www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (5)


Pilih Memulai Karir Pelatih dari Bawah

Usia  yang merambat tua membuat Jefri Dwi Hadi memilih pensiun sebagai pesepak bola. Hanya, dia belum bisa lepas dari olahraga yang telah melambungkan namanya itu.
--
Untuk ukuran pesepak bola, Jefri Dwi Hadi termasuk sukses. Gelar juara kasta tertinggi pernah diraih saat membela Persik Kediri.

Sebagai pemain nasional pun pernah diraskana di era pelatih Peter Withe dari Inggris. Ini membuat Jefri pun punya caps.

Hanya, semua itu belum jaminan di dunia yang kini ditekuni, pelatih. Lelaki 36 tahun tersebut masih dianggap hijau.

''Saya menangani klub internal Persida Sidoarjo. Ada tawaran yang akhirnya saya terima,'' kata Jefri.

 Meski masih minim pengalaman menjadi pelatih tapi sentuhannya cukup mumpuni. Banyak pesepak bola muda yang terasah bakatnya di tangan Jefri.

''Beberapa anak asuh saya main di Liga 2 dan banyak di Liga 3,'' ungkap Jefri.

Modal itulah yang membuat Uston Nawawi, salah satu legenda Persebaya Surabaya, mengajaknya menjadi asisten di klub Liga 3, Putra Jombang. Jefri tak menolak karena baginya Uston bukan orang asing. Keduanya sering bermain bersama dalam satu tim lokal Sidoarjo, 81.

Jefri berharap karirnya sebagai pelatih tidak terlalu jauh dengan ketika masih aktif sebagai pesepak bola. Untuk itu, dia memilih memulai dari bawah.

''Sekalian mau cari lisensi AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia). Mumpung masih muda,'' pungkasnya. (*/habis)
Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (4)

Di Timnas Indonesia, posisinya nyaris tak tergoyahkan. Sayang, pergantian pelatih memberikan dampak besar baginya.
--
PERSIAPAN Indonesia menuju Piala Asia 2007 termasuk serius. Mereka ditangani oleh pelatih asal Inggris Peter Withe.

 ''Selain itu, kami juga menggelar pemusatan latihan di luar negeri. Tiongkok menjadi negara yang kami datangi,''kata Jefri Dwi Hadi

 Tujuannya untuk meraih hasil bagus dalam ajang pesta sepak bola negara-negara Asia tersebut. Apalagi, Indonesia menyandang status tuan rumah.

 Sayang, semuanya menjadi berantakan. Kegagalan Withe membuat Indonesia bersinar di Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) memberikan dampak besar.

 Lelaki yang pernah menjadi pemain klub Premier League Aston Villa tersebut terdepak. Sebagai gantinya masuk Ivan Venkov Kolev asal Bulgaria.

 ''Masuknya Kolev berpengaruh di tim. Dia memasukan pemain-pemain yang sesuai dengannya,'' terang Jefri.

 Ini membuat Jefri terdepak. Alasannya, stamina dan daya tahan lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut kurang dari kriteria yang ditetapkan Kolev.

 ''Saya kembali ke Persik Kediri lagi. Saat itu, Persik tengah membangun kekuatan,'' ujarnya.

 Beberapa pemain nasional seperti Mahyadi Panggabean, Saktiawan Sinaga, dan kiper Marcus Horison didatangkan dari PSMS Medan. Ada juga pemain asing Danilo Fernando dan Christian Gonzales.

 Sayang, di tengah jalan, tim bertabur bintang tersebut kesulitan dana. Hanya, Jefri tetap bertahan bersama Macan Putih.

 Usai dari Persik, Jefri sempat kembali ke Deltras. Petualangannya sempat merambah Persema Malang.

 ''Klub Kalimantan yang satu-satunya saya bela adalah Persiba. Namun, itu hanya setengah musim,'' jelas Jefri.

 Itu terjadi ketika kompetisi sepak bola Indonesia terpecah menjadi dua (dualisme). Persema yang berlaga di LPI membuat dia ke Beruang Madu, julukan Persiba.

