www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Mengunjungi Laboratorium Kondisi Fisik ISA

Beli Alat dari Bayaran SPP Siswa

Latihan persepak bola di lapangan.  Tapi juga dilaksanakan di indoor.
---
SEPULUH anak muda tengah melakukan pemanasan di rumah susun Pucang, Sidoarjo, Rabu (17/1/2018). Tak lama kemudian mereka yang rata rata tingginya 170 ke atas itu masuk ke sebuah ruangan.

Para pemain tersebut mengambil sendiri peralatan fitness.  Ada 12 peralatan.

Dari samping ruangan, muncul seorang lelaki.  Dia kemudian menginstruksikan para pemain untuk mulai memakai alat dan melakukan gerakan. 

"Ini untuk membantu mereka sebelum mengikuti seleksi di klub.  Otot mereka yang kami bentuk, " kata Imam Syafii, pemilik tempat tersebut. 

Tempat itu oleh Imam dinamai Laboratorium Kondisi Fisik.  Perlahan itu,ungkapnya,  hasil dari uang pendidikan siswa Indonesia Soccer  Academy. 

Latihan yang jelas Imam dikategorikan weight training itu difokuskan pembentukan otot. Alasannya, ujar dia,  jarang tersentuh oleh pelatih. 

Salah satu ilmu yang diterapkan Imam didapat saat mengikuti pelatihan  di Australia.  Sebagai bukti dia menunjukkan  lisensi yang diperoleh saat berada di Negeri Kanguru.

Ilmu tersebut menambah kekayaan ilmu Iman..  Sebab selain menjadi pendiri ISA, dia adalah doktor di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

'Kami berharap apa yang dilakukan ini banyak memberikan manfaat. " (*)
Read More

Acara Syukuran Pelatih Blitar United Gatot Mulbayadi

Makan Bersama setelah Jadi Lawan di Lapangan
Gatot Mulbayadi memberikan sambutan


Tangan dinginnya mampu membawa Blitar United juara Liga 3. Gatot pun merayakannya dengan mengundang rekan - rekannya yang didahului dengan sepak bola.
----
Langit di atas Stadion Jenggolo Sidoarjo mendung pada Sabtu sore (13/1/2018). Sedikit guyuran air dari langit membuat lapangan basah meski tak meninggalkan genangan.

 Beberapa orang bersepeda motor mulai memasuki stadion. Jarum jam terus bergerak dari pukul 14.30.

Mereka pun berpisah sendiri.  Ada yang ke bench bagian selatan dan ada yang ke bench bagian utara. 

Rupanya Sabtu sore itu, Stadion Jenggolo tengah dipakai menggelar pertandingan.  Orang Tua Sidoarjo atau yang disingkat Ortas akan meladeni PSAD Bhaskara Jaya. 

Pemain yang akan bertanding sudah umur. Mayoritas berusia di atas 40 tahun. 

Tapi di eranya kedua tim punya pemain-permain bintang.  Di Ortas ada mantan gelandang Gelora Dewata Nus Yadera dan bintang lini depan Barito Putera Joko Harianto.

Sedang di PSAD mempunyai sederet pemain yang pernah berkostum Persebaya.  Ada Ridwan di posisi penjaga gawang, Totok Sriyanto di belakang dan juga Marsaid di depan.

Meski Dilabeli uji coba tapi tidak ada atmosfer panas yang melingkupi dalam pertandingan yang dimenangkan Ortas dengan skor 5-2 itu.

 "Semua ini teman-teman saya.  Mereka datang karena memenuhi undangan saya," kata Gatot Mulbayadi yang sempat turun membela PSAD di laga uji coba tersebut.

 Itu, lanjutnya, bagian dari acara syukuran yang dilakukannya.  Gatot ingin merayakan keberhasilan membawa juara Blitar United di Liga 3 dengan teman-teman lama.

"Saya dulu juga pernah di PSAD.  Sekaligus menjadi ajang reuni," ungkap lelaki 61 tahun tersebut. 

