''Setelah pensiun sebagai pemain, sebenarnya saya balik ke Malang. Saya mulai menjadi pelatih di sana mulai 1970-an,'' kenang Nino.

Dia pun sudah jarang atau malah tidak pernah bersentuhan dengan sepak bola Surabaya. Sehingga, lelaki yang kini berusia 80 tahun tersebut tak menyangka saat Misbach, kini sudah almarhum, datang ke rumahnya di kawasan Blimbing, Malang.

''Dia mengajak saya menangani Persebaya. Katanya, dia butuh sosok senior untuk mendampingi,'' ujar Nino.

Dia tak kuasa menolak. Misbach, ujarna, juga kawan lama.

Apalagi, semusim sebelumnya, Persebaya gagal menjadi juara karena kalah oleh PSIS Semarang di final di Senayan, sekarang Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan skor 1-0. Gol lawan dicetak Syaiful Amri di menit ke-77.

Ini membuat Nino tertantang dengan tawaran tersebut. Selain keduanya, Misbach dan Nino, pelatih Green Force, julukan Persebaya, adalah Koesmanhadi.

Dengan materi yang semakin matang, ketiganya mampu meracik komposisi dengan baik. Nino menjelaskan para pemain Persebaya yang ditanganinya saat itu antara lain I Putu Yasa di bawah mistar, Nuryono Haryadi di belakang, Muharom Rusdiana di bek kanan.

Di tengah, ujarnya, ada Yongki Kastanya, Maura Helly, dan Budi Juhanis. Di depan, Syamsul Arifin dan Mustaqim jadi tukang gedor.

Sejak penyisihan, laju Persebaya susah dibendung. Begitu juga di babak enam besar.

Budi Juhanis dkk tak terkalahkan. Ini membuat mereka menjadi pimpinan klasemen dan akan bertemu dengan Persija Jakarta yang berada di posisi kedua.

Final pun dilaksanakan di Stadion Senayan pada 27 Maret 1988. Dalam laga mahapenting ini, Persebaya mampu menang 3-2. Gol anak asuh Misbach, Nino, dan Koesmanhadi disumbangkan Budi, Yongki, dan Mustaqim. Sedang pemain Persija yang menjebol gawang Putu Yasa adalah Tiastono Taufik dan Kamarudin Betay.

Keberhasilan itu membuat nama Nino terangkat. Banyak klub yang tertarik meminangnya. (*/bersambung)







Read More

Nino Sutrisno, Pelatih Persebaya saat Juara Perserikatan 1987/1988 (1)

Nino Sutrisno yang masih gagah
Masih Sehat di Usia 80 Tahun

Persebaya pernah dahaga gelar hampir selama 10 tahun. Tapi, di tanganya, Green Force menjadi tim yang disegani.
---
SEBUAH rumah di Blimbang, Malang, pagi itu pagarnya tak terkunci. Di depannya tertulis nomor rumah yang berada tepat di sebuah tikungan kecil itu.

Hanya ada sepeda motor dan sepeda angin di teras rumah bercat coklat tersebut. Beberapa kali penulis mengetuk tak ada sahutan dari dalam.

Bahkan, suara kereta api yang melintas di dekat rumah semakin membuat suara ketukan di pintu tak terdengar. Tapi, setelah hampir 15 menit, sebuah mobil sedan keluaran 1990-an berjalan pelan dan parkir di samping rumah.

''Ayo duduk di dalam saja,'' kata lelaki berkumis yang ternyata adalah Nino Sutrisno, sang pemilik rumah.

Perawakannya masih gagal. Padahal, Nino mengaku, saat ini usianya sudah 80 tahun.

''Saya kelahiran 1937. Jadi tahun ini pas 80,'' ujarnya saat ditemui memakai kaos polo warna biru dengan tulisan Singapura di bagian depan.

Hanya, usia uzur tak membuat daya ingatnya berkurang. Nino masih dengan detail mengingat perjalanan hidupnya. Termasuk, saat membawa Persebaya Surabaya menjadi juara perserikatan pada musim 1987/1988.

''Saya juga saat menjadi pelatih bersama Misbach dan Kusmanhadi,'' ujar Nino.

Dia tak kuasa menolak menjadi pelatih, baginya, tim asal Kota Pahlawan,tak bisa lepas dari perjalanan hidupnya. Nino pernah berkostum Persebaya saat masih aktif sebagai pemain.

''Hampir sepuluh tahun lebih saya menjadi pemain Persebaya. Saya mulai bergabung sejak 1961,'' ungkap bapak tiga anak tersebut.

Demi tim berkostum hijau-hijau tersebut, dia rela menempuh perjalanan Malang-Surabaya. Sayang, selama menjadi pemain, Nino tak sempat memberikan gelar kepada Persebaya. (*/bersambung)



Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (5)

DUET: Parlin (kiri) bersama Kashartadi
Cedera Lutut, Pensiun di Persema

Dia pernah terbuang di Persebaya Surabaya.Namun, di klub berjuluk Green Force itu dia akhirnya kembali.
--
PENGGABUNGAN Galatama dan Perserikatan menjadi model kompetisi terbaru di Indonesia. Tentu, klub-klub memperkuat dirinya sebelum terjun di tahun pertama, 94/95.