 Sayang, dia tak mau memperpanjang kontraknya di sana. Dengan nilai kontrak yang turun, Jefri memilih balik ke Jawa.

 ''Semusim di Persik Kediri dan semusim di Deltras lagi,'' kenang Jefri.

Kompetisi yang vakum karena PSSI dibekukan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) membuat Jefri akhirnya memilih pensiun sebagai pemain. (*/bersambung)











Juara PON Jadi Pintu Keluar Pindah


Mendapat panggilan dari PSSI Jatim dijawab dengan prestasi oleh Jefri Dwi Hadi. Selain itu, medali emas menjadi pintu pembuka baginya keluar dari Deltras.

--

PENAMPILAN gemilang di kompetisi membuat Jefri Dwi Hadi dapat panggilan. Bukan timnas tapi oleh PSSI Jawa Timur.


Dia direkrut masuk tim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON). Tujuannya, Jatim bisa mempertahankan tradisi dalam ajang empat tahunan tersebut.


 ''Namun, dalam persiapan, saya sempat mengalami cedera. Saya pasrah kalau dicoret nantinya,'' ungkap Jefri.


Tapi, pelatih PON Jatim Mustaqim lebih memilih menunggu untuk sembuh. Dia yakin Jefri menjadi bagian dari ketangguhan lini tengahnya.


 ''Saya akhirnya sembuh dan bisa tampil di PON Palembang. Emas bisa diraih Jatim bersama Papua,'' kenang lelaki asal Blitar tersebut.


Hasil PON semakin melambungkan namanya. Apalagi, di tim tersebut ada nama Iwan Budiyanto, yang menjadi manajer Persik Kediri.


Jefri mendapat tawaran Iwan untuk bergabung dengan Macan Putih, julukan Persik. Sebenarnya, bukan hanya dia, beberapa penggawa PON Jatim mendapat tawaran serupa.


 ''Jadinya, saya pindah usai PON. Persik menjadi klub pertama yang saya bela selain Deltras,'' jelas Jefri.


 Di musim pertamanya, Jefri belum bisa memberikan banyak konstribusi bagi Persik. Nah, baru di musim 2006, dia mampu membuktikan bahwa Macan Putih tak salah merekrutnya.


 ''Pelatihnya Daniel Roekito. Saat itu, Persik menjadi tim bertabur bintang,'' jelas lelaki yang kini menjadi asisten Uston Nawawi, mantan bintang timnas Indonesia, di Putra Jombang, tim Liga 3.


Ketika itu, tim asal Kota Tahu itu diperkuat pemain asing dengan kualitas jempolan seperti Danilo Fernando asal Brasil dan Cristian Gonzalez asal Uruguay.


Dalam final yang dilaksanakan di Stadion Manahan, Solo, pada 30 Juli, Persik mengalahkan PSIS Semarang dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang disumbangkan Cristian Gonzales pada masa perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-109.


Dalam partai pemungkas ini, Jefri tampil hingga menit ke-55. Setelah itu, posisinya digantikan Suswanto.


Hanya, beda dengan ketika Persik juara tiga tahun sebelumnya, Jefri tak memperoleh tawaran sebagai PNS. Dia hanya mendapat uang serta pegawai honorer.


 Namun, sukses membawa Persik juara memberikan berkah baginya. Jefri mendapat kepercayaan masuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia proyeksi Piala Asia 2007.


 ''Selain saya, ada juga Harianto Sapari dan Budi Sudarsono. Pelatihnya Peter Withe,'' jelas Jefri. (*/bersambung)




Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (3)

Juara PON Jadi Pintu Keluar Pindah

Mendapat panggilan dari PSSI Jatim dijawab dengan prestasi oleh Jefri Dwi Hadi. Selain itu, medali emas menjadi pintu pembuka baginya keluar dari Deltras.
--
PENAMPILAN gemilang di kompetisi membuat Jefri Dwi Hadi dapat panggilan. Bukan timnas tapi oleh PSSI Jawa Timur.

