www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Aris Budi Prasetyo, Mantan Palang Pintu Nasional yang Jadi Wakil Rakyat (2)

Habis Juara, Turun, Pindah Klub

FINAL Divisi Utama musim 1999/2000 melambungkan nama Aris Budi Prasetyo. Meski berposisi pemain belakang,
dia mampu menjadi pencetak gol pada menit ke-75.

Sayang, gol Aris gagal membawa PKT juara. Di final yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno,
Jakarta, itu, PKT kalah 2-3 dari PSM Makassar.

Satu gol tim asal Kalimantan Timur tersebut dicetak Fachri Husaini lima menit kemudian.Ketika itu, PKT ditangani pelatih asal Moldova Sergei Dubrovin.

Semusim kemudian, cerita lama seolah terulang. Sergei pindah ke Petrokimia Putra Gresik.

Pelatih yang pernah menangani Timnas Indonesia itu pun mengajak Aris.Arek Pasuruan ini pun tak kuasa menolak.

Kolaborasi Aris dan Sergei terbukti ampuh. Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra Gresik, menjadi juara Liga Indonesia. Kesuksesan ini seolah membayar lunas kegagalan di PKT.

Namun, bersama Petrokimia Putra pula dia merasakan pahitnya degradasi. Aris pun memilih pindah ke Arema Malang, yang sama-sama bermain di Divisi I.

Di Arema, kemampuan Aris semakin terasah. Singo Edan, julukan Arema, dibawanya kembali ke level tertinggi hanya semusim. Bahkan, di ajang Copa Indonesia, dua kali tim asal Kota Pelajar tersebut mengangkat piala. Menariknya, pada edisi 2006, Aris terpilih sebagai pemain terbaik. (*/bersambung)





Read More

Aris Budi Prasetyo, Mantan Palang Pintu Nasional yang Jadi Wakil Rakyat (1)

Besar dari Internal Persebaya, Magang di Arema

Karir Aris Budi Prasetyo sebagai pesepak bola komplet. Dia pernah membawa klub
yang dibela menjadi juara dan juga menjadi pemain nasional.
--
SELAMA pertandingan, sosok lelaki dengan postur tinggi tersebut nyaris tak pernah
duduk di bench. Dia selalu memberikan arahan kepada timnya, Persekap Kota Pasuruan,
yang tengah berlaga di Kompetisi Liga Remaja 2017 Regional Jawa Timur.

Apalagi, saat berhadapan dengan Persikoba Batu Junior, pada Kamis (10/8/2017). Mulutnya
seakan tak pernah berhenti memberikan instruksi.

Apalagi, laga yang dilaksanakan di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, tersebut menentukan bagi
kedua tim. Persekab butuh menang sedangkan Persikoba hanya butuh imbang.

Raut wajah tegang terus memayungi pelatih Persekab bernama Aris Budi Prasetyo itu. Namun,
senyum dan kegembiraan itu berubah di babak II.

Ini karena anak asuhnya bisa mencetak gol dan akhirnya bisa memenangkan pertandingan dengan
skor 2-0. Hasil ini membuat Persekab menembus babak 16 besar Regional Jawa Timur.

Menjadi pelatih menjadi pilihan Aris. Ini setelah dia pada 2010 memutuskan pensiun sebagai
pesepak bola.

Cedera yang tak kenal kompromi membuat lelaki yang kini berusia 42 tahun tersebut gantung
sepatu. Keputusan itu membuat perjalanan manisnya sebagai bintang lapangan hijau ikut berakhir.

''Saya memulai karir sebagai pesepak bola secara serius di Surabaya dengan mengikuti kompetisi
internal Persebaya. Saya sempat masuk Persebaya Junior,'' ungkap Aris.

Bakatnya dengan ditunjang postur ideal sebagai pemain belakang, membuat Aris berani melamar ke
Arema Malang. Hanya, dia masuk dengan status pemain magang.

Namun, di Singo Edan, julukan Arema, membawa berkah. Kedekatannya dengan pelatih Gusnul Yakin membawa berkah baginya.

''Saat Gusnul ke PKT Bontang, saya diajak. Saya mau aja demi mengembangkan karir,'' jelas Aris.

Di klub yang didanai BUMN tersebut, kakak dari mantan pebola voli putri nasioal Dwi Sari itu bertahan lama. Lima musim Aris berkostum hijau-hijau PKT.

Capaian tertingginya bersama PKT adalah menembus final Liga Indonesia. Sayang, di final, PKT menyerah kepada PSM Makassar yang ketika itu bertabur bintang. (*/bersambung)

Read More

Dian Fachrudin, Anak Tuban yang Pernah Berseragam Garuda (2)


Hanya Bertahan Semusim di Klub yang Dibela
Dian dengan trofi Copa Indonesia

Masuk Timnas PSSI Senior membuat namanya jadi perbincangan. Beberapa klub mulai melirik.
--
UNTUK mendapat posisi inti di Persema Malang bukan hal yang mudah. Dian Fachrudin harus bersaing beberapa pemain senior.

Dengan ditempatkan di posisi stopper, lelaki yang kini berusia 34 tahun tersebut adu kemampuan dengan  dua palang pintu tangguh, Bayu Sutha dan FX Yanuar. Namun, pelatih Danurwindo ternyata lebih memilih Dian.