Salah satunya, Persebaya Surabaya. Sebagai legendaris di Perserikatan, tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, tak mau jadi bulan-bulanan oleh sesama klub perserikatan ataupun Galatama.

Salah satunya dengan merekrut pemain-pemain bagus. Ternyata, salah satu pemain bidikan adalah Parlin Siagian.

Ini seakan kenangan lama kembali dibuka. Sepuluh tahun lalu, Parlin merupakan pemain yang dibuang oleh Persebaya.

Kondisi itu memaksa lelaki yang kini menjadi asisten pelatih di Putra Kalteng tersebut harus mencari klub lain. Di Kramayudha Tiga Berlian (KTB) akhirnya dia bergabung dan namanya ikut melambung.

''Alasannya, saya dijadikan sebagai senior di Persebaya,'' ungkap Parlin.

Di tim yang punya penggemar fanatik itu, dia hanya semusim. Cedera yang mulai membekap membuat Parlin kesulitan menembus pemain utama.

''Di Liga Indonesia musim 1995/1996, saya dapat tawaran ke Persema Malang. Pelatihna, Nino Sutrisno, mengajak ke sana,'' ujar Parlin.

Ternyata, tim asal Kota Apel itu menjadi pelabuhan terakhir dalam karirnya. Dalam sebuah latihan, cedera lututnya kambuh.

''Saya akhirnya memilih pensiun. Cedera lutut sudah tak bisa diajak kompromi,'' ungkap lelaki kelahiran 1967 tersebut.

Usai gantung sepatu, Parlin tetap tak bisa pisah dari sepak bola. Hanya, sekarang, terjun sebagai pelatih menjadi pilihan.

Memulai karir kepelatihan dari klub di tempat tinggalnya, dia pernah memoles beberapa klub seperti Persida Sidoarjo dan Persenga Nganjuk.

Musim 2017 ini, Parlin diajak oleh mantan rekannya di Kramayudha Tiga Berlian (KTB) Kashartadi. Dia dipilih selain pernah satu tim saat menjadi pemain, ternyata menjadi teman diskusi Kashartadi.

''Ini duet pertama kami sebagai pelatih,'' pungkas Parlin. (*/tamat)
Read More

Parlin Siagian, Mantan Pemain Termahal di Sepak Bola Indonesia (4)

Bermain di Posisi yang Tak Sesuai 
Parlin yang jadi asisten di Kalteng Putra

Setelah lama berpetualang, Parlin Siagian akhirnya pulang ke kota asalnya. Surabaya. Mitra menjadi pelabuhan karirnya dan datang dengan banderol yang bikin geleng-geleng kepala.
--
KRAMAYUDHA Tiga Berlain (KTB) menjadi klub yang dibela Parlin Siagian di karir profesional. Di klub asal Palembang, Sumatera Selatan, tersebut, kemampuannya bermain bola bisa dihargai.

Tapi, sayang, kebersamaan selama enam tahun tersebut harus berakhir. Kekecewaan pemilik klub, Sjarnoebi Said, membuat dia membubarkan diri.

Parlin diburu banyak klub. Namun, lelaki yang kini berusia 50 tahun tersebut memilih mereka yang serius dan mau menghargainya dengan harga yang layak.

Lelaki asal Trosobo, Sidoarjo, itu berlabuh di Mitra Surabaya. Hanya, tak lama dia berseragam klub dengan kostum warna hijau-hijau itu.

''Saya hanya semusim di Mitra. Ada klub yang memakai saya lagi,'' ujar Parlin.

Hanya, dia tak perlu pergi jauh. Sebuah klub lain dari Surabaya, Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) meminangnya.

''Saya seperti reuni di ASGS. Banyak pemain KTB yang bergabung di sana,'' kenang lelaki yang juga menantu pemilik manajemen olahraga, Sakura, Ade Dharma, tersebut.

Menurutnya, pemain-pemain itu merupakan pilar KTB yakni Rehmalem Perangin-angin dan Toyo Haryono di belakang, Makmum Adnan di tengah, serta Peri Sandria di depan.

''Pelatihnya Sartono Anwar. Saya dipasangkan di posisi yang bukan biasanya,'' lanjut Parlin.

Oleh ayah mantan pemain nasional, Nova Arianto, itu, dia ditempatkan sebagai gelandang sayap. Padahal, ungkap Parlin, dia biasanya bermain di gelandang tengah.

''Akibatnya, saya jarang jadi starter. Saya kalau main di sayap suruh lari, saya nggak cocok,'' ujar Parlin.

Hanya, oleh manajemen, dia tetap dipertahankan. Pertimbanganna, dalam setiap pertandingan, permainan Parlin tetap di level atas.

Hanya, sebuah tawaran dari klub Surabaya lainnya membuat dia tak kuasa menolak. (*/bersambung)



Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com