Dia direkrut masuk tim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON). Tujuannya, Jatim bisa mempertahankan tradisi dalam ajang empat tahunan tersebut.

 ''Namun, dalam persiapan, saya sempat mengalami cedera. Saya pasrah kalau dicoret nantinya,'' ungkap Jefri.

Tapi, pelatih PON Jatim Mustaqim lebih memilih menunggu untuk sembuh. Dia yakin Jefri menjadi bagian dari ketangguhan lini tengahnya.

 ''Saya akhirnya sembuh dan bisa tampil di PON Palembang. Emas bisa diraih Jatim bersama Papua,'' kenang lelaki asal Blitar tersebut.

Hasil PON semakin melambungkan namanya. Apalagi, di tim tersebut ada nama Iwan Budiyanto, yang menjadi manajer Persik Kediri.

Jefri mendapat tawaran Iwan untuk bergabung dengan Macan Putih, julukan Persik. Sebenarnya, bukan hanya dia, beberapa penggawa PON Jatim mendapat tawaran serupa.

 ''Jadinya, saya pindah usai PON. Persik menjadi klub pertama yang saya bela selain Deltras,'' jelas Jefri.

 Di musim pertamanya, Jefri belum bisa memberikan banyak konstribusi bagi Persik. Nah, baru di musim 2006, dia mampu membuktikan bahwa Macan Putih tak salah merekrutnya.

 ''Pelatihnya Daniel Roekito. Saat itu, Persik menjadi tim bertabur bintang,'' jelas lelaki yang kini menjadi asisten Uston Nawawi, mantan bintang timnas Indonesia, di Putra Jombang, tim Liga 3.

Ketika itu, tim asal Kota Tahu itu diperkuat pemain asing dengan kualitas jempolan seperti Danilo Fernando asal Brasil dan Cristian Gonzalez asal Uruguay.

Dalam final yang dilaksanakan di Stadion Manahan, Solo, pada 30 Juli, Persik mengalahkan PSIS Semarang dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang disumbangkan Cristian Gonzales pada masa perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-109.

Dalam partai pemungkas ini, Jefri tampil hingga menit ke-55. Setelah itu, posisinya digantikan Suswanto.

Hanya, beda dengan ketika Persik juara tiga tahun sebelumnya, Jefri tak memperoleh tawaran sebagai PNS. Dia hanya mendapat uang serta pegawai honorer.

 Namun, sukses membawa Persik juara memberikan berkah baginya. Jefri mendapat kepercayaan masuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia proyeksi Piala Asia 2007.

 ''Selain saya, ada juga Harianto Sapari dan Budi Sudarsono. Pelatihnya Peter Withe,'' jelas Jefri. (*/bersambung)



Read More

-- Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (2)



Mampu Tembus Persaingan dengan Para Senior

Bakatnya yang menjanjikan membuat Jefri Dwi Hadi jadi buruan. Namun, klub seatap, Gelora Dewata, yang beruntung meminang.
--
NYALI Jefri Dwi Hadi diuji. Di usia masih belasan, dia harus pergi ke Bali.
 Namun, kepergiannya itu bukan berwisata. Dia harus ke Pulau Dewata, julukan Bali, karena direkrut tim Divisi Utama, Gelora Dewata.

 ''Ada beberapa pemain muda yang diambil Gelora Dewata. Jadi saya tetap ada teman di sana,'' kenang Jefri.

Meski berasal dari manajemen yang sama, tapi bukan hal yang mudah baginya untuk menembus skuad Gelora Dewata. Dia harus bersaing dengan para penggawa senior seperti Nus Yadera.

''Pelatih fair, yang bagus yang dipasang. Jadi saya semangat,'' ujar Jefri.

Lambat laun, dia bisa menembus kerasnya persaingan. Bahkan, posisinya sebagai gelandang tak tergantikan.

