www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Jumat, 30 Juni 2017

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (2)

Kashartadi diapit Polosin dan asistennya, Iurin
Bertahan di Tengah Program Latihan Superkeras

Penampilannya menonjol dibandingkan rekan-rekannya di Diklat Ragunan, Jakarta. Kashartadi punya kelebihan dalam kecepatan.
--
CELANA pendek dikenakannya. Kulitnya terlihat lebih gelap dibandingkan biasanya.
 Namun, fisiknya tak banyak berubah. Ini menunjukkan bahwa Kashartadi masih sering latihan.
 Mungkin hanya kecepatannya yang mengalami penurunan. Maklum, kini usianya sudah 47 tahun.

Padahal, dengan kecepatan itu, dia mampu menembus kerasnya persaingan Timnas Junior. Bahkan, lelaki asal Solo, Jawa Tengah, tersebut sempat disebut-sebut sebagai salah satu bintang masa depan sepak bola Indonesia.

Buktinya, usai lulus dari SMA Ragunan, Jakarta,  Kashartadi langsung direkrut klub raksasa, Krama Yudha Tiga Berlian. Meski masih berusia belasan, namun lelaki yang lahir dari keluarga sepak bola tersebut tak susah menembus skuad inti tim yang berhome base di Palembang itu.

 ''Saya masuknya tetap memakai seleksi. Saya diterima di musim 1989,'' ujar Kashartadi.

Dari foto yang terpajang di rumahnya di kawasan Kwarasan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kashartadi paling muda. Di posisi kiper ada Edy Harto, di belakang ada Herry Kiswanto yang juga kapten tim.

Ada juga Parlian Siagian di tengah, yang kelak menjadi duetnya sebagai pelatih di Putra Kalteng. Ada juga Bujang Nasril dan Arif Hidayat, dua pemain senior yang terkenal keras di lapangan. Dari KTB pula, Kashartadi bisa menembus Timnas Senior yang tengah dipersiapkan ke SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

Kashartadi termasuk pemain termuda. Namun, oleh pelatih asal Uni Sovyet (kini Rusia) Anatoly Polisin, dia dipercaya masuk line up di posisi bek kanan.

 ''Polosin memakai polanya 3-5-2. Saya di kanan dan Hanafing di kiri,'' ungkap Kashartadi.

Di bawah Polosin, Kashartadi tak pernah terpental.Padahal,  banyak pemain yang out karena tak kuat dengan metode latihannya. Salah satunya adalah dua pemain senior, Jaya Hartono dan Fachri Husaini.

 Namun, hasil latihan itu tak sia-sia. Kashartadi dkk mampu menjadi juara usai di final mengalahkan Thailand dengan adu penalti 4-3.

 ''Namun, saya tak ikut menendang saat adu penalti. Medalinya masih saya simpan,'' jelas Kashartadi yang kemudian mengambil sebuah medali dari lemarinya.
 Dari keberhasilan itu, Kashartadi mendapat penghargaan. Setiap bulan, dia memperoleh kiriman Rp 100 ribu.
 ''Tapi sekarang saya nggak pernah ngecek,'' ujarnya sambil tertawa. (*/bersambung)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com