www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 08 Juni 2017

Nino Sutrisno, Pelatih Persebaya saat Juara Perserikatan 1987/1988 (2)


Dapat Pinangan dari Kawan Lama

Hidupnya tak bisa lepas dari Surabaya meski asli dan tinggal di Malang. Tawaran menangani Persebaya pun tak kuasa ditolak.
--
TAK ada minuman atau makanan di meja rumah Nino Sutrisno saat penulis mendatangi rumahnya. Wajar karena saat itu Ramadan.

''Maaf pas ke sini kok ya pas puasa,'' kata Nino, lelaki yang pernah menjadi pemain dan pelatih Persebaya.

Baginya, Kota Pahlawan, julukan Surabaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidupnya. Bahkan, bagi masyarakat Surabaya yang usianya di atas 50 dan penggemar sepak bola, khususnya Persebaya, dia masih dikenang.

Kok bisa? Nino pernah menjadi bagian dari orang yang mengharumkan nama kota kedua terbesar di Indonesia tersebut. Dia masuk dalam jajaran pelatih ketika Persebaya menjadi juara pada musim 1987/1988.

''Setelah pensiun sebagai pemain, sebenarnya saya balik ke Malang. Saya mulai menjadi pelatih di sana mulai 1970-an,'' kenang Nino.

Dia pun sudah jarang atau malah tidak pernah bersentuhan dengan sepak bola Surabaya. Sehingga, lelaki yang kini berusia 80 tahun tersebut tak menyangka saat Misbach, kini sudah almarhum, datang ke rumahnya di kawasan Blimbing, Malang.

''Dia mengajak saya menangani Persebaya. Katanya, dia butuh sosok senior untuk mendampingi,'' ujar Nino.

Dia tak kuasa menolak. Misbach, ujarna, juga kawan lama.

Apalagi, semusim sebelumnya, Persebaya gagal menjadi juara karena kalah oleh PSIS Semarang di final di Senayan, sekarang Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan skor 1-0. Gol lawan dicetak Syaiful Amri di menit ke-77.

Ini membuat Nino tertantang dengan tawaran tersebut. Selain keduanya, Misbach dan Nino, pelatih Green Force, julukan Persebaya, adalah Koesmanhadi.

Dengan materi yang semakin matang, ketiganya mampu meracik komposisi dengan baik. Nino menjelaskan para pemain Persebaya yang ditanganinya saat itu antara lain I Putu Yasa di bawah mistar, Nuryono Haryadi di belakang, Muharom Rusdiana di bek kanan.

Di tengah, ujarnya, ada Yongki Kastanya, Maura Helly, dan Budi Juhanis. Di depan, Syamsul Arifin dan Mustaqim jadi tukang gedor.

Sejak penyisihan, laju Persebaya susah dibendung. Begitu juga di babak enam besar.

Budi Juhanis dkk tak terkalahkan. Ini membuat mereka menjadi pimpinan klasemen dan akan bertemu dengan Persija Jakarta yang berada di posisi kedua.

Final pun dilaksanakan di Stadion Senayan pada 27 Maret 1988. Dalam laga mahapenting ini, Persebaya mampu menang 3-2. Gol anak asuh Misbach, Nino, dan Koesmanhadi disumbangkan Budi, Yongki, dan Mustaqim. Sedang pemain Persija yang menjebol gawang Putu Yasa adalah Tiastono Taufik dan Kamarudin Betay.

Keberhasilan itu membuat nama Nino terangkat. Banyak klub yang tertarik meminangnya. (*/bersambung)







0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com