Ternyata, Gelora Dewata mulai ancang-ancang hengkang. Sidoarjo menjadi tujuan utama. Alasannya, Kota Udang, julukan Sidoarjo, punya stadion yang sangat layak yang baru saja dipakai menggelar pertandingan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Hanya, posisi pelatih masih dipegang Sinyo Hartono. Di tangan dia, bakat dan kemampuan Jefri semakin melesat.

Hanya, nama Gelora Dewata sudah berganti menjadi menjadi Gelora Putra Delta (GPD). Musim berganti, pada 2002, Sinyo Hartono hengkang ke Persebaya Surabaya.

Otomatis jabatannya digantikan. Yudi Suryata menjadi arsitek tim dan setelah itu Suharno masuk.

Namun, itu tak membuat peranan Jefri tergantikan. Dia tetap menjadi nyawa permainan The Lobster, julukan Deltras, nama baru pengganti GPD.

Pada 2003, kemampuannya terpantau PSSI Jatim. Mereka memanggilnya untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON). (*/bersambung)



Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (1)

Ke Surabaya untuk Kembangkan Karir

Namanya lama berkibar di pentas sepak bola. Dia pun tercatat sebagai pemain yang pernah mengenakan kostum dengan logo Garuda di dada.
--
KAOS yang dikenakan hijau bergaris putih. Sekilas mirip dengan kostum Persebaya.

Untung bukan. Si pemakai kaos memang belum pernah bergabung dengan klub yang didukung Bonek tersebut.

Tak lama berselang, sebuah topi ala yang dipakai pelatih senior Sartono Anwar, yang kini menangani tim Liga 2 Madiun Putra, dikenakan. Dia bersama penulis dan mantan bintang timnas Indonesia Uston Nawawi pun bergegas masuk mobil.

Saat ini, Jefri Dwi Hadi, sosok yang memakai kaos hijau dan bertopi, memang tengah dekat dengan Uston. Ini karena keduanya tengah berkolaborasi menukangi tim Liga 3 Putra Jombang.

Baginya, menjadi pelatih juga menjadi pilihan usai memutuskan pensiun sebagai pemain. Klub terakhir yang dibelanya adalah Sidoarjo United di ajang Liga 2.

''Sambil belajar. Jadi pelatih di internal Askab Sidoarjo yang pertama,'' ujar Jefri.

Dia mengakui menjadi pelatih bukan hal yang mudah. Hanya, pengalamannya segudang sebagai pesepak bola ikut membantu.

Di pentas sepak bola nasional, nama Jefri cukup dikenal. Apalagi, dia sudah lama malang melintang.

Karir sepak bola di mulai dari kampung halamannya di Blitar, Jawa Timur. Namun, keinginan untuk maju membuat dia hijrah ke Surabaya.

''Saya bergabung dengan Putra Gelora. Setelah itu, sempat ke Persebaya Junior dan Pelajar Jatim,'' lanjut lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut.

Bakat Jefri di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, terendus klub di ajang kompetisi PSSI. Namun, Putra Gelora tak mau melepaskan begitu saja.
 Kebetulan, Putra Gelora berintuk di klub Divisi Utama, Gelora Dewata, Bali. Keduanya sama-sama milik tokoh sepak bola. H. M. Mislan. (*/bersambung)
Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (3-Habis)

Dedy Sutanto (tengah) menjadi kiper utama Persebaya
Masih Cari Lisensi untuk Jadi Pelatih

Kecelakaan membuatnya harus absen lama. Untung, Persebaya masih mau menunggu dia pulih.
--
KARIR Dedy Sutanto bak roller coster.Usai merasakan manisnya menjadi bagian tim Persebaya juara Liga Indonesia, dia harus absen selama semusim.

Ini akibat kecelakaan yang dialami di dekat rumahnya di Bogangin, Surabaya. Dedy harus naik ke meja operasi.

''Saya harus melakukan penyembuhan. Usai operasi dan mulai membaik, saya lari-lari pelan di sekitar waduk di utara rumah,'' kenang Dedy.