''Coach Danur lebih suka dengan gaya bermain saya. Saya tak tergesa-gesa membuang bola tapi mendorong bola ke pemain tengah,'' ungkapnya.

Dengan bermain reguler, bakatnya tercium oleh PSSI. Di bawah Peter Withe, namanya masuk dalam jajaran pemainyang dipanggil untuk persiapan Piala Asia 2007

''Sebelumnya, saya bermain di Merdeka Games di Malaysia. Saya main dalam beberapa pertandingan,'' ujarnya.

Sayang, dalam Piala Asia sendiri, Dian urung berlaga. Dalam persiapannya, sakit typus menyerang.

''Saya dicoret di detik-detik akhir. Masa pemulihannya tidak cukup ke Piala Asia,'' kenangnya.

Meski gagal, tapi namanya mulai diburu banyak klub. Kesempatan ini tak mau disia-siakan.

Dian memilih meninggalkan Persema Malang. Sriwjaya FC Palembang, Sumatera Selatan, menjadi tujuan.

''Saya masuk dalam tim Sriwijaya FC yang merasakan juara. Pelatihnya coach RD (Rahmad Darmawan),'' kenang Dian.

Di Laskar Wong Kito, julukan Sriwijaya FC, dia menjadi pemain multiposisi. Pemain yang dibesarkan di Esge Tuban tersebut bisa ditempatkan sebagai bek tengah, gelandang, ataupun bek kiri.

Namun, karena bisa bermain di berbagai posisi itu membuat Dian tak bisa bertahan lama. Adanya kesalahan komunikasi membuat dia memilih hengkang.

''Ada asisten yang menginformasikan ke pelatih RD bahwa saya tak mau bermain di posisi bek kiri,'' ungkap lelaki dengan postur jangkung ini.

Pelita Jaya menjadi pilihan. Baginya, ini seakan menjadi reuni. Alasannya, Dian pernah membela klub milik keluarga Bakrie tersebut saat masih berkandang di Cilegon, Banten. Hanya, namanya ketika itu, Pelita Krakatau Steel.

Di Pelita Jaya, dia hanya semusim. Pengembaraan Dian dilanjutkan ke beberapa klub seperti Persela Lamongan, Persih Tembilahan, dan Persis Solo.

''Setiap klub, saya hanya satu musim. Persida menjadi klub terakhir sebelum akhirnya pensiun,'' pungkas Dian. (*/habis)

Read More

Dian Fachrudin, Anak Tuban yang Pernah Berseragam Garuda (1)

Dian (tiga kanan belakang) berseragam Timnas Piala Asia 2007

Dua Kali Bertemu dengan Pelatih yang Sama 

Menjadi juara dan masuk tim nasional bukan sembarang pemain bisa. Namun, seorang Dian Fachrudin perkecualian.
--
POSTURNYA tingi menjulang. Bisa sekitar 180 sentimeter.   Badannya pun tak berotot. Sekilas, orang akan menyangkanya sebagai pebasket atau pemain bola.

Padahal, kedua cabang olahraga itu bukan bidangnya. Sosok lelaki bernama Dian Fachrudin tersebut adalah seorang pesepak bola. Prestasinya pun tak boleh dipandang sebelah mata.

''Saya pernah membawa klub juara dan juga pernah masuk Timnas PSSI,'' kata Dian saat ditemui di Stadion Jenggolo pada Jumat (28/7/2017).

Kedua capaian tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjang karirnya di lapangan hijau. Sejak usia belasan, Dian sudah bertekad menjadikan sepak bola bagian dari hidupnya.

 ''Sejak kecil saya bergabung di Esge Tuban. Lulus SMA, baru saya merantau dan langsung jauh,'' ungkap Dian.

Jauh? Ya, karena sejak usia 19 tahun, dia pergi ke Cilegon. Tujuannya menimba ilmu di Krakatau Steel. Cilegon merupakan kabupaten ujung barat Pulau Jawa.

 ''Saya ke sana karena ajakan Joko Driyono (mantan Sekjen PSSI) yang ketika itu masih menjadi manajer PS Krakatau Steel,'' tambah Dian.

 Dia terkoneksi dengan Joko karena istri lelaki yang sering disapa Jokdri tersebut tetangganya di Tuban. Begitu ada tawaran itu, pada 2003, Dian tak menampik.

 ''Bahkan, saat namanya jadi Pelita Krakatau Steel, saya menjadi pemain magang. Pelatihnya Danurwindo,'' kenang Dian.

 Sayang, setelah tak di Pelita KS, dia harus balik ke Tuban. Selama di rumah, Dian mendapat tawaran dari rekannya untuk bergabung dengan klub di Kota Malang.

 ''Bukannya Persema tapi klub internal kompetisi Persema. Dari situ, kemampuan saya terpantau dan bisa masuk ke Persema,'' ujar Dian.

 Ternyata, di Petir Biru, julukan Persema, dia kembali bertemu dengan Danurwindo. Ditangannya, Dian mendapat posisi inti.

 ''Danur (sapaan Danurwindo) cocok dengan cara main saya sebagai pemain belakang. Ini membuat saya jadi starter di Persema,'' ungkap Dian. (*/bersambung)

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com