 Untuk itu, acara tidak hanya dilaksanakan di Stadion Jenggolo. Gatot memboyong rekan rekannya di Ortas dan PSAD ke rumahnya.  Kebetulan rumahnya tidak jauh dari stadion yang kualitas lapangannya tidak kalah dengan stadion stadion terkenal di Indonesia tersebut.

Di rumah Gatot sudah disediakan beberapa nasi tumpang.  Penggawa Ortas dan PSAD dengan lahan menyantap.

"Ini menjadi ajang kami bertemu. Dulu di Batu dan sekarang bisa kumpul lagi di rumah Gatot,"ungkap Marsaid. (*)



Read More

Kamto, sang Senior dari Keluarga Sepak Bola di Surabaya

Kamto saat ditemui di Stadion Jenggolo
Masuk saat Para Bintang Hengkang ke Galatama

Di bulu tangkis ada keluarga Mainaky. Di sepak bola khususnya juga ada trah. Bahkan itu lebih dari satu.
--
SEBATANG rokok diambil. Bukan dari bungkus tapi dari kantong plastik kecil.

Tak lama  berselang, kepulan asap keluar dari mulutnya. Rokok menjadi teman lelaki yang bakal berusia 60 tahun pada Februari 2018 tersebut usai berlatih sepak bola di Stadion Jenggolo, Sidoarjo.

 ''Enak tadi main bolanya. Lapangannya juga bagus sekali,'' kata lelaki bernama Kamto tersebut.

 Di atas lapangan, sisa-sisa kemampuan di masa muda masih terlihat. Gerakan tanpa bolanya sering kali menipu lawan. Umpan-umpannya juga terukur yang memudahkan rekan-rekannya dalam mengolah bola.

 ''Di masa muda, saya pernah membela Persebaya. Di musim 1980,'' kenang Kamto.

 Menurutnya, ketika dia masuk, eksodus besar-besaran tengah terjadi di Green Force, julukan Persebaya. Ini tak lepas lahirnya Galatama (Liga Sepak Bola Utama) pada 1979.

 ''Pemain Persebaya banyak yang ke Niac Mitra. Tapi ada juga yang ke Indonesia Muda,'' ujar Kamto.

 Namun, saat dibelanya, Persebaya gagal mempertahankan status juara. Pada 1978/1978,  gelar juara perserikatan diraih Persija Jakarta. Setahun kemudian, saat Kamto di Persebaya, Persiraja Banda Aceh menjadi pemenang usai menundukkan Persipura Jayapura dengan skor 3-1.

 Masuknya Kamto ini kelak akan diikuti oleh adik-adiknya. Bahkan, salah satu adiknya Mustaqim menjadi bintang sepak bola, bukan hanya di Surabaya tapi juga nasional.

 Hanya, Kamto tidak pernah bergabung di Green Force bersama adik-adiknya. Selain Mustaqim, jejaknya juga diikuti oleh Hambali.

 Kiprah Kamto di Persebaya memang tak lama. Setahun kemudian, 1981, dia pindah ke Persiku Kudus.

 ''Saya diajak orang yang dulunya banyak membantu,'' lanjut Sukamto.

 Usai dari Kota Kretek, julukan Kudus, dia memutuskan pensiun. Kamto memilih konsentrasi di pekerjaannya di Dolog, sekarang Bulog, Jatim.

 Lama absen di sepak bola, dia mengakui, baru dua tahun terakhir kembali muncul di lapangan. Tapi, skill dan kualitas yang pernah dimiliki tetap terlihat. (*)
Read More

Andik Vermansyah, Megabintang yang Tetap Rendah Hati (2-Habis)

Andik (kiri) diwawancarai Ambari Taufik
Masih Berkeringat Tetap Mau Ladeni Wawancara

Namanya sudah sangat populer di sepak bola Indonesia. Tapi, dia tetap tak melupakan para senior.
--
USAI bermain satu babak, Andik Vermansyah mendekati Uston Nawawi. Dia ingin memberikan kesempatan kepada pemain lain yang tergabung dalam klub 81 Sidoarjo bermain.