Saat mulai fit, Dedy mengontak manajemen Persebaya. Ternyata, pihak Green Force, julukan Persebaya, masih mau menerimanya.

 ''Namun, saya jarang main. Ada Ngadiono yang selalu turun,'' ungkapnya.

Tapi dengan kembali masuk Persebaya, kepercayaan diri Dedy kembali bangkit. Niatnya sudah bulat untuk mencari pengalaman di klub selain Persebaya.

 ''Saya membela Semen Padang selama semusim. Ini pengalaman pertama bermain di luar Persebaya,'' ucap lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut.

Ternyata, setelah dari Bumi Andalas, julukan Sumatera Barat, Dedy berkelana ke berbagai klub. Barito Putra Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pernah diangkatnya promosi ke Indonesia Super League (ISL).

 ''Saya juga sempat ke Persikad Depok. Ke Deltras di kompetisi ISL juga pernah,'' lanjut Dedy.

 Perjalanannya sempat berlanjut ke PS Bangka, Bangka-Belitung, Perssu Sumenep di Pulau Madura.

Di PS Bangka, dia dilatih tetangganya yang pernah menangani di Persebaya Selection, Lulut Kistono.

Hingga pada 2013, Dedy kembali ke Persebaya. Hanya, ketika itu ada tambahan 1927 di belakangnya. Ini untuk membedakan Persebaya lainnya yang kurang mendapat dukungan dari Bonek.

Saat Persebaya diakui oleh PSSI dan bersiap kompetisi, Dedy sudah pensiun. Dia memutuskan terjun sebagai pelatih.

 ''Saya masih mau cari lisensi. Biar berguna di kemudian hari,'' pungkasnya. (*)

Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (2)

Dedy Sutanto berdiri tengah bersama tim juara 2004
Dapat Tawaran Pindah, Kecelakaan sebelum Kompetisi

Menjadi bagian Persebaya saat juara membuat namanya ikut terangkat. Sebuah tawaran menjadi kiper inti tim Divisi Utama serius menghampiri.
--
SEBUAH ketukan dari dalam membuat Dedy Sutanto beranjak. Sambil membawa sebuah bungkusan kertas cokelat, dia masuk ke sebuah ruangan.

''Bapak, minta makan. Kegiatan sekarang saya lebih banyak di rumah membantu menjaga Bapak,'' ujar Dedy.

Dia kemudian melanjutkan kisahnya. Usai menjadi bagian Persebaya juara Liga Indonesia 2004, Dedy mendapat perintah membela Persebaya Selection yang berlaga di Piala Gubernur.

Selain Dedy ada beberapa pemain Persebaya yang diajak bergabung di Persebaya Selection.Posisi pelatih dipercayakan kepada Lulut Kistono dan Eduard Mangilomi.

Lawan yang dihadapi lumayan berat yakni tim-tim yang selevel dengan Persebaya. Salah satunya Persema Malang.

 ''Saat lawan Persema, main saya lagi enak. Banyak peluag Persema yang saya gagalkan jadi gol,'' ujar lelaki kelahiran 1981 tersebut.

Tapi, siapa sangka, pertandingan lawan Persema itu berlanjut hingga di luar lapangan. Manajemen Persema tertarik memboyong Dedy.

''Mereka mau ke mess Persebaya tapi saya tolak. Ke rumah saja di Bogangin,'' lanjut Dedy.

Persema pun mengirim wakilnya. Hanya, keinginan Dedy pindah tercium pihak manajemen.

 ''Mereka menginginkan saya bertahan,'' ujar Dedy.

Namun, sebelum kembali berkostum Persebaya, petaka menimpa. Dedy mengalami kecelakaan di dekat rumahnya.