Tidak ada keinginan baginya memaksa Uston, yang juga legenda hidup Persebaya, kembali memainkannya dalam laga uji coba melawan PSAD Kodam V Brawijaya, Jawa Timur, di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat pagi itu. Dia pun melepas kaos yang dipakai.

Andik pun berbaur dengan orang-orang yang ada di pinggir lapangan. Tak ada kesan bahwa dia merupakan megabintang sepak bola Indonesia saat ini.

Orang-orang yang belum disalaminya pun didekati. Pesepak bola yang terakhir membela klub Malaysia, Selangor, tersebut pun meladeni keinginan PSAD Kodam V untuk mengajaknya berfoto bersama.

Setelah itu, Andik pun duduk di belakang bench selatan. Di sana dia mendatangi mantan pemain yang juga pernah membela Timnas Indonesia Jefri Dwi Hadi.

Baginya, Jefri adalah seniornya di lapangan hijau. Meski, keduanya belum pernah satu tim di kancah sepak bola

Keduanya lama terlibat dalam perbincangan. Mulai dari sepak bola sekarang hingga bagaimana status Andik sekarang.

Saat keduanya berbincang, wartawan JTV Ambari Taufik datang. Dengan keramahannya, dia tetap mau meladeni keinginan wawancara.

''Yang bisa saya jawab saya jawab. Tapi kalau tidak gaka apa apa ya ,'' kata Andik kepada Ambari.

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Saat babak kedua usai, Andik pun ikut berganti kaos polo. Dia menyeka keringatnya.

Namun, dia sempat kebingungan dengan jalan yang akan dilalui. Untung, sahabatnya yang mengajaknya datang ke Stadion Jenggolo, Aulia Ardi, segera keluar dari stadion. Andik yang berboncengan dengan rekannya pun mengikuti Aulia menuju ke utara. (*)


Read More

Andik Vermansyah, Megabintang yang Tetap Rendah Hati (1-Bersambung)

SKILL TINGGI: Andik Vermansyah (tiga dari kanan belakang)

Datang atas Undangan Sahabat saat di Persebaya

Status megabintang tak membuat seorang Andik Vermansyah. Dia tetap memenuhi ajakan rekannya bertanding dalam sebuah laga uji coba.
--
SEBUAH sepeda motor matik masuk di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat pagi. Pengemudinya memakai helm cokelat dan berkacama hitam.

Dia memboncengkan lelaki di belakang. Tidak ada yang aneh pada dirinya.

 Namun, mantan pemain nasional Indonesia, Uston Nawawi, yang tengah duduk di belakang bench mengatakan bahwa pengemudi motor matik itu adalah Andik Vermansyah. Sekilas memang sangat mirip.

 ''Iya itu Andik. Tapi lihat saja benarnya kalau helm dilepas,'' ujar Uston kepada beberapa orang yang di sekitarnya.

 Tak lama berselang, pengemudi itu melepaskan helm. Dugaan Uston tak keliru.

 Memang benar dia adalah Andik. Dia kemudian mendatangi orang-orang yang tengah beristirahat dan mengulurkan tangan.

 Kenapa Andik ada di Stadion Jenggolo? ''Saya diajak Aulia datang ke sini. Katanya diajak gabung dalam uji coba,'' ujar Andik.

 Aulia merupakan sahabat dekat dia. Mereka dekat setelah sama-sama bergabung di Persebaya Surabaya.

 Andik juga mengikuti pemanasan. Sebelumnya, rekan-rekannya  di tim yang dibela, 81, disalaminya satu persatu.

 Oleh Uston, yang kebetulan pelatih 81, dia dipasang sebagai gelandang. Dia ditandemkan dengan Aulia dalam laga melawan PSAD Kodam V Brawijaya tersebut.

 Meski hanya uji coba dan lawan yang dihadapi bukan selevel, Andik tetap bermain serius. Tak ada tawa atau canda darinya selama bermain 45 menit babak I.

 Pemain yang lahir dari kompetisi internal Persebaya tersebut beberapa kali menunjukan aksi individu yang menawan. Bahkan, sebuah umpan matangnya membuat 81 mampu menyamakan kedudukan setelah sempat tertinggal dari lawannya. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com