 ''Saat hendak keluar gang, ada sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Saya langsung tak sadarkan diri  dan bangun sudah dibopong ke pinggir jalan,'' jelas kiper binaan klub internal, Sakti, itu. (*/bersambung)
Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (1)

Dedy Sutanto di rumahnya di Bogangin
Bela Setengah Musim saat Juara

Namanya memang tak setenar kiper-kiper Persebaya Surabaya yang lain. Namun, dia pernah menjadi bagian sejarah saat tim legendaris itu juara.
--
YANG tak biasa atau belum pernah, mencari rumahnya butuh ketelitian. Sebaiknya, Anda harus bertanya.

Seperti yang dialami oleh penulis. Karena malam hari, rumah yang ditempati Dedy Sutanto tersebut terlewati. Untung, lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut menjemput setelah terlewat hampir 500 meter. Ya, sekarang Dedy lebih banyak tinggal di Bogangin I, Surabaya. Jalan masuk ke tempatnya tinggal tidak terlalu besar.

 ''Saya banyak di Bogangin. Saya menunggui ayah yang sakit,'' kata Dedy.

Dia tak bisa lama-lama meninggalkan ayahnya. Meski untuk itu, dia meninggalkan rumah yang sempat ditinggali bersama istri di kawasan Sidoarjo.

Selain itu, Bogangin punya sejarah bagi perjalanan hidupnya. Di rumah tersebut, dia berangkat ke lapangan untuk berlatih bersama Sakti.

''Saya mulai gabung klub Sakti sejak kelas 1 SMP. Saya juga tidak pindah ke klub-klub lain,'' terang Dedy.

Beruntung baginya, di Sakti, dia punya sosok Machrus Afif. Pelatihnya tersebut punya bekal pelatihan kiper yang mumpuni. Ini karena dia pernah mengawal gawang Persebaya Surabaya di era 1990-an.

Hanya, dia butuh lama untuk mendapat kesempatan emas. Pada 2003, sebuah panggilan telepon dari Machrus sempat mengejutkannya. Persebaya membutuhkan tenaganya.

 ''Saya terpantau pelatih Jacksen (F. Tiago) saat Persebaya menghadapi Sakti. Banyak peluang Persebaya mampu saya gagalkan,'' ungkap Dedy.

Awalnya, dia tak percaya. Alasannya, ujar Dedy, Green Force, julukan Persebaya, sudah mempunyai sosok Hendro Kartiko dan Hendra Prasetya.

''Saya kepanggil karena ada kiper yang mundur. Saya langsung aja siap bergabung,'' terang Dedy.

Meski tak pernah main, tapi namanya tercatat dalam tinta emas Persebaya. Dedy merupakan salah satu punggawa tim asal Kota Pahlawan, julukan Persebaya, saat menjadi juara di musim 2003/2004.

Dalam sebuah foto yang terpajang di rumahnya, Dedy berdiri di tengah. Rambutnya masih terurai sebahu. (*/bersambung)
Read More

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (4)

Kashartadi dengan medali juara Sriwijaya FC
Duet Arseto Bawa Sriwijaya Berprestasi


Menginjak usia yang tak lagi muda, Kashartadi masih diperhitungkan. Dia dipercaya mengembangkan sepak bola di sebuah daerah di Sumatera Selatan
--
SEORANG lelaki baru saja masuk ke rumah Kashartadi. Penulis juga belum pernah melihatnya. Beda dengan saudara-saudara Kashartadi yang aktif di lapangan hijau.

''Dia dari Sumatera Selatan. Dia datang untuk mengunjungi saya,'' terang Kashartadi.

Baginya, Sumatera Selatan bukan provinsi yang asing baginya. Di akhir karirnya sebagai pemain dan memulai karir kepelatihan, daerah Musi Banyuasin menjadi pijakan awalnya.

 ''Saya dipasrahi untuk mengembangkan sepak bola di sana. Saya sempat mempunyai diklat,'' ungkap Kashartadi.

Hubungannya dengan sang kepala daerah cukup dekat. Ketika orang nomor satu di Banyuasin menjadi pimpinan Sulawesi Selatan, Kashartadi kecipratan.

Namanya masuk  di jajaran pelatih Sriwijaya FC yang dibeli dari Persijatim. Hanya, Kashartadi tidak langsung sebagai pelatih kepala.

''Saya menjadi asisten pelatih. Saya di bawah (Ivan) Kolev,'' terangnya.
 Namun, kesempatan menjadi pelatih kepala akhirnya datang. Kashartadi menjadi nakhoda di musim 2011-2012.

Dia dibantu oleh seniornya di Arseto, Hartono Ruslan. Duet ini terbukti manjur.

''Sriwijaya mampu menjadi juara. Sebuah prestasi yang diluar dugaan saya,'' terang Kashartadi yang kemudian mengambali medali juara.

 Sayang, di tahun kedua, Kashartadi dan Hartono harus meninggalkan Sriwijaya FC. Masalah finansial menjadi pertimbangan utama.

 Dengan status pelatih juara, tak susah baginya mendapatkan tim. Persikabo Kabupaten Bogor, Cilegon United, dan kini Kalteng Putra ditanganinya.

 ''Saya belum bisa kembali ke level atas karena saya masih Lisence B. Semoga segara dapat A,'' pungkasnya. (*/tamat)






Read More

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (3)

Kashartadi (kanan) dan Parlin Siagian
Akhirnya Bisa Membela Persis Solo

Lama berkelana membuat Kashartadi rindu pulang. Dengan kemampuan yang dimiliki tak susah baginya bergabung.
--
MASUK skuad juara SEA Games 1991 membuat nama Kashartadi semakin melambung. Banyak klub yang mengincar.

Namun, dari semua klub, Arseto menjadi prioritas. Kok bisa? Ternyata markas klub milik keluaga Cendana itu ada di Solo, kota kelahiran dan kampung halaman Kashartadi.

Masuknya Kashartadi menambah daya gedor Elang Biru, julukan Arseto, semakin tajam. Sebelumnya, Arseto sudah mempunyai senior Ricky Yacob, yang kelak berganti nama menjadi Ricky Yacobi.

 ''Musim 1991/1992,Arseto menjadi juara dan saya bergabung di dalamnya. Akhirnya, saya bisa membawa klub menjadi juara juga,'' jelas Kashartadi.

 KTB memang pernah menjadi juara Galatama. Hanya, itu dilakukan sebelum Kashartadi bergabung.
 Namun, di Arseto pula, karir si Kijang asal Solo tersebut mulai redup. Dia mengalami cedera lutut.
Dia salah tumpuan saat berebut bola dalam pertandingan liga.

''Saya harus istirahat lama. Setelah itu, saya juga pindah klub,'' ungkap Kashartadi saat ditemui penulis di rumahnya di Kwarasan, Grogol, Sukoharjo.

 Gelora Dewata Bali menjadi pelabuhan karir. Ini sekaligus tempatnya mengembalikan kepercayaan diri usai mengalami cedera.

 ''Usai dari Gelora Dewata, saya ke BPD Jateng. Penampilan saya sudah mulai kembali,'' ujar lelaki kelahiran 1970 tersebut.

Ini membuat Arseto kepincut memakai tenaganya lagi. Namun, lagi-lagi klub yang bermarkas di Kadipolo tersebut tak berjodoh dengannya.

 ''Kali kedua saya kembali, Arseto membubarkan diri dan kompetisi juga tak berjalan sampai tuntas di 1997/1998,'' terang Kashartadi.

Nama besarnya tetap tak luntur. Dia berlabuh di Persikabo Kabupaten Bogor dan menjelang akhir karirnya Kashartadi berseragam Persis Solo.

 ''Itu di musim 2002/2003. Kali pertama saya bisa membela Persis. Sejak junior, saya memang belum pernah membelanya,'' ujar bapak dua anak itu.

 Nama Kashartadi selalu terjaga. Oleh daerah Musi Banyuasin, dia didatangkan ke daerah yang masuk provinsi Sumatera Selatan tersebut. (*/bersambung)



Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com